Sunday, February 24, 2008

obat kuat

GAMBARAN keangkeran gedung wakil rakyat terasa luntur sejak reformasi diusung dan diteriakkan oleh puluhan ribu mahasiswa. Pendudukan Gedung DPR oleh mahasiswa sebagai puncak perjuangan reformasi tahun 1998 lalu menjadi momentum tumbangnya keangkeran gedung itu. Tidak hanya di tingkat pusat, keangkeran gedung itu pun runtuh di tingkat provinsi dan kabupaten.

Runtuhnya keangkeran itu, begitu terasa di Gedung DPRD Jawa Timur. Setiap hari, ratusan "rakyat" datang ke gedung yang terletak di Jalan Indrapura, Surabaya itu. Namun, keterbukaan itu saat ini mulai memunculkan keluhan. Sejumlah anggota DPRD Jatim mulai risi dengan banyaknya orang yang lalu lalang tanpa kepentingan yang terkait dengan lembaga DPRD sebagai penyerap aspirasi rakyat.

Apa pasal? Dalam bulan-bulan terakhir ini, setiap hari, Gedung DPRD Jatim marak oleh aktivitas bisnis yang umumnya dijalankan oleh perempuan berwajah cantik, berpenampilan menarik, dan tentu saja wangi. Mulai dari kredit mobil tanpa agunan, tawaran beragam jenis asuransi, jasa travel, hingga menjual voucher pulsa isi ulang. Tidak hanya itu, belakangan ini, beragam jenis suplemen dan obat kuat pun mulai diperdagangkan di DPRD Jatim.
"Tidak hanya sekali mereka menawarkan beragam jenis obat kuat ke sini yang kadang membuat kami risi. Mana yang menawarkan biasanya cantik-cantik. Terus terang saya merasa terganggu. Lagipula ini kan masalah privasi," kata Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) DPRD Jatim Fathorrasid, Kamis (26/9).

Tidak hanya perkara apa yang ditawarkan yang dipermasalahkan oleh anggota DPRD, tetapi juga cara menawarkan barang dagangannya itu. Pernah suatu kali, ruangan Komisi B (perekonomian) DPRD Jatim didatangi seorang dari sebuah agen travel. "Pakaiannya minim dan tanpa permisi, ia nyelonong saja masuk. Padahal saat itu saya sedang menerima tamu seorang kiai," ucap anggota Komisi B HM Buchori.

Karena makin semrawutnya Gedung DPRD Jatim dengan bebas keluar masuknya orang dengan kepentingan yang tidak ada sangkut-pautnya dengan tugas DPRD menyerap aspirasi rakyat membuat Buchori bersuara lantang, "Semua ini terjadi karena pimpinan DPRD Jatim tidak becus dan tidak tegas dalam menerapkan prosedur yang sudah ada."

Sejumlah anggota DPRD tidak keberatan gedung berhawa sejuk itu ramai didatangi rakyat yang diwakilinya. Namun, prosedur dan kepentingannya harus jelas. "Jangan setiap orang bisa dengan bebas berkeliaran dari satu ruang ke ruang lain untuk menawarkan barang dagangannya," kata Buchori yang merasa sangat terganggu.

Anggota Fraksi Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDI-P) ini tidak membantah bahwa ada anggota DPRD Jatim yang kemudian merespons tawaran para pedagang itu. Namun, apa pun alasannya, hal itu tidak bisa dibenarkan dan tidak bisa dibiarkan terus-menerus. "Pimpinan DPRD Jatim harus mengambil tindakan tegas agar hal ini tidak makin meresahkan," ujarnya.

Meski kecaman yang muncul karena keresahan sudah disuarakan, kenyataannya, jumlah pedagang aneka raga kebutuhan mulai dari kredit mobil hingga obat kuat di DPRD Jatim tidak juga surut. Beberapa dari mereka yang ditanya mengaku pasar di Gedung DPRD cukup potensial dan menjanjikan untuk digarap.

"Semula, saat akan menembus pasar di DPRD kami juga takut. Namun, setelah mencoba menerobos dan mendapat respons bagus, kami beranikan diri untuk mengelola pasar potensial ini," ujar seorang berwajah ayu dan wangi sambil berlalu menuju ruang salah satu fraksi membawa beragam suplemen untuk meningkatkan vitalitas tubuh.

inu

halo polisi

SAPAAN ramah yang selalu diakhiri dengan pertanyaan ini merupakan prosedur standar bagi petugas input data (operator) yang siaga 24 jam setiap hari di Ruang Unit Pelayanan Panggilan Darurat, Gedung Halo Polisi 199, Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Surabaya saat mengangkat gagang telepon yang selalu tidak sempat berdering lama.

SEJAK penggunaan "Halo Polisi 199" di bekas posko operasi Polwiltabes Surabaya diremikan oleh Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur (Jatim) Inspektur Jenderal Sutanto, 27 Agustus 2002, jumlah deringan telepon ke saluran "tiga angka keramat" tersebut terus meningkat. "Setiap hari setidaknya ada sekitar 500 call yang masuk," ujar Kepala Seksi Komunikasi dan Elektronika (Komlek) Polwiltabes Surabaya Ajun Komisaris Syamsul Arief, pekan lalu.

Dari 500 panggilan telepon yang selalu dilayani dengan sapaan sesuai prosedur di atas itu, hanya sekitar 10 persen atau 50 call yang merupakan panggilan darurat (emergency call). Selebihnya adalah panggilan telepon yang hendak menanyakan informasi yang berkaitan dengan kepolisian (70 persen) dan panggilan telepon yang berisi gangguan atau sekadar iseng (20 persen).

DITILIK dari segi jumlah panggilan telepon yang masuk dengan mempertimbangkan hijaunya usia layanan yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia ini memang sudah cukup menggembirakan. Namun, dilihat dari segi tujuan dibukanya layanan "Halo Polisi 199" ini, jumlah itu tidak banyak berbicara.

"Memang kami semua tidak mengharapkan meningkatnya kondisi darurat di masyarakat. Namun, jika semua kondisi darurat yang terjadi di Surabaya dapat dilaporkan oleh masyarakat melalui layanan baru polisi ini, tujuan didirikannya "Halo Polisi 199" baru terwujud," ujar Syamsul.

Untuk memaksimalkan layanan baru yang menurut alumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Sura-baya ini merupakan yang pertama di Indonesia, sosialisasi "Halo Polisi 199" akan dilakukan bersamaan dengan ditingkatkannya kemampuan pelayanan. "Akhir bulan ini kami sudah menyiapkan puluhan spanduk yang akan dipasang di seputar Kota Surabaya agar masyarakat aware dengan keberadaan layanan 199," ujarnya.

Peningkatan kamampuan layanan yang dimaksudnya adalah kemampuan "Halo Polisi 199" dihubungi dari semua operator yang digunakan di telepon seluler. Hingga saat ini, selain melalui telepon biasa, hanya telepon seluler yang menggunakan operator "Kartu Hallo" yang bisa menghubungi layanan ini.

PENILAIAN kesesuaian fungsi dengan kenyataan yang terjadi memang belum bisa dilakukan saat layanan yang merupakan kerja sama antara Polda Jatim dengan PT Telkom Divisi Regional (Divre) V ini masih seumur jagung. Menurut Syamsul, penggagas sekaligus penanggung jawab layanan ini butuh waktu setidaknya tiga bulan untuk melihat kesesuaian itu.

Meskipun demikian, peningkatan layanan yang dimaksudkan untuk mengaktualkan visi Kepolisian RI (Polri) sebagai pelindung, pelayan, dan pengayom ini terus juga ditingkatkan. "Sebagai langkah awal dan bentuk kerja sama kami dengan PT Telkom, kami melakukan pelatihan kepada semua operator saat mengahadapi penelepon yang suasana hatinya berbeda-beda," ujarnya.

Pelatihan yang tampaknya sepele ini ternyata dirasa sangat membantu pelaksanaan tugas operator dalam melakukan input data. "Kami diajari bagaimana merespons laporan warga yang panik, khawatir, ketakutan, dan sedih. Tiap suasana hati butuh penanganan berbeda," ujar Nita, alumnus Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia (ASMI) Surabaya yang bekerja sebagai operator "Halo Polisi 199".

Selain itu, PT Telkom Divre V juga membantu dengan back up data pengguna telepon se-Surabaya, dan 15 saluran private access branch exchange (PABX). "Dalam masa-masa mendatang, kapasitas server "Halo Polisi 199" ini akan kami bantu untuk kami tingkatkan," ujar Kepala PT Telkom Divre V Sumilan, usai bersama-sama Kepala Polda Jatim Inspektur Jenderal Sutanto menandatangani prasasti penggunaan layanan baru ini.

LALU bagaimana setiap panggilan telepon dari seluruh wilayah Kota Surabaya ke tiga nomor keramat 199 direspons polisi? Sejauh ini polisi sudah mampu datang dan merespons panggilan darurat masyarakat dengan jeda waktu sekitar 15-20 menit.

Selama waktu itulah panggilan darurat diproses oleh sekitar 50 petugas yang selalu siap sedia di Gedung Halo Polisi 199. Saat telepon berdering, operator mengangkatnya untuk mengumpulkan data. Nomor telepon pelapor otomatis langsung tercatat pada memori. Saat data sudah terkumpul dan dimasukkan ke dalam jurnal laporan, lokasi kejadian seperti yang dilaporkan langsung menyala di peta elektronik yang terletak di ruang siaga dua.

Di ruang siaga dua itulah analisa lokasi dan penyampaian kepada Kepoilsian Sektor (Polsek) dan Kepolisian Resor (Polres) dilakukan. "Perintah untuk menindaklanjuti laporan masyarakat itu diambil oleh perwira pengendali satuan wilayah.

Saat polisi sampai di lokasi dan menyelesaikan tugasnya, kepada perwira ini pulalah polisi yang mendapat tugas memberikan laporan," ujar Syamsul. Selain ada perwira pengendali satuan wilayah, di depan ruang siaga dua terdapat juga supervisor yang bertugas mengecek kebenaran laporan masyarakat dan menanyakan kembali kepada pelapor mengenai hasil kerja dan pelayanan polisi.

Adanya supervisor ini dimaksudkan untuk mendapatkan masukan dari masyarakat mengenai tingkat kualitas pelayaan polisi. "Masukan dari masyarakat yang meminta layanan polisi ini kami anggap penting, karena tujuan dibukanya layanan baru ini adalah untuk peningkatan pelayanan polisi yang belakangan ini dinilai lamban dan sulit diakses," ujar Syamsul.

Mengenai tidak digratiskannya layanan ini didasari oleh pengalaman sebelumnya saat polisi mengaktifkan penggunaan layanan bebas pulsa 110 dan 112. Di dua nomor bebas pulsa itu, 90 persen telepon yang masuk adalah gangguan atau sekadar iseng sehingga petugas sering enggan dan malas mengangkatnya. Akibatnya seringkali masyarakat yang sungguh membutuhkan pelayanan polisi tidak tertangani dengan baik.

"Penggunaan tarif lokal Rp 200 per tiga menit ini kami maksudkan sekaligus sebagai filter. Kami berharap, masyarakat yang menggunakan layanan ini sungguh-sungguh membutuhkan layanan cepat polisi. Dengan penggunaan tarif ini, kami juga ingin mendidik masyarakat," papar Syamsul.

Penggunaan tarif ini ditempuh juga untuk layanan PT Telkom yang menggunakan saluran 110 dan 112. Untuk "Halo Polisi 199", 25 persen dari pulsa yang masuk disumbangkan oleh PT Telkom Divre V kepada Polwiltabes Surabaya. "Bukan untuk bisnis, 25 persen dari tarif pulsa yang masuk itu kami gunakan untuk menggaji oprator 199 yang berjumlah 10 orang," kata Syamsul.

Tentang penggunaan tiga angka keramat 199 untuk layanan baru polisi ini, Syamsul menuturkan, "Semula, pada tahun 2001, kami ingin menghidupkan halo polisi 166 kerja sama polisi dnegan Telkom tahun 1997. Namun, karena mati dan tidak ada tindak lanjut, kami meminta kepada Dirjen Postel (Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi-Red) untuk menggunakan nomor 911."

Syamsul melanjutkan, "Permintaan kami ditolak lantaran nomor telepon dengan kepala sembilan sudah menjadi hak Ratelindo. Karena sudah senang dengan tiga angka itu, kami balik saja susunannya dan meminta kepada Dirjen Postel nomor telepon 199. Dirasa tidak ada masalah, nomor itu lalu menjadi milik polisi untuk layanan ini."

"Halo Polisi. Dengan Nita. Bisa Dibantu?"

inu

sawunggaling

BERTEMPAT di belakang panggung terbuka Taman Candra Wilwatikta
Pandaan, Pasuruan, Minggu (8/9/2002) malam. Satu jam sebelum pergelaran
sendratari yang mengambil lakon Sawunggaling Gugat, tidak kurang dari
150 pemain sibuk merias, dirias, atau saling merias. Semua seakan
ingin tampil sempurna di malam yang penuh bintang di langit itu.

Bukan saja karena menurut rencana, Gubernur Jawa Timur (Jatim)
Imam Utomo akan datang menyaksikan (meskipun akhirnya rencana ini
hanya tinggal rencana karena gubernur urung datang). Mereka semua
ingin tampil sempurna, terutama karena ini merupakan penampilan
pertama sejumlah pemain yang rata-rata berusia muda.

"Ini panggung saya pertama," ujar Ira (8) yang mengaku sudah.
berdandan sejak sore hari. Siswi kelas III Sekolah Dasar Negeri (SDN)
Ketintang, Surabaya, ini akan tampil sebagai pembuka menarikan tarian
bermain bersama 17 teman seusianya berkostum sama.

Sementara para pemain sendratari yang berasal dari Sanggar Tari
Raff DC, Surabaya, sibuk berdandan dan bersiap-siap untuk tampil ke
panggung, dua pelawak kondang Jatim, Topan dan Leysus, berusaha
mengocok perut penonton yang mulai memadati sekitar 1.000 tempat
duduk yang tersedia.

Oleh karena daya tarik dua pelawak kondang inilah, menjelang
pergelaran sendratari ditampilkan sekitar pukul 21.30, tempat duduk
di depan panggung mulai penuh. Ketika lawakan Topan dan Leysus hampir
berakhir, seluruh pemain sendratari berbaris di belakang panggung
menunggu giliran tampil.

Bersamaan alunan musik tradisional dan tembang cublak-cublak
suweng dari siswa Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, Surabaya,
(SMKI/SMKN9), sendratari Sawunggaling Gugat digelar. "Kami berharap
penampilan ini dapat menjadi awal bangkitnya kembali kesenian
tradisional di Jatim," ujar Sutradara Sawunggaling Gugat Sugeng
Hariyatin (36) yang kemudian bergegas ke arah panggung.

SAWUNGGALING Gugat yang ditampilkan oleh sekitar 100 penari
Sanggar Tari Raff DC dengan dukungan 15 siswa SMKN9 dan 35 pemain
barongsai dari Budi Luhur bercerita tentang upaya pencarian ayah oleh
Sawunggaling yang bermana kecil Joko Berek. Dalam pencarian tersebut,
Sawunggaling justru berhasil menggantikan kedudukan ayahnya sebagai
Bupati Surabaya dan menentang upaya Belanda yang ingin membangun
benteng pertahanan di Surabaya.

Cerita dimulai dengan tampilnya Joko Berek sedang bermain dengan
teman-temannya. Lantaran tidak punya ayah, Joko Berek diolok-olok
teman bermainnya dan kemudian menangis. Ibunya datang menenangkan dan
memberi tahu bahwa ayahnya adalah Bupati Surabaya bernama Jayeng Rono
yang suka sabung ayam. Joko Berek dan ibunya tinggal di Tegal Sari.

Dengan bekal telur, Joko Berek kemudian pergi mencari sang ayah.
Dalam perjalanan, ia dihadang dua harimau yang hendak mengambil telur
yang merupakan bakal ayam jago. "Untuk menambah semarak pergelaran,
saya masukkan barongsai untuk mengusir harimau dan kemudian mengerami
telur yang menetaskan ayam jago menangan. Dalam pakem cerita,
barongsai itu tidak ada," ujar Sugeng.

Upaya memasukkan kesenian barongsai diakui alumnus Sekolah Tinggi
Kesenian Wilwatikta (STKW) ini sebagai upaya kreatif. Menurut dia,
tanpa kreativitas seperti ini kesenian tradisional tinggal menunggu
waktu untuk ditinggalkan penontonnya. "Upaya kreatif kami lakukan
juga dengan mencari variasi tarian baru," ujarnya.

Setelah telur yang dierami naga itu menetas, Sawunggaling
dipertemukan dengan ayahnya lewat sabung ayam. Dari sinilah kisah
Sawunggaling Gugat dimulai. Ia akhirnya menemukan ayahnya yang sudah
meninggal dibunuh Belanda dan berhasil memenangi sayembara untuk
menggantikannya sebagai Bupati Surabaya.

Selama pergelaran, penonton tampak menikmati. Dinginnya angin
malam tidak sedikit pun membuat mereka beranjak. "Tariannya menarik
dan digarap bagus. Selain itu, barongsainya juga menambah bagus
cerita dan pertunjukan," ujar Nani (20) sambil asyik menikmati
sebungkus kacang rebus.

PERGELARAN kolosal yang menghabiskan biaya produksi sekitar Rp 50
juta ini disiapkan secara intensif dengan latihan bersama sebanyak 10
kali. "Selain untuk kostum dan perlengkapan panggung, biaya terbesar
lain untuk konsumsi setiap latihan yang biasanya berlangsung sehari
penuh," papar Sugeng.

Namun, meskipun kadang menjadi kendala, biaya bukan penghalang
utama untuk tetap bertahannya kelompok kesenian tradisional. Menurut
dia, yang lebih penting adalah kreativitas dalam berkarya dan
kepastian jadwal tampil.

inu

kbs

HANYA tulisan tangan dari dedaunan pohon menjalar di tembok belakang akuarium Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang tertinggal. Entah apa maksud tulisan 510, 4-9-02 Sayang yang ditemukan tidak jauh dari penemuan mayat bayi perempuan lengkap dengan ari-arinya terbungkus plastik di bak sampah akuarium tersebut, Kamis (5/9/2002) pagi.

Polisi menduga tulisan yang masih baru ini ada hubungannya dengan si pembuang bayi, namun tidak diketahui jelas maksudnya. Mungkin bermaksud menandai pembuangan bayi malang yang kini sudah tidak bernyawa lagi itu. Penemuan ini sangat mengejutkan petugas KBS, meskipun tidak sampai membuat panik para pengunjung. Ketika siang harinya kompleks akuarium yang sudah dibuka kembali, para pengunjung tampak biasa-biasa saja.

"Akuarium sempat ditutup beberapa jam saja," ujar petugas di areal tersebut. Tali rafia yang semula difungsikan sebagai police line untuk mengisolir lokasi ditemukannya bungkusan plastik berisi mayat bayi itu sudah dicabut.

Darah berwarna pekat yang semula membasahi lantai akuarium yang kusam juga sudah tidak berbekas. Beberapa pengunjung yang terlihat asyik mengamati berbagai jenis ikan laut dan air tawar ketika ditanya apakah tahu kejadian sebelumnya, menggelengkan kepala. Jumlah pengunjung kebun binatang yang dikelola Yayasan Kebun Binatang Surabaya ini juga tidak terlalu terpengaruh.

"Tidak jauh dibanding hari sebelumnya, jumlah pengunjung sampai tengah hari ini mencapai 673 orang," ujar petugas pengadaan karcis KBS, Lina.

MENURUT keterangan beberapa petugas keamanan KBS, mayat bayi perempuan itu ditemukan oleh Samin, petugas areal akuarium sekitar pukul 07.20. Saat hendak membuang sampah, ia curiga dengan bungkusan plastik putih yang penuh bercak merah. Semula Samin mengira bercak itu saos. "Namun, setelah sedikit dibuka ternyata berisi kepala bayi, Samin memanggil dua temannya yang sedang mengecek akuarium, yaitu Parman dan Wakijan.

Setelah itu, satu orang di antara mereka melapor ke pos keamanan di depan," tutur Supardi. Sesaat setelah menerima laporan ditemukannya mayat tersebut, petugas di pos keamanan menghubungi Kepolisian Sektor (Polsek) Wonokromo. Setelah melakukan pemeriksaan dan mengumpulkan beberapa barang bukti, mobil ambulans kemudian membawa mayat bayi perempuan berusia beberapa hari itu ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Sutomo, Surabaya.

Berlalunya ambulans itu seakan membuat "kegemparan" yang menimpa sejumlah warga Surabaya, Kamis pagi, berlalu juga. Selain memeriksa ketiga saksi, polisi juga mengamankan barang bukti lain, yaitu plastik pembungkus mayat, botol air mineral, dan beberapa helai daun yang diduga dipakai untuk menulisi tembok di sisi utara akuarium.

Dari pemeriksaan lapangan dan keterangan yang diperoleh, polisi menduga mayat bayi perempuan itu diletakkan di bak sampah Rabu sore sekitar pukul 17.00, bersamaan dengan akan ditutupnya KBS. "Saat ini kami sedang menunggu hasil visum dari RSUD Dr Sutomo yang akan keluar empat hari mendatang untuk langkah selanjutnya, ujar seorang polisi.

inu

arfa'e

SEDERHANA, ramah, tulus, dan lurus. Kesan itu segera melekat di benak ketika berbincang dengan Haji Arfa'e (75), peraih penghargaan Kalpataru tahun 2001 dari Desa Sokaoneng, Kecamatan Tambak, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim).

Senyumnya selalu mengembang, meski baru usai dari perjalanan dengan kapal laut lebih dari 12 jam dari desanya ke pelabuhan Gresik. Tanpa melepas kaus berkerah yang lusuh dalam perjalanan, ia melapisi pakaiannya dengan kemeja batik. Ujarnya, "Saya memakai batik ini karena akan bertemu dengan Bupati Gresik, Robbach Masum."

Bupati Gresik memberinya sebuah traktor tangan untuk menggarap berhektar-hektar sawah yang berhasil diselamatkannya. Arfa'e sukses menghijaukan kembali Pulau Pasir Putih yang terletak 900 meter di sebelah barat desa tempat tinggalnya.

"Traktor tangan dan cangkul yang sungguh saya butuhkan. Barang itu lebih bermanfaat untuk membantu saya bekerja daripada Kalpataru yang diberikan Ibu Megawati Soekarnoputri di Istana Negara tahun lalu," tutur Arfa'e sambil tetap tersenyum. "Penghargaan Kalpataru itu justru membuat kami sekeluarga repot, berbeban, dan tekor karena banyak pejabat yang datang berkunjung ke rumah atau mengundang kami datang ke tempat mereka."

Arfa'e bahkan lupa pada kategori apa penghargaannya tersebut. Ia hanya tahu bekerja menghijaukan Pantai Pasir Putih dengan ribuan tanaman bakau yang hingga sekarang terus berlangsung. Ia ingin mewujudkan kelestarian lingkungan yang menurut analisa sederhananya berdampak langsung pada penyelamatan penghidupannya dan ratusan petani lain di desanya. Hanya itu yang mendorongnya.

Dibutuhkan waktu panjang sebelum Arfa'e tergerak untuk menghijaukan Pantai Pasir Putih yang hampir musnah tenggelam. Masih segar dalam ingatan bapak sebelas anak ini, sekitar tahun 1950-an, Pantai Pasir Putih masih lebat ditumbuhi hutan bakau dan kaya akan hasil laut. Menjelang akhir tahun 1950, datang para penjarah dari luar pulau membabat habis bakau yang berusia ratusan tahun.

Karena pantai gundul, hantaman gelombang laut yang semula mengikis pesisir, juga menggerus ratusan hektar sawah di Desa Sokaoneng. Dalam beberapa tahun, sawah musnah. Warga desa beralih profesi menjadi nelayan. "Sepuluh tahun saya menjadi nelayan sampai akhirnya kesadaran menghijaukan kembali pantai itu muncul," katanya.

Ia berpikir, setelah pantai dan sawah musnah, tempat tinggalnya pun akan musnah dihantam gelombang. Hal itu hanya soal waktu. Kesadarannya makin membuahkan motivasi untuk bertindak lantaran Naimah, istrinya. "Setiap pulang melaut, istri saya selalu minta menukarkan hasil tangkapan dengan beras," ujarnya.

Ia menuturkan, pada akhir tahun 1967, sambil terus menatap puing-puing pantai yang menyebabkan lenyapnya sawah di desa, ia mengambil suatu ketetapan. Katanya, "Yang kami butuhkan bukan ikan, tetapi beras. Beras bisa dihasilkan jika ada sawah. Sawah tidak musnah seandainya hutan bakau di Pantai Pasir Putih tidak gundul. Karena itu, usai shalat subuh, saya bertekad menghijaukan kembali pantai tersebut dengan menanam pohon bakau."

Atas kesadaran tersebut, bersama istri, kesebelas anaknya, dan beberapa saudara, hari itu juga Arfa'e mulai bekerja mewujudkan tekadnya. Saat air surut, pasir dan karang disusun di sepanjang pantai sebagai pemecah dan penyangga ombak.

Satu per satu pohon bakau ditanam di pulau berjarak sekitar 900 meter dari desa tersebut. Saat air laut pasang, Arfa'e dan keluarganya beristirahat lantaran air laut yang mencapai setinggi dada dapat menghanyutkan mereka. Begitu air laut surut, kerja itu berlanjut, tidak peduli siang atau malam.

Karena dirasa tidak efisien dan sangat tergantung pada pasang surut air laut, Arfa'e membuat jembatan kayu penghubung desanya dengan pantai tersebut. Jembatan dengan panjang satu kilometer, lebar setengah meter, kedalaman sekitar dua meter, dan tinggi satu meter dari permukaan laut itu selesai dikerjakan tujuh tahun kemudian.

"Bersamaan dengan selesainya jembatan, Pulau Pasir Putih juga mulai menghijau. Penanaman bakau makin intensif setelah jembatan kayu tersebut selesai," paparnya.

Bersamaan dengan itu, ratusan hektar sawah yang semula musnah, perlahan-lahan dapat diselamatkan. Arfa'e dan sejumlah warga Desa Sokaoneng mulai kembali bertani. Di samping bertani, Arfa'e tetap tekun mewujudkan tekadnya melestarikan lingkungan alam Pulau Pasir Putih seperti yang kental diingatnya ketika menginjak dewasa.

"Menanam bakau itu tidak mudah, butuh ketekunan dan kemauan untuk terus menjaganya supaya dapat tumbuh berkembang," ungkapnya.

Menurut Arfa'e, minggu-minggu awal penanaman bakau adalah saat yang sangat rentan. Pada saat bibit bakau mulai bercabang, di sekitarnya akan tumbuh lumut yang paling disenangi udang.

"Nelayan pencari udang yang tidak berpikir panjang akan asal menyerok, sehingga bibit-bibit bakau yang mulai tumbuh tercabut dan akhirnya mati. Mencegah itu, selain memberi peringatan, saya sendiri mengawasi tanaman tersebut siang dan malam," ujarnya.

Selain perlu diawasi, sampah berupa ranting atau tali yang tersangkut di sekitar tanaman bakau juga harus disiangi.

Semua ini ia lakukan karena kesadarannya yang hingga sekarang masih melekat kuat. Katanya, "Saya tidak mau mengalami kembali masa-masa sulit lantaran lenyapnya ratusan hektar sawah seperti puluhan tahun lalu karena gundulnya pulau tersebut."

KARENA ketekunan yang dilandasi tekad kuat tersebut, Arfa'e yang berdarah Madura dan sejak usia tujuh bulan sudah menetap di Pulau Bawean bersama orangtuanya, kini hidup nyaman bersama seorang istri dan enam dari sebelas anaknya (tiga meninggal dunia, dua merantau ke Malaysia) di lingkungan alam Pulau Bawean yang ramah.

Enam anaknya itu adalah Abdul Manaf, Suhuri, Mohammad, Rukia, Rasul, dan Fatahan. Dua anaknya yang merantau ke Malaysia adalah Adenia dan Mukim. Tiga anaknya yang sudah meninggal dunia adalah Masrupi, Junit, dan anak kedelapan yang meninggal ketika masih bayi belum sempat diberi nama. Karena banyak, Arfa'e sempat kagok ketika diminta menyebutkan satu per satu nama anaknya.

"Kini ikan-ikan kembali berdatangan. Karena airnya jernih dan pasirnya putih, dengan mudah dan jelas kelak-kelok ikan terlihat dari permukaan laut. Setiap akhir pekan, turis asing dari Malaysia dan Singapura senang datang berwisata ke sekitar pulau yang sekarang kembali menghijau tersebut," ujar kakek dari 45 cucu dan satu cicit ini.

Karena dasarnya ramah, kedatangan para turis yang mulai mengenal keindahan Pulau Bawean sejak tahun 1980-an ini membuat dia dan anggota keluarganya kerepotan dalam menjamu mereka. Maka Arfa'e menanam ratusan pohon kelapa dan berpesan kepada anak-anaknya untuk hanya memetik buahnya bagi para tamu dan tidak boleh dijual.

"Hanya itu yang bisa kami berikan selain terus menjaga kelestarian alam Pulau Bawean," ungkapnya.

Dengan cangkul, tekadnya untuk memperluas areal hutan bakau yang saat ini sudah mencapai 350 hektar akan makin terwujud lantaran puluhan ribu bibit bakau sudah tersedia dan siap ditanam.

inu

jigsaw

UNTUK yang sangat berhobi, mungkin akan sangat mengasyikkan. Memilah-milah ribuan keping kertas berukuran hampir sama, memadu-padankan ribuan keping kertas berbentuk, bermotif, dan berwarna serupa itu di atas sebuah alas hingga tersusun bentuk seperti model yang ada.

NAMUN, untuk yang tidak terlalu berhobi, jangankan memilah-milah lalu memadupadankannya, melihat ribuan keping kertas berserakan saja sudah membuat kepala pusing. "Karena itu, setelah sekian lama mencoba dan tidak juga tersusun bentuk seperti yang diharapkan, banyak yang menyerah dan datang ke sini untuk minta disusunkan sesuai dengan model gambar yang ada," ujar Jojo (24).

Pemuda asal Semarang, Jawa Tengah (Jateng), yang menekuni pekerjaan sambilan sebagai penyusun jigsaw puzzle ini menuturkan, memang tidak mudah untuk dapat menyusun ribuan keping kertas berukuran sekitar satu centimeter persegi dengan saling mengkaitkannya. Selain ketekunan dan kesabaran, seorang yang sudah berniat menyusun ribuan keping jigsaw puzzle harus segera mengusir perasaan putus asa yang tiba-tiba muncul.

"Ingin belajar ketelatenan dan kesabaran, menyusun ribuan keping kertas berukuran hampir sama ini adalah sarananya," katanya sambil terus asyik memadupadankan satu gugus jigsaw puzzle seri Museum Vatikan pesanan seorang dari Surabaya, di Gerai Hobbies, Tunjungan Plasa, Surabaya. Pesanan yang dikerjakannya sejak dua minggu terakhir itu sudah sekitar 40 persen tersusun.

Jigsaw puzzle yang menampilkan adikarya Leonardo da Vinci yang diimpor dari Jepang itu termasuk kategori sulit karena jumlahnya lebih dari 5.000 keping yang tercampur-baur dalam kardus tanpa dipisah berdasarkan gugus-gusus tertentu. Untuk model seperti ini, tahap pertama yang harus dilakukan adalah memilah ribuan keping jigsaw puzzle tersebut menurut warna, bentuk, dan motifnya.

Setelah terpilah, akan lebih membantu jika penyusunan dilakukan mulai dari tepi karena bentuk kepingannya berbeda. Setelah bagian tepi yang sekaligus berfungsi sebagai pembatas tersebut tersusun, mulailah memadu-padankan gugus kepingan jigsaw puzzle yang warnannya kontras. "Untuk pemula, tips semacam ini penting agar mereka tidak lekas putus asa pada awal penyusunan," jelas Jojo.

TERDAPAT berbagai jenis jigsaw puzzle dengan beragam tingkat kesulitan. Di gerai khusus jigsaw puzzle, satu-satunya di Jawa Timur (Jatim) yang setiap hari ditungguinya, setidaknya ada enam jenis jigsaw puzzle, yaitu jenis standar, hologram, metalik, milenium, glow in the dark, dan tiga dimensi. Tingkat kesulitan tiap jenis bergantung pada jumlah kepingannya. Makin banyak jumlah kepingannya, makin tinggi tingkat kesulitannya.

"Kami memiliki koleksi edisi khusus The Last Supper dengan jumlah kepingan 10.292 untuk satu bentuk. Jika selesai disusun, ukurannya mencapai 147 x 216 centimeter. Seperti koleksi ini, untuk jumlah kepingan besar, umumnya merupakan bentuk atau gambar-gambar klasik karya seniman kelas dunia seperti Leonardo da Vinci dan Piere Auguste Renoir," ujar Jojo yang pernah menyusun satu jigsaw puzzle berjumlah lebih dari 13.000 keping.

Namun, untuk jumlah kepingan tersebut, penyusunannya justru lebih mudah jika dibandingakan dengan jumlah kepingan di bawahnya, yaitu 5.000 keping. Ini bisa terjadi karena untuk jumlah kepingan di atas 5.000, setiap bagian sudah dipisahkan berdasarkan gugus per 2.000 keping. "Untuk yang 5.000, kepingannya campur-baur jadi satu dan harus dipisah-pisahkan terlebih dahulu," katanya.

Dari semua produsen jigsaw puzzle, terdapat dua negara produsen yang produknya sangat terkenal dan digemari, yaitu Clementoni dari Italia dan Kagaya dari Jepang. Namun, dari kedua produsen yang sama-sama mengeluarkan karya-karya klasik seniman kelas dunia tersebut, produk Jepang lebih banyak digemari karena mutunya lebih baik. "Warnanya lebih berkilau dan akan lebih berkilau lagi setelah diolesi gel yang terdapat dalam paket tersebut," papar Jojo.

Selain itu, produk Jepang ini juga memberikan kartu garansi jika beberapa keping jigsaw puzzle yang telah dibeli dan hendak disusun hilang. Sementara produk Italia, selain tidak memberikan kartu garansi, lemnya adalah serbuk yang harus dicampur air panas terlebih dahulu. Kalau pencampuran serbuknya tidak merata, hasil akhirnya kurang optimal.

Selain produk serial karya klasik seniman kelas dunia, cukup banyak juga jigsaw puzzle serial Disney World. Jenis ini lebih banyak digemari anak-anak dan remaja karena karakter tokoh yang dijadikan model cukup dikenal seperti Donald Duck dan Mickey Mouse. Penyusunannya juga lebih mudah lantaran warnanya kontras dan ukuran potongan tiap kepingnya lebih besar.

"Anak usia tiga tahun pun bisa dilatih ketelitian dan ketekunannya dengan serial Disney yang sederhana ini," ujar Jojo sambil menunjukkan karya seorang anak yang terdiri dari 1.000 keping jigsaw puzzle bergambar Donald Duck untuk dibingkai yang diselesaikan hanya dalam empat hari.

MESKIPUN akan lebih puas jika mampu menyusun ribuan keping jigsaw puzzle sendiri, namun untuk para pemula memang tidak akan mudah mengerjakannya sendiri. Karena itu, setelah dibeli dengan harga jutaan rupiah per paket, jika mengalami kesulitan dalam penyusunan, gerai yang merupakan cabang gerai serupa di Jakarta ini menerima pekerjaan menyelesaikan penyusunan jigsaw puzzle.

Untuk ongkos penyusunannya pun beragam, tergantung jumlah kepingnya. Untuk jumlah kurang dari 950 keping, ongkosnya Rp Rp 80.000. Sedangkan untuk paket berisi lebih dari 10.000 keping, ongkosnya mencapai Rp 1.250.000. "Lumayan untuk tambahan sekaligus mengisi waktu kosong saat menjaga gerai yang tidak selalu ramai pengunjung," ujar Jojo yang mungkin adalah satu-satunya pemuda di Jatim yang menekuni pekerjaan sebagai penyusun jigsaw puzzle.

Karena hobi juga? "Bukan. Pekerjaan sampingan ini saya tekuni untuk mengisi waktu selama menjaga gerai. Tetapi, karena hampir setiap hari bergulat dengan ribuan keping jigsaw puzzle tersebut, lama-kelamaan pekerjaan sampingan ini jadi semacam hobi yang menyenangkan juga," tutur pemuda yang mengaku hanya lulusan sekolah menengah atas di Semarang ini.

inu

nunukan

MATAHARI belum menunjukkan tanda-tanda akan bersinar di ufuk timur. Namun, ratusan bahkan ribuan orang yang umumnya berusia muda sudah berdiri atau sekadar duduk-duduk di sepanjang jalan utama di Pulau Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur (Kaltim) Kamis (1/8) dini hari.

Tidak ada yang mereka kerjakan di sepanjang jalan tersebut. Tatapan mereka kosong. Tidak ada pula emosi dalam percakapan yang sesekali mereka lakukan. Semua terdengar lemah dan datar. Saat ada yang mencoba memecahkan suasana dengan melucu, respon yang diharapkan sama sekali tidak muncul.

Menjelang Matahari terbit, aktivitas baru mulai terlihat. Kerumuman orang di sepanjang jalan yang semua adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) ilegal tersebut mulai berpencar. Dua tempat utama menjadi tujuan mereka yaitu Kantor Imigrasi dan Kantor PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Nunukan.

Di Kantor Imigrasi Jalan Tien Soeharto, Nunukan, kepadatan TKI ilegal yang berupaya mendapatkan legalitas dengan terbitnya paspor merupakan pemandangan sehari-hari. Namun, di Kantor PT Pelni, kepadatan dan antrean panjang orang membeli tiket kapal baru terlihat hari itu.

"Saya ingin pulang saja ke kampung karena takut dengan paeng (denda-Red), hukuman penjara, dan pukulan rotan. Polis Malaysia akhir-akhir ini galak dan kejam terhadap kami," ujar Sahrul (28) saat antre tiket kelas ekonomi Kapal Motor (KM) Tidar di halaman Kantor PT Pelni. Pemuda Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini bertekad pulang karena majikan perkebunan kelapa sawit tempatnya bekerja tidak mau memberi jaminan baginya untuk mengurus paspor.

Alasan serupa diungkapkan ribuan TKI ilegal lain karena mulai diberlakukannya Undang-Undang (UU) Keimigrasian Malaysia yang baru, Akta Imigresen Nomor 1154 Tahun 2002 yang mulai berlaku sejak 1 Agustus 2002. Berdasarkan UU tersebut, pekerja ilegal dan orang yang mempekerjakan mereka akan dijatuhi hukuman penjara maksimum enam bulan dan hukuman cambuk maksimum enam kali.

Saat terik Matahari mulai terasa menyengat dan bersamaan dengan habis terjualnya seluruh tiket yang jumlahnya lebih dari 3.000 di Kantor PT Pelni, jalan menuju Terminal Penumpang Tunontaka, Nunukan dipadati ribuan orang pemegang tiket yang ummnya perempuan dan anak-anak.

Dengan barang bawaan berbagai ukuran yang diangkut dengan menyewa gerobak, ribuan orang yang baru terusir dari negeri jiran ini berduyun-duyun menjemput kedatangan KM Tidar yang akan membawa mereka ke Pelabuhan Nusantara Kota Pare-pare, Sulawesi Selatan (Sulsel). Menurut jadwal, KM Tidar yang datang setiap kamis dua minggu sekali ini akan meninggalkan Nunukan pukul 12.30 dan tiba di Pare-pare, Sabtu (3/8) malam.

Begitu KM Tidar yang berbobot mati 13.888 ton tampak dari kejauhan sekitar pukul 10.30, ribuan calon penumpang yang semula duduk di sekitar barang bawaanya berdiri. Setelah kapal buatan pabrik kapal Meyer Werft Jerman Barat ini sandar, lebih dari tiga ribu orang yang menunggu berjam-jam ini berlarian memadati jalan menuju kapal selebar empat meter dengan panjang sekitar 500 meter.

LEWAT dua tangga yang disiapkan, pekerja berebut naik ke atas kapal. Mereka yang cepat dan kuat lalu mendapat tempat. Mereka yang kalah cepat dan umumnya perempuan yang menggendong dan menggandeng anak-anak memanfaatkan setiap ruang yang tersisa di luar dek. "Di dalam dek tidak ada tempat lagi, terpaksa kami di sini saja," ujar Lina (35) bersama dua anaknya Risna (15 bulan) dan Fitri (4) di dek lima luar.

Seperti ratusan penumpang lain yang tidak mendapat tempat, untuk menghalau angin dan melindungi kedua anaknya dari terik matahari, kardus bawaan berisi pakaian dan peralatan dapur disusun berkeliling. Tikar dan dua selendang digelar untuk alas tidur. Abd Azis bin Sangkala (27) suaminya tidak menyertai kepulangannya karena memiliki paspor dan tidak diizinkan majikan untuk cuti.

"Kami bertiga terpaksa pulang ke kampung di Bulukumba karena takut ancaman polisi Malaysia yang akan menangkap kami yang tiada berpaspor," papar Lina sambil mencarikan obat demam di kotak obat yang dibawa sejak dari Malaysia untuk Risna. Karena tidak bisa mengantar, suaminya menitipkan mereka ke yayasan untuk mengurus kepulangan ke Bulukumba.

"Sebetulnya kami masih lelah dan ingin beristirahat di Nunukan lebih lama sebelum melanjutkan perjalanan ke Bulukumba. Namun, karena di Nunukan air bersih dan penginapan yang layak susah didapat dan membuat kami makin terlantar, kami memutuskan berangkat secepatnya. Lebih cepat sampai di kampung lebih baik," ujar Lina bersamaan dengan pengumuman anak buah kapal (ABK) bahwa pukul 13.00 kapal yang 80 persen penumpangnya TKI ilegal asal Malaysia akan berangkat.

Sementara KM Tidar yang dinahkodai Kapten Kapal Widadi mulai meinggalkan Nunukan, lebih dari tiga ribu TKI ilegal asal Sabah, Malaysia Timur di empat dek kelas ekonomi yaitu dek dua, tiga, empat, dan separuh dek lima berbenah dengan mengatur posisi duduk dan tidur. Selain dek ekonomi, dalam kapal disediakan dua dek untuk kelas satu, dua, dan tiga yang kondisinya kontras karena lebih separuh tidak terisi lantaran harganya tidak terjangkau.

Meskipun jumlah penumpang melebihi kapasitas kapal yang hanya 2.049 orang, menurut Markonis (penanggung jawab keselamatan jiwa di laut) KM Tidar Muryono, kelebihan jumlah penumpang untuk kondisi darurat seperti ini masih dapat ditoleransi karena perlengkapan keselamatan yang tersedia 5.000 unit atau kurang lebih setara dengan penumpang yang saat ini berada di dalam kapal. Dari ribuan penumpang tersebut, hanya 12 penumpang yang tidak membeli tiket ketika razia dilakukan.

Oleh karena kepadatan ini, setiap ruang kosong seperti di bawah tangga dan di seputar delapan dek luar penuh dijejali manusia dengan barang bawaan. Untuk berjalan, orang akan kesulitan. Pendingin ruangan yang sebelum tiba di Nunukan masih terasa sejuk, sesaat setelah meninggalkan Nunukan tidak lagi terasa. Di dalam dek menjadi lebih panas karena saat kapal sandar di Tarakan, sekitar 1.500 penumpang menambah padat kapal.

Tidak kuat dengan siksaan panas yang makin terasa menjelang malam, kaum pria melepas kaus dan kemeja yang dikenakan. Aroma tidak sedap pun merebak. Untuk menenangkan sejumlah balita yang jumlahnya lebih dari seribu, para ibu lalu membuat ayunan darurat dengan selendang yang digantung di rak tempat barang bawaan.

"Sudah biasa kami begini. Lagi pula hanya tiga hari saja. Ini pun masih lebih baik dibanding saat kami ditampung di Nunukan," ujar Rusman (24). Sopir perkebunan ini hendak pulang ke Bugis menitipkan istri dan anaknya ke rumah orang tuanya. Begitu sampai di Bugis, ia akan mengurus paspor untuk kembali pada majikannya di Sabah.

Karena kondisi yang tidak sehat ini, menurut catatan di poliklinik di dek tujuh, sedikitnya 18 pasien yang melapor sakit. Umumnya mereka menderita radang tenggorokan, diare, pusing-pusing, dan demam. Dari 18 pasien tersebut, tujuh di antaranya balita dan dua lanjut usia. "Umumnya mereka kelelahan dan kondisi kurang mendukung," ujar Sunarko, mantri yang bertugas.

Sementara sebagian besar penumpang kapal terlelap tidur di setiap ruang kosong di dek ekonomi dan di luar setiap dek dalam ketidaknyamanan, sejumlah anak muda yang umumnya laki-laki dan mengaku sulit tidur karena tidak ada tempat dan kepenatan pikiran memanfaatkan aneka hiburan yang ditawarkan di dalam kapal selepas pukul makan malam yang harus diambil dengan mantre di dek empat.

Selain karaoke dan cafe dengan life music di dek enam dekat dengan penumpang kelas satu, dua, dan tiga, ada juga pemutaran film di mini teater di dek dua. Dengan aneka jenis film biru (blue film) yang diputar dalam video compact disc (vcd) player dan dipancarkan dengan proyektor ke layar berukuran sekitar empat meter persegi, kepenatan mereka sejenak terusir.

Hingga pemutaran film terakhir dengan judul "Surrander" pukul 23.30, teater mini berkapasitas 120 tempat duduk dengan harga tiket Rp 10.000 tersebut tetap penuh terisi. Beberapa perempuan yang tidak tahu dan terlanjur membeli tiket, langsung keluar sambil bersungut-sunggut setelah sepuluh menit film diputar.

"Kami sudah pasang sampul VCD-nya di tempat pemesanan tiket. Kalau mereka jeli, sejak awal harusnya mereka tidak membeli tiket," ujar Aryo (36), penjaga tiket berkelit. Dengan senapan, seorang polisi berjaga di pintu masuk mini teater tersebut hingga pemutaran film berakhir sekitar pukul 01.00 dini hari.

MENYIASATI panas, kepenatan, dan makin tidak teraturnya kondisi tiap dek seperti terlihat keesokan harinya, selain membuatkan susu dalam botol, para ibu yang berangkat bersama anaknya menggantungkan selendang di langit-langit dek membuat ayunan. Sambil menahan kantuk, mereka yang umumnya pulang ke kampung masing-masing tanpa suami mengoyangkan ayunan tersebut.

Selain seperti Lina, yang pulang sendiri karena suaminya tidak mendapat izin mengantar dengan alasan pekerjaan, banyak para isteri yang hanya diantar suami sampai Pulau Nunukan. Di pulau tersebut, suami mereka lantas mengurus paspor dengan jaminan yang diberikan majikan. Karena hanya suami yang mendapatkan jaminan membuat paspor, untuk menghindari ancaman hukuman para suami memulangkan isteri dan akan-anak mereka.

"Sekarang suami saya sedang mengurus paspor yang baru selesai seminggu lagi. Nanti setelah dia kembali ke Malaysia, saya disuruh menyusul sekitar bulan sembilan," ujar Nurhati (27) penuh harap. Sementara perempuan yang sudah belasan tahun tinggal di Malaysia ini berharap, Pelabuhan Balikpapan mulai tampak dari kejauhan.

Berpisah dengan suami dalam ketidakpastian dan dihantui ketakutan seperti dialami hampir semua perempuan yang diantar pulang dengan KM Tidar menuju kampung masing-masing, dirasa menyakitkan. Selain isteri, anak-anak mereka merasakan hal yang sama.

Untuk mengurangi rasa sakit tersebut, Lina sengaja membawa empat foto suaminya untuk ditunjukkan kepada Fitri, anak pertamanya yang sering menanyakan kenapa ayahnya tidak ikut. Setiap pertanyaan itu muncul, foto yang ditaruh di dalam tas genggam selalu ditunjukkan kepada anaknya sambil menenangkannya dengan berbohong bahwa ayahnya nanti akan segera menyusul.

"Saat Fitri menanyakan ayahnya, ingin nangis rasanya. Seperti dicerai dan terusir rasanya...." tutur Lina yang kemudian matanya memerah dan berkaca-kaca. Sambil menarik nafas panjang, perempuan yang masuk Malaysia sejak tahun 1993 menatap perjalanan panjang menuju Bulukumba yang masih harus ditempuh 12 jam perjalanan darat selepas tiba di Pare-pare.

inu