WARGA Tenggulun yang mengenal Amrozi, pelaku peledakan bom di Bali, menyebut namanya Rozi. Begitu juga Ustad Zakaria, pengasuh Pondok Pesantren Al-Islam, yang berlokasi tak sampai seratus meter dari rumah Amrozi.
"Benar Rozi itu bisa membetulkan mesin sepeda motor, juga bisa menservis handphone, tapi saya tidak yakin dia sampai bisa membuat bom. Saya cukup kenal dia, saya juga mengenal daya pikirnya," ujar Ustad Zakaria. Gambaran Amrozi di pemberitaan media televisi saat bertemu dengan Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar meruntuhkan gambaran seram yang sempat tertanam di benak orang. Pria jebolan SLTP itu sama sekali tidak terlihat sebagai pembantai 186 orang.
Amrozi anak keenam dari delapan bersaudara pasangan Nurhasyim (Bapak) dan Tarmiyem. Tujuh saudara kandungnya adalah Alimah, Afiah, Khozin, Ja'far Sodik, Ali Gufron, Amin Jabir (almarhum), dan Ali Imron. Selain tujuh saudara kandung, Amrozi memiliki lima saudara tiri, dari pernikahan ayahnya dengan Tarmiah. Kelimanya adalah Tafsir, Tasrifah, Sumiah, Naimah, dan Ali Fauzi.
Sebenarnya Khozin salah satu sosok terpenting dalam keluarga besar ini. Sebab Khozin-lah yang mewujudkan harapan keluarga ini mendirikan kembali Pondok Pesantren keluarga tahun 1993. Dulu, kakek dari Khozin kabarnya terpandang di masyarakat karena pernah memimpin sebuah pondok pesantren besar dan terkenal. Namun, entah karena alasan apa, pondok pesantren zaman kakek ini bubar. Lalu, Khozin mewujudkannya kembali.
Namun, lantaran tak satu pun dari anggota keluarga yang berlatar belakang pendidikan pondok pesantren, lantas Khozin meminta bantuan Ustad Zakaria, alumni Pondok Pesantren Ngruki untuk memimpin dan mengelola. Tentu saja pola pendidikan model Ngruki yang diterapkan di Al-Islam, Tenggulun. Begitu pun kuliah umum bagi santri diberikan oleh Ustad Abu Bakar Ba'asyir, yang sebagaimana lazimnya masyarakat pedesaan, lantas menjadi sumber panutan dan rujukan bagi para santri dan keluarga santri di Tenggulun. Nah Amrozi, adik Khozin, yang dikenal mbeling (nakal) dan juga bukan lulusan pesantren ini besar di tengah-tengah situasi ini.
Dari ke-13 saudara itu, yang aktif di Pondok Pesantren Al-Islam yang didirikan tahun 1993 di desa itu adalah Khozin dan Ja'far Sodik (keduanya pendiri) serta Ali Imron (adik kandung Rozi, pengajar di Al-Islam)) dan Ali Fauzi (saudara seayah lain ibu, pengajar juga). Amrozi tidak cukup aktif, menurut penuturan warga setempat.
Oleh beberapa tetangganya, Gufron yang tinggal cukup lama di Malaysia disebut-sebut juga sering ke pesantren itu sejak datang dari Malaysia tahun 2001. Namun, Gufron, yang kini juga dicari polisi tidak lagi menampakkan batang hidungnya. "Terakhir saya melihatnya dia di sini empat bulan lalu," ujar Maftuhin, warga di depan rumah Amrozi.
Berbeda dengan lima saudaranya yang aktif terlibat di pesantren, Amrozi tidak memiliki tempat khusus di dalamnya. "Amrozi bukan santri, bukan alumnus, bukan pengurus atau pengajar di sini. Dia juga bukan lulusan pondok pesantren mana pun," papar Zakaria.
Dalam pandangan ustad lulusan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Jawa Tengah tahun 1992 ini, penghayatan Amrozi mengenai Islam, tidak istimewa. Menurut Zakaria, patokannya sangat sederhana, Amrozi tidak pernah hadir shalat berjamaah saat subuh dan isya. Untuk waktu shalat lain, ia pun sering terlambat. "Dia lebih sering ke sini untuk mengajak saya makan sate di sebuah warung sate enak di Brondong dengan menumpang sedan miliknya," ungkap Zakaria.
Penghayatan Islam yang dinilai tanggung itu pun masih lebih baik dibanding sebelumnya, ketika Amrozi dikenal sebagai pemuda yang mbeling. "Perubahan terlihat setelah Amrozi pulang dari Malaysia tahun 1990-an. Ia tampak lebih beriman saat itu," papar Maftuhin.
Sementara di benak para santri yang beberapa kali bertemu dengan Amrozi, sosok pemuda berambut hitam lurus itu adalah sosok pemuda gaul. "Orangnya keren dan gaul. Sering kalau Shalat Dhuhur di pondok, ia mengenakan celana hawai. Di kalangan santri putri dia juga dikenal karena ganteng. Dia sering dijuluki mirip Duta, anggota pemusik Sheila On Seven, atau Alam, penyanyi Mbah Dukun," kata Amin (16), santri Al Islam sambil tersenyum.
MENGENAI keahlian Amrozi sebagai tukang di bengkel sepeda motor teruji sudah. Nama bengkelnya: "Jilbab Motor Plus". Di desa yang sinyal telepon genggam sangat susah ditangkap ini, Amrozi juga dikenal pandai memodifikasi antena pada handphone agar bisa dioperasikan di sana. Ia juga pengemar kendaraan modifikasi.
Tidak ada yang tahu persis dari mana keahlian Amrozi mengenai mesin kendaraan dan bongkar antena handphone itu didapat. "Yang saya dengar, Amrozi mengaku pernah mengikuti semacam kursus teknik di Surabaya," kata Zakaria.
Dengan sosok itulah, pengakuan Amrozi bahwa ia terlibat peledakan bom di Bali membuat mereka kaget. Pembeberan polisi soal kronologi dan bukti-bukti yang didapat, membuat mereka terguncang. "Getaran guncangan itu belum hilang hingga sekarang. Yang paling terguncang adalah istrinya, Khoiriyanah Khususiati atau biasa dipanggil Susi," kata Khozin.
Susi adalah istri ketiga bagi Amrozi. Ketika dinikahi Susi adalah janda dengan satu anak. Dari Susi, Amrozi mendapat satu anak. Dari dua perkawinannya sebelumnya, Amrozi dikarunia dua anak kandung dan satu anak tiri. Istri keduanya juga seorang janda beranak satu. Mengenai ketiga istrinya ini, tidak banyak orang yang tahu, sehingga polisi pun kebingungan mencari tempat tinggalnya.
Dilihat dari latar belakang keluarga, Amrozi termasuk keluarga terpandang di desanya. Nurhasyim ayahnya, yang saat ini hanya bisa terbaring lantaran stroke adalah mantan sekretaris desa (carik) puluhan tahun. Kakeknya seorang kiai pemimpin pesantren di desa yang sangat terpandang dengan jumlah santri banyak.
Dalam perjalanan waktu, kejayaan keluarga besar Amrozi surut tanpa alasan yang jelas. Satu-satunya harapan yaitu Ja'far Sodik yang menjadi carik beberapa tahun pun dilengserkan oleh pembantu bupati Lamongan karena desakan warga desa tahun 1996. "Ja'far Sodik tersandung Pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan dipenjara dua bulan," ujar seorang staf Kecamatan Solokuro.
Lantaran oleh mayoritas penduduk desa Amrozi dan keluarganya kurang "diterima" karena aliran Islam yang dihayati keluarga ini sedikit berbeda, dimotori Khozin dan Ja'far, dirintislah pendirian Al Islam. "Waktu itu Haji Khozin datang ke Ngruki untuk minta tenaga pengajar. Karena saya sedang ada di Glagah, Lamongan, Ustad Farid Ma'ruf (pemimpin Ngruki saat itu-Red) meminta saya membantu Haji Khozin mendirikan pesantren," papar Zakaria.
Di Pondok Pesantren Al-Islam yang memiliki 150 santri ini, Amrozi sering bertandang untuk shalat berjamaah saat berada di rumah yang jaraknya sekitar 500 meter dari pesantren itu.
Jadi, dari mereka yang sering bertemu dan berbincang dengan Amrozi, kesan yang membekas mengenai pemuda Desa Tenggulun ini tidak lebih dari pemuda gaul yang suka makan sate. Artinya, jauh dari pengakuan Amrozi, terlibat dalam peledakan bom Bali, seolah-olah dia seorang agen penyusup berdisiplin tinggi yang bisa mengorganisasi atau terlibat dalam sebuah organisasi kejahatan.
inu dan ody
Monday, February 25, 2008
tenggulun iii
TENGGULUN pasti bukan termasuk bagian dari strategi persaingan media. Namun, kesunyian desa yang kering dan gersang di tengah musim kemarau ini pecah, ketika sepekan terakhir puluhan wartawan berbagai media massa berdatangan, berburu berita ke sana.
Mereka datang ke Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kira-kira 40 km utara Kota Lamongan, setelah polisi menginformasikan bahwa di desa inilah tempat asal Amrozi, tersangka tragedi peledakan bom di Kuta, Bali.
Para wartawan berebut mendapat berita utamanya, tidak hanya dari lokasi Pondok Pesantren Al Islam, tempat Amrozi sering datang shalat berjamaah. Sejumlah orang lain yang disebut-sebut terlibat adalah pengurus Pondok Pesantren Al Islam yang sampai sekarang belum jelas keberadaannya. Rumah-rumah mereka kemudian jadi ajang pengintaian wartawan dan tentu polisi.
Desa yang sejauh mata memandang hanya menampakkan lahan kering ini mendadak mendapat liputan luas, sekaligus menjadi arena bertarung wartawan dalam rangka persaingan media. Terisolirnya Tenggulun membuat sejumlah media tampil all out menunjukkan seluruh piranti pendukungnya.
Di desa seluas 3,53 kilometer persegi dan berpenduduk 2.174 jiwa yang terkelompok dalam 628 keluarga ini, semua awak media massa berupaya menjadi yang pertama. Pertama tahu, pertama meliput, dan pertama memberitakannya kepada konsumennya. Eksklusif kalau bisa!
Akibatnya, kejar-mengejar informasi awal pun terjadi. Setiap informasi sekecil apa pun menjadi berharga. Begitu ada informasi si Anu akan ditangkap atau rumah si Una akan digeledah, puluhan wartawan yang dahaga untuk menjadi yang pertama kemudian memburunya. Dalam sepekan terakhir, desa yang sunyi ini menjadi gaduh karena deru kendaraan berkejaran. Aspal jalan desa yang mulai mengelupas makin parah kondisinya.
Lantaran kencangnya iklim persaingan antarmedia ini, upaya saling mengecoh awak media lain pun dilakukan. Demi "mengamankan" peristiwa yang lebih besar, "pendatang baru" dikecoh dan disesatkan. Diinformasikan ada kejadian di suatu tempat, padahal tidak ada apa-apa di tempat itu. Informasi dan disinformasi datang silih berganti di sebuah desa yang masih berada di zaman agraris ini.
TIDAK main-main. Stasiun televisi Metro TV misalnya, sampai menerjunkan tiga tim ke Tenggulun. Stasiun televisi berita ini menggelar sistem siaran satelitnya, yang disebut para krunya Satellite News Gathering. Betapa uniknya menyaksikan antena satelit di atas atap mobil itu dan bagaimana cekatannya para kru berseragam biru itu bekerja, di tengah-tengah tatapan mata para santri bersarung dan berkopiah. "Seluruhnya ada 20-an personel yang diterjunkan ke sini," kisah salah satu pekerjanya.
Sebuah tim stasiun televisi diberitakan mendapat surat peringatan keras dari bosnya di Jakarta, karena gagal mendapatkan adegan penggerebekan polisi di hutan Dadapan, tempat diduga komplotan Amrozi menyimpan senjata-senjata senapan mesin di sejumlah pipa paralon yang ditimbun dalam tanah. Kru stasiun ini bekerja dengan keseriusan penuh mengejar-ngejar informasi di penjuru Tenggulun.
Tak kalah serunya adalah aksi wartawan dotcom dan radio. Di Tenggulun sinyal ponsel amat lemah diterima. Telkomsel dan Pro-XL mendapat sinyal hanya sebesar "dua strip" di layar telepon genggam. Tidak sekali dua tampak pemandangan wartawan radio mengacungkan handphone-nya ke udara, untuk mendapat perolehan sinyal yang baik, sambil ditumpangkan ke arah tape recorder (alat perekam).
Radio Elshinta menerjunkan dua awaknya yang semula bekerja di Surabaya. Mereka membangun base camp di rumah kepala desa Drs Maskun. Di rumah kepala desa ini pula puluhan anggota reserse yang berasal dari Bali, Polda Jatim, dan Polres Lamongan juga menginap. Para wartawan yang menginap di rumah kepala desa, selain mengintip kerja sesama rivalnya, juga mengamati gerak-gerik para polisi ini.
Sebuah stasiun televisi diisukan "membeli" informasi dari aparat yang berwenang. Ini karena setiap kali aparat "bergerak", para awak stasiun ini yang kepergok senantiasa menemani. Informasi awal senantiasa diperoleh awak stasiun ini. Bahkan, kabarnya, keberangkatan Ustad Zakaria ke Bali, sesungguhnya bukan oleh kerja polisi, melainkan karena "diantar" awak stasiun. Stasiun televisi ini kemudian membantah.
Namun akibatnya, di Tenggulun, rombongan wartawan TV dan media cetak senantiasa mengincar awak stasiun televisi yang berperangai "memonopoli" informasi tersebut. Begitu mobilnya bergerak ke sebuah tempat dengan segera para awak TV dan media cetak lain mengejar.
Tidak jarang "gerakan" ini hanya sebuah aksi kecoh, setelah berputar-putar di jalan desa yang tak besar ini. Intaimengintai berhenti. Jalan desa dibuat berdebu oleh saling kejar enam-tujuh kendaraan, seperti Kijang, Panther, dan Taft jika saling berebut informasi ini sedang berlangsung.
Akhirnya, belajar dari iklim yang ada di lapangan dan kesamaan setiap kejadian besar di Tenggulun, seperti penangkapan seseorang, penggeledahan rumah, dan penemuan sesuatu barang bukti yang selalu melibatkan kepala desa dan kepolisian sektor (polsek), wartawan pun membuka pos tidak resmi.
Selain di Pondok Pesantren Al Islam yang menjadi center stage upaya polisi mengungkap keterlibatan Amrozi dalam kasus peledakan bom Bali, pos wartawan terpusat di dua tempat yaitu rumah Kepala Desa Tenggulun dan Kantor Polsek Solokuro.
Di ketiga tempat itu, kendaraan wartawan diparkir dalam keadaan siaga. Setiap gerak-gerik polisi atau kepala desa menjadi perhatian dan siap diikuti kemana pun pergi. Polisi yang mungkin merasa risih terus-menerus dikuntit wartawan tak kehabisan akal. Mereka pun tak jarang mengecoh wartawan, menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi yang membuat wartawan buru-buru mengejar, namun ternyata mereka kemudian membelokkan mobil ke warung makan.
Meski media dalam negeri menerjunkan tim dengan kekuatan penuh, ternyata media asing seperti Los Angeles Times, Washington Post, Sidney Morning Herald, TIME, NHK, atau CNN terjun dengan sebuah tim sederhana berawak satu sampai tiga orang sudah termasuk penerjemah. Mereka memang menggali informasi, tapi seringkali tampak lebih asyik memotret gambaran kegiatan penduduk Tenggulun dengan segala keluguannya. Begitulah awak media itu sibuk bersaing.
inu dan ody
Mereka datang ke Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kira-kira 40 km utara Kota Lamongan, setelah polisi menginformasikan bahwa di desa inilah tempat asal Amrozi, tersangka tragedi peledakan bom di Kuta, Bali.
Para wartawan berebut mendapat berita utamanya, tidak hanya dari lokasi Pondok Pesantren Al Islam, tempat Amrozi sering datang shalat berjamaah. Sejumlah orang lain yang disebut-sebut terlibat adalah pengurus Pondok Pesantren Al Islam yang sampai sekarang belum jelas keberadaannya. Rumah-rumah mereka kemudian jadi ajang pengintaian wartawan dan tentu polisi.
Desa yang sejauh mata memandang hanya menampakkan lahan kering ini mendadak mendapat liputan luas, sekaligus menjadi arena bertarung wartawan dalam rangka persaingan media. Terisolirnya Tenggulun membuat sejumlah media tampil all out menunjukkan seluruh piranti pendukungnya.
Di desa seluas 3,53 kilometer persegi dan berpenduduk 2.174 jiwa yang terkelompok dalam 628 keluarga ini, semua awak media massa berupaya menjadi yang pertama. Pertama tahu, pertama meliput, dan pertama memberitakannya kepada konsumennya. Eksklusif kalau bisa!
Akibatnya, kejar-mengejar informasi awal pun terjadi. Setiap informasi sekecil apa pun menjadi berharga. Begitu ada informasi si Anu akan ditangkap atau rumah si Una akan digeledah, puluhan wartawan yang dahaga untuk menjadi yang pertama kemudian memburunya. Dalam sepekan terakhir, desa yang sunyi ini menjadi gaduh karena deru kendaraan berkejaran. Aspal jalan desa yang mulai mengelupas makin parah kondisinya.
Lantaran kencangnya iklim persaingan antarmedia ini, upaya saling mengecoh awak media lain pun dilakukan. Demi "mengamankan" peristiwa yang lebih besar, "pendatang baru" dikecoh dan disesatkan. Diinformasikan ada kejadian di suatu tempat, padahal tidak ada apa-apa di tempat itu. Informasi dan disinformasi datang silih berganti di sebuah desa yang masih berada di zaman agraris ini.
TIDAK main-main. Stasiun televisi Metro TV misalnya, sampai menerjunkan tiga tim ke Tenggulun. Stasiun televisi berita ini menggelar sistem siaran satelitnya, yang disebut para krunya Satellite News Gathering. Betapa uniknya menyaksikan antena satelit di atas atap mobil itu dan bagaimana cekatannya para kru berseragam biru itu bekerja, di tengah-tengah tatapan mata para santri bersarung dan berkopiah. "Seluruhnya ada 20-an personel yang diterjunkan ke sini," kisah salah satu pekerjanya.
Sebuah tim stasiun televisi diberitakan mendapat surat peringatan keras dari bosnya di Jakarta, karena gagal mendapatkan adegan penggerebekan polisi di hutan Dadapan, tempat diduga komplotan Amrozi menyimpan senjata-senjata senapan mesin di sejumlah pipa paralon yang ditimbun dalam tanah. Kru stasiun ini bekerja dengan keseriusan penuh mengejar-ngejar informasi di penjuru Tenggulun.
Tak kalah serunya adalah aksi wartawan dotcom dan radio. Di Tenggulun sinyal ponsel amat lemah diterima. Telkomsel dan Pro-XL mendapat sinyal hanya sebesar "dua strip" di layar telepon genggam. Tidak sekali dua tampak pemandangan wartawan radio mengacungkan handphone-nya ke udara, untuk mendapat perolehan sinyal yang baik, sambil ditumpangkan ke arah tape recorder (alat perekam).
Radio Elshinta menerjunkan dua awaknya yang semula bekerja di Surabaya. Mereka membangun base camp di rumah kepala desa Drs Maskun. Di rumah kepala desa ini pula puluhan anggota reserse yang berasal dari Bali, Polda Jatim, dan Polres Lamongan juga menginap. Para wartawan yang menginap di rumah kepala desa, selain mengintip kerja sesama rivalnya, juga mengamati gerak-gerik para polisi ini.
Sebuah stasiun televisi diisukan "membeli" informasi dari aparat yang berwenang. Ini karena setiap kali aparat "bergerak", para awak stasiun ini yang kepergok senantiasa menemani. Informasi awal senantiasa diperoleh awak stasiun ini. Bahkan, kabarnya, keberangkatan Ustad Zakaria ke Bali, sesungguhnya bukan oleh kerja polisi, melainkan karena "diantar" awak stasiun. Stasiun televisi ini kemudian membantah.
Namun akibatnya, di Tenggulun, rombongan wartawan TV dan media cetak senantiasa mengincar awak stasiun televisi yang berperangai "memonopoli" informasi tersebut. Begitu mobilnya bergerak ke sebuah tempat dengan segera para awak TV dan media cetak lain mengejar.
Tidak jarang "gerakan" ini hanya sebuah aksi kecoh, setelah berputar-putar di jalan desa yang tak besar ini. Intaimengintai berhenti. Jalan desa dibuat berdebu oleh saling kejar enam-tujuh kendaraan, seperti Kijang, Panther, dan Taft jika saling berebut informasi ini sedang berlangsung.
Akhirnya, belajar dari iklim yang ada di lapangan dan kesamaan setiap kejadian besar di Tenggulun, seperti penangkapan seseorang, penggeledahan rumah, dan penemuan sesuatu barang bukti yang selalu melibatkan kepala desa dan kepolisian sektor (polsek), wartawan pun membuka pos tidak resmi.
Selain di Pondok Pesantren Al Islam yang menjadi center stage upaya polisi mengungkap keterlibatan Amrozi dalam kasus peledakan bom Bali, pos wartawan terpusat di dua tempat yaitu rumah Kepala Desa Tenggulun dan Kantor Polsek Solokuro.
Di ketiga tempat itu, kendaraan wartawan diparkir dalam keadaan siaga. Setiap gerak-gerik polisi atau kepala desa menjadi perhatian dan siap diikuti kemana pun pergi. Polisi yang mungkin merasa risih terus-menerus dikuntit wartawan tak kehabisan akal. Mereka pun tak jarang mengecoh wartawan, menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi yang membuat wartawan buru-buru mengejar, namun ternyata mereka kemudian membelokkan mobil ke warung makan.
Meski media dalam negeri menerjunkan tim dengan kekuatan penuh, ternyata media asing seperti Los Angeles Times, Washington Post, Sidney Morning Herald, TIME, NHK, atau CNN terjun dengan sebuah tim sederhana berawak satu sampai tiga orang sudah termasuk penerjemah. Mereka memang menggali informasi, tapi seringkali tampak lebih asyik memotret gambaran kegiatan penduduk Tenggulun dengan segala keluguannya. Begitulah awak media itu sibuk bersaing.
inu dan ody
Sunday, February 24, 2008
tenggulun ii
TENGGULUN. Selain identik dengan pemudanya yang mencari ladang kedua di Malaysia, desa berpenduduk sekitar 2.600 jiwa di Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, yang akhir-akhir ini meroket namanya lantaran Amrozi, itu identik juga dengan Kiai Sinori.
Menurut cerita penduduk setempat, Kiai Sinori adalah "pembabat alas" yang memperkenalkan warga Desa Tenggulun dengan ajaran Islam. Sekitar awal abad ke-19, kiai asal Madura ini datang ke desa itu untuk bertapa.
"Tujuan utamanya ke sini untuk menyebarkan agama Islam di desa ini," ujar Kepala Desa Tenggulun Drs Maskun. Setelah menyebarkan agama Islam selama empat tahun, pada usia 21 tahun, kiai yang gemar memelihara burung perkutut ini meninggal dunia. Kiai yang banyak berjasa kepada warga desa itu dimakamkan di belakang Masjid Baitul Muttaqin yang terletak sekitar 300 meter dari rumah Amrozi. Terdapat cungkup untuk menghormati jasa-jasanya kepada warga desa.
Sinori adalah nama julukan yang diberikan warga kepada kiai yang datang ke Tenggulun pada usia 17 tahun ini. "Sinori itu artinya yang memberi sinar terang melalui penyebaran agama Islam yang dilakukannya," tutur Maskun.
Selain memberi sinar terang kepada warga, kiai yang dikenal memiliki "ilmu" ini dianggap berjasa karena menemukan sumber air di desa yang gersang itu. Sumber air yang terletak 30 meter dari makamnya itu tak pernah surut meski kemarau panjang tiba.
Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, desa ini kemudian diberi nama Tenggulun. Tenggulun adalah nama pohon yang terletak di dekat sumber air yang ditemukannya. "Di pohon tenggulun itulah, Kiai Sinori sering mengerek burung perkutut kesayangannya," ujar Maskun.
SEPENINGGAL Kiai Sinori, salah satu muridnya, Kiai Sulaiman, melanjutkan pekerjaan Kiai Sinori di Tenggulun. Pada masa kiai ini, yaitu sekitar tahun 1911, Tenggulun memasuki masa keemasan. "Banyak warga desa sekitar yang datang berguru ke sini. Rakyat tenteram, desa makmur, dan agama Islam menyebar luas," papar Maskun.
Namun, kejayaan Kiai Sulaiman tidak mampu dilanjutkan oleh anak-anaknya, yaitu Romli, Masriah, dan Ridwan. "Dua anak pertama meninggal pada usia muda, sementara Ridwan tidak punya santri. Ia tidak mampu merawat peninggalan ayahnya. Yang dirawat hanya harta," ungkap Maskun. Cukup
lama kosong karena tidak ada tokoh panutan desa, muncul KH Yunus yang berasal dari luar desa. Pada masa KH Yunus, banyak santri yang berguru padanya. Banyak santrinya yang kemudian menjadi kiai dan menyebar ke desa-desa lain.
Meskipun berhasil, perjuangan kiai yang masuk Tenggulun sekitar tahun 1922 ini patah lantaran tak satu pun dari kelima anaknya yang melanjutkan perjuangannya. Meminta datangnya tokoh baru, warga sering berziarah ke makam Kiai Sinori.
Beberapa tahun kemudian muncul Kiai Abdul Gani dari Desa Kranji, Lamongan. Ia menjadi tokoh di Tenggulun karena kawin dengan gadis desa itu. Pada masa kepemimpinannya, Islam pesat berkembang. "Masa kejayaannya ditandai dengan banyaknya santri yang datang berguru. Ini berlangsung selama sekitar 20 tahun," papar Maskun.
Tradisi kepemimpinan tokoh Islam di Desa Tenggulun terhenti setelah Kiai Abdul Gani. Tidak jelas apa penyebabnya. Namun, bersamaan dengan tidak adanya tokoh panutan ini, sekitar awal tahun 1980, banyak pemuda desa berbondong-bondong pergi ke Malaysia mencari ladang kedua karena tandusnya ladang di desa.
Beberapa saudara Amrozi pergi juga ke Malaysia. Salah satu dari saudaranya yang pergi ke Malaysia adalah Gufron yang sejak awal dinilai keras dalam memegang prinsip-prinsip agama.
MENURUT seorang staf Kecamatan Solokuro, sekitar tahun 1987, ada kejadian yang mencengangkan penduduk desa yang mayoritas adalah Nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama-Red) ini. Pada tahun itu, makam Kiai Sinori, sesepuh desa yang sering diziarahi warga, dibakar oleh anggota keluarga Amrozi dengan alasan musrik.
"Waktu itu, mayoritas warga marah dan melaporkan kejadian ini ke DPRD Lamongan karena menilai ziarah makam adalah hal yang biasa. DPRD Lamongan turun tangan dan kemudian mendamaikan ketegangan yang muncul," papar staf kecamatan yang enggan disebut namanya ini.
Karena kejadian ini dan mungkin merasa terpojok, dalam tahun-tahun berikutnya, beberapa saudara Amrozi meninggalkan desa ke Malaysia, termasuk Amrozi sendiri. "Saya ketemu Amrozi di Ampang Tasik, Malaysia, sekitar tahun 1992. Walau mengaku mencari kerja, saya tak pernah jumpa dia pergi kerja," ujar Marsodin, warga Tenggulun.
Sementara Gufron dan Amrozi pergi ke Malaysia, saudaranya yang berada di desa "berjuang" dengan mengidam-idamkan sebuah pondok pesantren. Khozin, kakak Amrozi, merintis dengan mengajar membaca Al Quran pada akhir tahun 1980.
Khozin kemudian mengontak sepupunya yang sedang belajar di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Jawa Tengah, yaitu Zaifuddin Zuhri. Khozin lalu mengajukan permohonan minta pengajar ke Ngruki dan ditanggapi dengan ditunjuknya Ustad Muhammad Zakaria yang sedang berada di Glagah, Lamongan.
Tahun 1993, Pondok Pesantren Al Islam didirikan Khozin, Ja'far Sodik (kakak tertua Amrozi), Saifuddin Zuhri, dan Muhammad Zakaria. "Khozin sendiri yang datang ke Ngruki untuk minta ustad dan saya yang ditunjuk memimpin pesantrennya," ujar Zakaria (32), alumnus Ngruki tahun 1992.
Dalam masa perkembangan ini, awal tahun 1996, Ja'far Sodik yang ketika itu menjadi Sekretaris Desa (carik) Tenggulun tersandung Pasal 372 KUHP tentang penggelapan. Oleh Pengadilan Negeri Lamongan, Ja'far divonis dua bulan kurungan.
Tahun 1997, Amrozi pulang ke desa dari Malaysia. "Saat pulang, Amrozi berubah. Ia kelihatan lebih beriman. Juga saudara-saudara lainnya. Amrozi, Gufron, dan beberapa teman yang dibawanya sering ke Al Islam. Kegiatan saudara dan teman Amrozi di desa hanya antara rumah dan pesantren saja," ujar Maftuhin, tetangga depan rumah Amrozi.
inu
Menurut cerita penduduk setempat, Kiai Sinori adalah "pembabat alas" yang memperkenalkan warga Desa Tenggulun dengan ajaran Islam. Sekitar awal abad ke-19, kiai asal Madura ini datang ke desa itu untuk bertapa.
"Tujuan utamanya ke sini untuk menyebarkan agama Islam di desa ini," ujar Kepala Desa Tenggulun Drs Maskun. Setelah menyebarkan agama Islam selama empat tahun, pada usia 21 tahun, kiai yang gemar memelihara burung perkutut ini meninggal dunia. Kiai yang banyak berjasa kepada warga desa itu dimakamkan di belakang Masjid Baitul Muttaqin yang terletak sekitar 300 meter dari rumah Amrozi. Terdapat cungkup untuk menghormati jasa-jasanya kepada warga desa.
Sinori adalah nama julukan yang diberikan warga kepada kiai yang datang ke Tenggulun pada usia 17 tahun ini. "Sinori itu artinya yang memberi sinar terang melalui penyebaran agama Islam yang dilakukannya," tutur Maskun.
Selain memberi sinar terang kepada warga, kiai yang dikenal memiliki "ilmu" ini dianggap berjasa karena menemukan sumber air di desa yang gersang itu. Sumber air yang terletak 30 meter dari makamnya itu tak pernah surut meski kemarau panjang tiba.
Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, desa ini kemudian diberi nama Tenggulun. Tenggulun adalah nama pohon yang terletak di dekat sumber air yang ditemukannya. "Di pohon tenggulun itulah, Kiai Sinori sering mengerek burung perkutut kesayangannya," ujar Maskun.
SEPENINGGAL Kiai Sinori, salah satu muridnya, Kiai Sulaiman, melanjutkan pekerjaan Kiai Sinori di Tenggulun. Pada masa kiai ini, yaitu sekitar tahun 1911, Tenggulun memasuki masa keemasan. "Banyak warga desa sekitar yang datang berguru ke sini. Rakyat tenteram, desa makmur, dan agama Islam menyebar luas," papar Maskun.
Namun, kejayaan Kiai Sulaiman tidak mampu dilanjutkan oleh anak-anaknya, yaitu Romli, Masriah, dan Ridwan. "Dua anak pertama meninggal pada usia muda, sementara Ridwan tidak punya santri. Ia tidak mampu merawat peninggalan ayahnya. Yang dirawat hanya harta," ungkap Maskun. Cukup
lama kosong karena tidak ada tokoh panutan desa, muncul KH Yunus yang berasal dari luar desa. Pada masa KH Yunus, banyak santri yang berguru padanya. Banyak santrinya yang kemudian menjadi kiai dan menyebar ke desa-desa lain.
Meskipun berhasil, perjuangan kiai yang masuk Tenggulun sekitar tahun 1922 ini patah lantaran tak satu pun dari kelima anaknya yang melanjutkan perjuangannya. Meminta datangnya tokoh baru, warga sering berziarah ke makam Kiai Sinori.
Beberapa tahun kemudian muncul Kiai Abdul Gani dari Desa Kranji, Lamongan. Ia menjadi tokoh di Tenggulun karena kawin dengan gadis desa itu. Pada masa kepemimpinannya, Islam pesat berkembang. "Masa kejayaannya ditandai dengan banyaknya santri yang datang berguru. Ini berlangsung selama sekitar 20 tahun," papar Maskun.
Tradisi kepemimpinan tokoh Islam di Desa Tenggulun terhenti setelah Kiai Abdul Gani. Tidak jelas apa penyebabnya. Namun, bersamaan dengan tidak adanya tokoh panutan ini, sekitar awal tahun 1980, banyak pemuda desa berbondong-bondong pergi ke Malaysia mencari ladang kedua karena tandusnya ladang di desa.
Beberapa saudara Amrozi pergi juga ke Malaysia. Salah satu dari saudaranya yang pergi ke Malaysia adalah Gufron yang sejak awal dinilai keras dalam memegang prinsip-prinsip agama.
MENURUT seorang staf Kecamatan Solokuro, sekitar tahun 1987, ada kejadian yang mencengangkan penduduk desa yang mayoritas adalah Nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama-Red) ini. Pada tahun itu, makam Kiai Sinori, sesepuh desa yang sering diziarahi warga, dibakar oleh anggota keluarga Amrozi dengan alasan musrik.
"Waktu itu, mayoritas warga marah dan melaporkan kejadian ini ke DPRD Lamongan karena menilai ziarah makam adalah hal yang biasa. DPRD Lamongan turun tangan dan kemudian mendamaikan ketegangan yang muncul," papar staf kecamatan yang enggan disebut namanya ini.
Karena kejadian ini dan mungkin merasa terpojok, dalam tahun-tahun berikutnya, beberapa saudara Amrozi meninggalkan desa ke Malaysia, termasuk Amrozi sendiri. "Saya ketemu Amrozi di Ampang Tasik, Malaysia, sekitar tahun 1992. Walau mengaku mencari kerja, saya tak pernah jumpa dia pergi kerja," ujar Marsodin, warga Tenggulun.
Sementara Gufron dan Amrozi pergi ke Malaysia, saudaranya yang berada di desa "berjuang" dengan mengidam-idamkan sebuah pondok pesantren. Khozin, kakak Amrozi, merintis dengan mengajar membaca Al Quran pada akhir tahun 1980.
Khozin kemudian mengontak sepupunya yang sedang belajar di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Jawa Tengah, yaitu Zaifuddin Zuhri. Khozin lalu mengajukan permohonan minta pengajar ke Ngruki dan ditanggapi dengan ditunjuknya Ustad Muhammad Zakaria yang sedang berada di Glagah, Lamongan.
Tahun 1993, Pondok Pesantren Al Islam didirikan Khozin, Ja'far Sodik (kakak tertua Amrozi), Saifuddin Zuhri, dan Muhammad Zakaria. "Khozin sendiri yang datang ke Ngruki untuk minta ustad dan saya yang ditunjuk memimpin pesantrennya," ujar Zakaria (32), alumnus Ngruki tahun 1992.
Dalam masa perkembangan ini, awal tahun 1996, Ja'far Sodik yang ketika itu menjadi Sekretaris Desa (carik) Tenggulun tersandung Pasal 372 KUHP tentang penggelapan. Oleh Pengadilan Negeri Lamongan, Ja'far divonis dua bulan kurungan.
Tahun 1997, Amrozi pulang ke desa dari Malaysia. "Saat pulang, Amrozi berubah. Ia kelihatan lebih beriman. Juga saudara-saudara lainnya. Amrozi, Gufron, dan beberapa teman yang dibawanya sering ke Al Islam. Kegiatan saudara dan teman Amrozi di desa hanya antara rumah dan pesantren saja," ujar Maftuhin, tetangga depan rumah Amrozi.
inu
tenggulun
TENGGULUN. Sebelumnya hampir tidak pernah terdengar namanya, lantaran satu dari 10 desa di Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, ini terpencil dan tertinggal. Saat melintasi jalan sepanjang delapan kilometer menuju desa ini dari jalan kabupaten yang penuh dengan hiasan ranting kering pepohonan karena kemarau, bayangan mengenai ketertinggalan itu mendapatkan pembenarannya.
Namun, begitu memasuki kawasan perumahan penduduk, bayangan tentang ketertinggalan desa yang sepekan terakhir begitu populer karena penangkapan Amrozi segera sirna. Meskipun terpencil dan terkucilkan oleh hamparan luas ladang tadah hujan yang mengering karena kemarau, hampir semua simbol kemajuan dan modernitas dimiliki sebagian besar penduduk desa yang berjumlah sekitar 2.600 jiwa ini.
"Meskipun jalan masuknya sangat jauh dan menimbulkan kesan terpencil dan terasing, kami tidak pernah merasa tertinggal. Hampir semua warga desa di sini memiliki televisi," ujar seorang warga bangga. Selain itu, simbol modernitas lain seperti handphone tampak ditenteng oleh beberapa pemuda desa.
MELIHAT kondisi alam desa ini, hampir mustahil keterpencilan dan ketertinggalan desa ini dapat diatasi. Jika hanya mengandalkan hasil pertanian dan ladang, ketertinggalan dan keterpencilan dipastikan akan terus melekat. "Setahun, kami hanya panen tiga kali. Dua kali panen padi dan sekali panen jagung atau kedelai dengan hasil yang tidak selalu bagus," ujar Sodik (49).
Lalu, dari mana warga desa ini berhasil lepas dari belenggu ketertinggalan menuju kemakmuran? "Lebih dari 20 persen warga desa pergi ke Malaysia untuk kerja bangunan. Jika dihitung-hitung, hasilnya bisa lebih dari enam kali kerja tani," ujar Kepala Desa Tenggulun Drs Maskun.
Menurut data yang dimilikinya, saat ini, terdapat 643 warga Desa Tenggulun yang mencari kerja di Malaysia. Dengan total keluarga hanya 426 keluarga, di setiap rumah, pasti ada satu atau dua anggota keluarga yang bekerja di negeri jiran tersebut. "Mereka yang pergi bekerja ke Malaysia inilah yang membuat desa jauh dari kesan terpencil dan tertinggal," papar Maskun, yang menjadi kepala desa sejak tahun 1989.
Maskun memberi contoh, untuk mengaspal jalan desa sepanjang sekitar enam kilometer, seluruh dana didapat dari warga yang pergi ke Malaysia. Karena semua keluarga ada anggotanya yang bekerja di Malaysia, setiap keluarga dimintai bantuan antara Rp 200.000 hingga Rp 1 juta. "Terkumpul lebih dari Rp 300 juta untuk mengaspal jalan desa pada tahun 1999," ujarnya.
Karena mudahnya mendapatkan ringgit di negeri jiran itu, tidak sedikit warga Desa Tenggulun yang kemudian terus berbondong-bondong ke Malaysia untuk mengubah nasib. Hal ini mulai berlangsung sejak tahun 1980 hingga sekarang.
"Saya pergi ke Malaysia untuk cari kerja di sana tahun 1982. Sekarang saya ke sini karena puasa dan akan segera pulang kembali ke Malaysia karena banyak kerja di sana," ujar Marsodin (45), seorang warga Tenggulun.
Marsodin mengatakan, "pulang kembali ke Malaysia" karena secara kewarganegaraan, ia, istri, dan putra-putrinya tercatat sebagai warga negara Malaysia. "Sejak tahun 1984, saya sudah mendapat IC (Identity Card/Kartu Penduduk Malaysia-Red). Saya pulang untuk menengok kampung dan membangun rumah untuk hari tua," ujarnya sambil duduk mengamati bangunan rumah dua lantai yang baru dibangunnya.
Apa yang dilakukan Marsodin dilakukan juga oleh sejumlah warga desa lain. Karena sebagian besar dari mereka yang tinggal dan bekerja di Malaysia memiliki IC, mereka dengan mudah meninggalkan Malaysia dan kemudian datang lagi. "Mereka yang punya IC, sluman-slumun datang dan pergi-Red) dari desa ini," tutur Maskun.
NAMUN begitu, tidak mudah untuk mendapatkan IC Malaysia apalagi dalam tahun-tahun terakhir ini. "Persyaratannya makin diperketat," ujar Maskun.
Salah satu teman sekolahnya di sekolah dasar di Lamongan, yaitu Gufron (39), yang saat ini menjadi buronan Tim Investigasi, telah mengubah nama. "Saya ketemu Gufron sedang berdakwah di Malaysia tahun 1988 bersama seorang temannya dari Desa Dadapan. Saat itu, namanya sudah berubah bukan lagi Gufron seperti yang saya kenal saat sekolah dasar," ujarnya, yang mengaku tidak ingat nama baru Gufron ketika berada di Malaysia.
Gufron, yang sudah berubah nama itu, kepada Marsodin mengaku tinggal di Pondok Pesantren Al Arqam, Johor, Malaysia. Selain bertemu Gufron, Marsodin mengaku beberapa kali bertemu dengan Amrozi di Ampang Tasik, Kuala Lumpur, Malaysia, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari tempatnya tinggal.
Mengenai perginya Gufron dan Amrozi ke Malaysia ini dibenarkan oleh H Khozin, saudara kandungnya yang menjadi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al Islam di Desa Tenggulun. Dari Malaysia yang menjadi ladang kedua warga Desa Tenggulun, pondok pesantren yang diangan-angankannya sejak tahun 1989 itu mendapat dana sehingga berdiri tahun 1993 dan terus berkembang hingga muncul kasus peledakan bom yang mengaitkan Amrozi dengan pondok pesantren dengan santri sekitar 150 remaja itu.
inu
Namun, begitu memasuki kawasan perumahan penduduk, bayangan tentang ketertinggalan desa yang sepekan terakhir begitu populer karena penangkapan Amrozi segera sirna. Meskipun terpencil dan terkucilkan oleh hamparan luas ladang tadah hujan yang mengering karena kemarau, hampir semua simbol kemajuan dan modernitas dimiliki sebagian besar penduduk desa yang berjumlah sekitar 2.600 jiwa ini.
"Meskipun jalan masuknya sangat jauh dan menimbulkan kesan terpencil dan terasing, kami tidak pernah merasa tertinggal. Hampir semua warga desa di sini memiliki televisi," ujar seorang warga bangga. Selain itu, simbol modernitas lain seperti handphone tampak ditenteng oleh beberapa pemuda desa.
MELIHAT kondisi alam desa ini, hampir mustahil keterpencilan dan ketertinggalan desa ini dapat diatasi. Jika hanya mengandalkan hasil pertanian dan ladang, ketertinggalan dan keterpencilan dipastikan akan terus melekat. "Setahun, kami hanya panen tiga kali. Dua kali panen padi dan sekali panen jagung atau kedelai dengan hasil yang tidak selalu bagus," ujar Sodik (49).
Lalu, dari mana warga desa ini berhasil lepas dari belenggu ketertinggalan menuju kemakmuran? "Lebih dari 20 persen warga desa pergi ke Malaysia untuk kerja bangunan. Jika dihitung-hitung, hasilnya bisa lebih dari enam kali kerja tani," ujar Kepala Desa Tenggulun Drs Maskun.
Menurut data yang dimilikinya, saat ini, terdapat 643 warga Desa Tenggulun yang mencari kerja di Malaysia. Dengan total keluarga hanya 426 keluarga, di setiap rumah, pasti ada satu atau dua anggota keluarga yang bekerja di negeri jiran tersebut. "Mereka yang pergi bekerja ke Malaysia inilah yang membuat desa jauh dari kesan terpencil dan tertinggal," papar Maskun, yang menjadi kepala desa sejak tahun 1989.
Maskun memberi contoh, untuk mengaspal jalan desa sepanjang sekitar enam kilometer, seluruh dana didapat dari warga yang pergi ke Malaysia. Karena semua keluarga ada anggotanya yang bekerja di Malaysia, setiap keluarga dimintai bantuan antara Rp 200.000 hingga Rp 1 juta. "Terkumpul lebih dari Rp 300 juta untuk mengaspal jalan desa pada tahun 1999," ujarnya.
Karena mudahnya mendapatkan ringgit di negeri jiran itu, tidak sedikit warga Desa Tenggulun yang kemudian terus berbondong-bondong ke Malaysia untuk mengubah nasib. Hal ini mulai berlangsung sejak tahun 1980 hingga sekarang.
"Saya pergi ke Malaysia untuk cari kerja di sana tahun 1982. Sekarang saya ke sini karena puasa dan akan segera pulang kembali ke Malaysia karena banyak kerja di sana," ujar Marsodin (45), seorang warga Tenggulun.
Marsodin mengatakan, "pulang kembali ke Malaysia" karena secara kewarganegaraan, ia, istri, dan putra-putrinya tercatat sebagai warga negara Malaysia. "Sejak tahun 1984, saya sudah mendapat IC (Identity Card/Kartu Penduduk Malaysia-Red). Saya pulang untuk menengok kampung dan membangun rumah untuk hari tua," ujarnya sambil duduk mengamati bangunan rumah dua lantai yang baru dibangunnya.
Apa yang dilakukan Marsodin dilakukan juga oleh sejumlah warga desa lain. Karena sebagian besar dari mereka yang tinggal dan bekerja di Malaysia memiliki IC, mereka dengan mudah meninggalkan Malaysia dan kemudian datang lagi. "Mereka yang punya IC, sluman-slumun datang dan pergi-Red) dari desa ini," tutur Maskun.
NAMUN begitu, tidak mudah untuk mendapatkan IC Malaysia apalagi dalam tahun-tahun terakhir ini. "Persyaratannya makin diperketat," ujar Maskun.
Salah satu teman sekolahnya di sekolah dasar di Lamongan, yaitu Gufron (39), yang saat ini menjadi buronan Tim Investigasi, telah mengubah nama. "Saya ketemu Gufron sedang berdakwah di Malaysia tahun 1988 bersama seorang temannya dari Desa Dadapan. Saat itu, namanya sudah berubah bukan lagi Gufron seperti yang saya kenal saat sekolah dasar," ujarnya, yang mengaku tidak ingat nama baru Gufron ketika berada di Malaysia.
Gufron, yang sudah berubah nama itu, kepada Marsodin mengaku tinggal di Pondok Pesantren Al Arqam, Johor, Malaysia. Selain bertemu Gufron, Marsodin mengaku beberapa kali bertemu dengan Amrozi di Ampang Tasik, Kuala Lumpur, Malaysia, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari tempatnya tinggal.
Mengenai perginya Gufron dan Amrozi ke Malaysia ini dibenarkan oleh H Khozin, saudara kandungnya yang menjadi Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al Islam di Desa Tenggulun. Dari Malaysia yang menjadi ladang kedua warga Desa Tenggulun, pondok pesantren yang diangan-angankannya sejak tahun 1989 itu mendapat dana sehingga berdiri tahun 1993 dan terus berkembang hingga muncul kasus peledakan bom yang mengaitkan Amrozi dengan pondok pesantren dengan santri sekitar 150 remaja itu.
inu
amrozi
DALAM dua tahun terakhir, setiap perpisahan kelas terakhir Pondok Pesantren (Ponpes) Al Islam di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur, Ustad Abu Bakar Ba'asyir selalu hadir memberi ceramah perpisahan.
Kehadiran Ustad Ba'asyir -pendiri Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah-sangat penting. Mengapa? Ustad Ba'asyir ternyata adalah Idola Santri Ponpes Al Islam, yang didirikan tahun 1993.
Begitulah pemaparan Pemimpin Ponpes Al Islam Ustad Muhammad Zakaria (32) saat ditemui sebelum memberi ceramah dan pengajian di Surabaya, Kamis (7/11).
"Anak-anak pondok selalu meminta kehadiran Ustad karena bangga, senang, dan kagum terhadap komitmennya pada Islam. Menurut para santri, ustad orangnya kalem, tetapi tegas."
Menurut ustad lulusan Ponpes Al Mukmin, Ngruki, tahun 1992 ini, dalam dua tahun terakhir, Ba'asyir selalu datang saat diundang untuk memberi ceramah perpisahan kelas terakhir, yaitu pada 16 Juni 2001 dan 17 Juni 2002.
Untuk perpisahan tahun ajaran 2003, seluruh santri sudah meminta Ba'asyir datang lagi memberikan ceramah. Mungkin harapan itu tidak akan terkabul karena Ba'asyir kini dalam tahanan polisi.
Meskipun antara tahun 1988-1992 Zakaria menempuh pendidikan di Al Mukmin, Ngruki, secara pribadi pria kelahiran Manggarai, Nusa Tenggara Timur, ini mengaku tidak mengenal Ba'asyir secara pribadi.
"Saya baru tahu Ustad adalah pendiri Al Mukmin dari ramainya pemberitaan tentangnya," papar ustad yang sebelum menjadi pemimpin Pesantren Al Islam berprofesi sebagai guru agama di Lamongan.
AL Islam didirikan atas permintaan H Khozin, pegawai negeri sipil yang merupakan kakak kandung Amrozi, yang saat ini menjadi tersangka dalam kasus peledakan bom di Bali itu.
"Tahun 1993, Haji Khozin pergi ke Ngruki untuk meminta seorang ustad sebagai pemimpin karena ia akan mendirikan pondok pesantren. Ustad Ngruki lalu meminta Khozin menghubungi saya yang alumni Ngruki dan sedang berada di Lamongan," ujarnya.
Awal sebelum pesantren dibangun, Zakaria membuka kursus bahasa Arab dan Inggris dengan jumlah murid 300 orang. Namun, saat pondok pesantren selesai dibangun, jumlah santri berkurang jadi 150 orang.
"Saat saya mendirikan pesantren bersama kakaknya, Amrozi sudah tidak ada di Lamongan. Menurut orang-orang, ia di Malaysia," ujar Zakaria.
"Saya baru kenal Amrozi tahun 1997 saat ia pulang ke Lamongan dari Malaysia. Tapi, kemudian ia menghilang lagi dan baru muncul tahun 2000. Meskipun sibuk karena sering pergi dalam waktu cukup lama, kalau sedang ada di kampung, Amrozi sering turut shalat berjamaah di pesantren dan kami sering pergi bersama mencari makan," paparnya.
SAAT diminta komentarnya mengenai keterlibatan Amrozi dalam kasus peledakan bom di Bali, Zakaria yang sempat diperiksa polisi di Kepolisian Resor (Polres) Lamongan usai penangkapan Amrozi, merasa tidak yakin dengan tuduhan itu.
"Saya tidak yakin sedikit pun. Dari apa yang saya ketahui, Amrozi tidak memiliki kemampuan dan kapasitas untuk itu. Kalau dinilai terkait lantaran Amrozi adalah pemilik terakhir mobil Mitsubishi L 300, mungkin saja karena profesinya adalah montir dan jual beli kendaraan," ujarnya.
Lagi pula, saat kejadian peledakan bom di Bali 12 Oktober 2002, bersama dengan Kamar, Polisi Kehutanan Lamongan, Amrozi sedang menonton tinju di televisi di rumahnya.
Zakaria mengaku cukup mengenal Amrozi dan keluarganya. Amrozi, seperti dituturkan Zakaria, adalah salah satu dari 13 anak H Nurhasyim yang beristri dua. Saat ini, Nurhasyim terbaring lumpuh karena sakit. Amrozi sendiri kepada Zakaria mengaku telah tiga kali menikah dan memiliki dua anak kandung dan satu anak tiri. Saat ini ia hidup bersama istri ketiganya, Susi.
Selain ahli memperbaiki motor dan memiliki usaha jual beli mobil, Amrozi juga pandai memperbaiki dan memasang antena tambahan pada handphone. Untuk mobilitas, Amrozi sering mengendarai sedan Toyota Crown warna putih dengan nomor polisi G 8488 D.
"Kami berdua sering pergi mencari sate dengan mobil yang saat ini disita polisi sebagai barang bukti," ujar Zakaria.
IBU kandung Amrozi, Tariem, mengaku terkejut dengan penangkapan anaknya. "Waktu anak saya ditangkap, saya sedang di ladang. Ketika pulang sore hari, di rumah saya sudah banyak polisi yang menggeledah kamar anak saya. Sampai sekarang saya tidak tahu di mana keberadaan dan apa kesalahan yang dibuat anak saya," kata Tariem.
Dalam kesehariannya, Amrozi memang diketahui para tetangganya sebagai montir kendaraan. Bengkel tempat ia bekerja berada tepat di samping rumah orangtuanya. Rumah itu, selain ditempati Tariem dan suaminya, Nurhasyim, juga ditempati Amrozi bersama istri dan anaknya. Rumah yang terdiri dari dua bangunan utama dan satu bangunan tambahan itu kini sudah diberi batas garis polisi.
Bangunan pertama yang memanjang ke belakang ruangannya dipetak-petak menjadi lima ruangan. Menurut Tariem, ruangan itu sebagai tempat tinggal bagi para guru ponpes Al Islam yang dipimpin anak ketiganya, H Khozin.
Bangunan kedua yang memiliki tiga kamar ditempati Tariem bersama Nurhasyim di kamar bagian depan. Kamar belakang ditempati Amrozi serta istri dan anaknya, sementara bangunan ketiga adalah bengkel yang dijadikan tempat praktik sehari-hari Amrozi.
"Sehari-hari Amrozi bekerja sebagai montir dan tidak pernah pergi ke mana-mana. Kalaupun pergi, paling-paling hanya untuk membeli kekurangan onderdil kendaraan yang ia perbaiki dan perginya pun tak pernah lama," kata Tariem.
Selain Amrozi, Tariem masih memiliki tujuh anak kandung lainnya, yakni Alima, Afiah, Khozin, Djafar Sodiq, Gufron, Amin Jabir, dan Ali Imron. Gufron dan Ali Imron berada di Malaysia. Djafar Sodiq dan Khozin mengelola ponpes Al Islam.
DI pondok pesantren yang luasnya sekitar 60 x 120 meter itu terdapat tiga ruangan kelas yang bangunannya terbuat dari papan dengan atap genteng merah. Selain ruang kelas, dalam kompleks itu juga terdapat beberapa ruang tempat tidur santri laki-laki, bangunan bertingkat untuk santri perempuan, lapangan voli, dan sebuah masjid.
Dari 150 santri, hanya lima persen yang berasal dari desa Tenggulun. Sisanya dari bebeberapa daerah di Jatim dan luar Jatim, seperti dari Malang, Ngawi, Madiun, Madura, Solo, dan Flores.
Menurut salah seorang pengajar pesantren, Nurfitratullah, santri-santri yang tinggal di ponpes Al Islam adalah santri yang berusia dari 12-20 tahun. Sebagian besar sudah ada yang tinggal di ponpes Al Islam selama delapan tahun.
inu
Kehadiran Ustad Ba'asyir -pendiri Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah-sangat penting. Mengapa? Ustad Ba'asyir ternyata adalah Idola Santri Ponpes Al Islam, yang didirikan tahun 1993.
Begitulah pemaparan Pemimpin Ponpes Al Islam Ustad Muhammad Zakaria (32) saat ditemui sebelum memberi ceramah dan pengajian di Surabaya, Kamis (7/11).
"Anak-anak pondok selalu meminta kehadiran Ustad karena bangga, senang, dan kagum terhadap komitmennya pada Islam. Menurut para santri, ustad orangnya kalem, tetapi tegas."
Menurut ustad lulusan Ponpes Al Mukmin, Ngruki, tahun 1992 ini, dalam dua tahun terakhir, Ba'asyir selalu datang saat diundang untuk memberi ceramah perpisahan kelas terakhir, yaitu pada 16 Juni 2001 dan 17 Juni 2002.
Untuk perpisahan tahun ajaran 2003, seluruh santri sudah meminta Ba'asyir datang lagi memberikan ceramah. Mungkin harapan itu tidak akan terkabul karena Ba'asyir kini dalam tahanan polisi.
Meskipun antara tahun 1988-1992 Zakaria menempuh pendidikan di Al Mukmin, Ngruki, secara pribadi pria kelahiran Manggarai, Nusa Tenggara Timur, ini mengaku tidak mengenal Ba'asyir secara pribadi.
"Saya baru tahu Ustad adalah pendiri Al Mukmin dari ramainya pemberitaan tentangnya," papar ustad yang sebelum menjadi pemimpin Pesantren Al Islam berprofesi sebagai guru agama di Lamongan.
AL Islam didirikan atas permintaan H Khozin, pegawai negeri sipil yang merupakan kakak kandung Amrozi, yang saat ini menjadi tersangka dalam kasus peledakan bom di Bali itu.
"Tahun 1993, Haji Khozin pergi ke Ngruki untuk meminta seorang ustad sebagai pemimpin karena ia akan mendirikan pondok pesantren. Ustad Ngruki lalu meminta Khozin menghubungi saya yang alumni Ngruki dan sedang berada di Lamongan," ujarnya.
Awal sebelum pesantren dibangun, Zakaria membuka kursus bahasa Arab dan Inggris dengan jumlah murid 300 orang. Namun, saat pondok pesantren selesai dibangun, jumlah santri berkurang jadi 150 orang.
"Saat saya mendirikan pesantren bersama kakaknya, Amrozi sudah tidak ada di Lamongan. Menurut orang-orang, ia di Malaysia," ujar Zakaria.
"Saya baru kenal Amrozi tahun 1997 saat ia pulang ke Lamongan dari Malaysia. Tapi, kemudian ia menghilang lagi dan baru muncul tahun 2000. Meskipun sibuk karena sering pergi dalam waktu cukup lama, kalau sedang ada di kampung, Amrozi sering turut shalat berjamaah di pesantren dan kami sering pergi bersama mencari makan," paparnya.
SAAT diminta komentarnya mengenai keterlibatan Amrozi dalam kasus peledakan bom di Bali, Zakaria yang sempat diperiksa polisi di Kepolisian Resor (Polres) Lamongan usai penangkapan Amrozi, merasa tidak yakin dengan tuduhan itu.
"Saya tidak yakin sedikit pun. Dari apa yang saya ketahui, Amrozi tidak memiliki kemampuan dan kapasitas untuk itu. Kalau dinilai terkait lantaran Amrozi adalah pemilik terakhir mobil Mitsubishi L 300, mungkin saja karena profesinya adalah montir dan jual beli kendaraan," ujarnya.
Lagi pula, saat kejadian peledakan bom di Bali 12 Oktober 2002, bersama dengan Kamar, Polisi Kehutanan Lamongan, Amrozi sedang menonton tinju di televisi di rumahnya.
Zakaria mengaku cukup mengenal Amrozi dan keluarganya. Amrozi, seperti dituturkan Zakaria, adalah salah satu dari 13 anak H Nurhasyim yang beristri dua. Saat ini, Nurhasyim terbaring lumpuh karena sakit. Amrozi sendiri kepada Zakaria mengaku telah tiga kali menikah dan memiliki dua anak kandung dan satu anak tiri. Saat ini ia hidup bersama istri ketiganya, Susi.
Selain ahli memperbaiki motor dan memiliki usaha jual beli mobil, Amrozi juga pandai memperbaiki dan memasang antena tambahan pada handphone. Untuk mobilitas, Amrozi sering mengendarai sedan Toyota Crown warna putih dengan nomor polisi G 8488 D.
"Kami berdua sering pergi mencari sate dengan mobil yang saat ini disita polisi sebagai barang bukti," ujar Zakaria.
IBU kandung Amrozi, Tariem, mengaku terkejut dengan penangkapan anaknya. "Waktu anak saya ditangkap, saya sedang di ladang. Ketika pulang sore hari, di rumah saya sudah banyak polisi yang menggeledah kamar anak saya. Sampai sekarang saya tidak tahu di mana keberadaan dan apa kesalahan yang dibuat anak saya," kata Tariem.
Dalam kesehariannya, Amrozi memang diketahui para tetangganya sebagai montir kendaraan. Bengkel tempat ia bekerja berada tepat di samping rumah orangtuanya. Rumah itu, selain ditempati Tariem dan suaminya, Nurhasyim, juga ditempati Amrozi bersama istri dan anaknya. Rumah yang terdiri dari dua bangunan utama dan satu bangunan tambahan itu kini sudah diberi batas garis polisi.
Bangunan pertama yang memanjang ke belakang ruangannya dipetak-petak menjadi lima ruangan. Menurut Tariem, ruangan itu sebagai tempat tinggal bagi para guru ponpes Al Islam yang dipimpin anak ketiganya, H Khozin.
Bangunan kedua yang memiliki tiga kamar ditempati Tariem bersama Nurhasyim di kamar bagian depan. Kamar belakang ditempati Amrozi serta istri dan anaknya, sementara bangunan ketiga adalah bengkel yang dijadikan tempat praktik sehari-hari Amrozi.
"Sehari-hari Amrozi bekerja sebagai montir dan tidak pernah pergi ke mana-mana. Kalaupun pergi, paling-paling hanya untuk membeli kekurangan onderdil kendaraan yang ia perbaiki dan perginya pun tak pernah lama," kata Tariem.
Selain Amrozi, Tariem masih memiliki tujuh anak kandung lainnya, yakni Alima, Afiah, Khozin, Djafar Sodiq, Gufron, Amin Jabir, dan Ali Imron. Gufron dan Ali Imron berada di Malaysia. Djafar Sodiq dan Khozin mengelola ponpes Al Islam.
DI pondok pesantren yang luasnya sekitar 60 x 120 meter itu terdapat tiga ruangan kelas yang bangunannya terbuat dari papan dengan atap genteng merah. Selain ruang kelas, dalam kompleks itu juga terdapat beberapa ruang tempat tidur santri laki-laki, bangunan bertingkat untuk santri perempuan, lapangan voli, dan sebuah masjid.
Dari 150 santri, hanya lima persen yang berasal dari desa Tenggulun. Sisanya dari bebeberapa daerah di Jatim dan luar Jatim, seperti dari Malang, Ngawi, Madiun, Madura, Solo, dan Flores.
Menurut salah seorang pengajar pesantren, Nurfitratullah, santri-santri yang tinggal di ponpes Al Islam adalah santri yang berusia dari 12-20 tahun. Sebagian besar sudah ada yang tinggal di ponpes Al Islam selama delapan tahun.
inu
sumpah pemuda
KAMI putra-putri Indonesia,
berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami putra-putri Indonesia,
ber-Tanah Air satu, Tanah Air Indonesia
Kami putra-putri Indonesia,
berbahasa satu, bahasa Indonesia
SETIDAKNYA, setahun sekali setiap tanggal 28 Oktober, kita diingatkan akan heroisme pemuda dari seluruh negeri yang bercita-cita luhur mulia untuk menyatukan negeri lewat Soempah Pemoeda! Namun, bagaimana pemuda di Jawa Timur (Jatim), khususnya Surabaya, menghayati dan memaknai peristiwa yang terjadi 76 tahun lalu itu? Memang beragam tanggapan pemuda dalam menjawab pertanyaan dasar ini. Namun, pada umumnya mereka tidak lagi merasakan gema dan juga pesan dari ikrar pemuda yang dipekikkan pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, di Batavia (kini Jakarta) itu.
"Dari pelajaran sejarah di sekolah sejak SD (sekolah dasar-Red) memang saya tahu kalau tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Namun, hanya tahu sebatas tanggal saja. Selebihnya saya tidak tahu," tutur Suprapto (17), siswa kelas II Sekolah Menengah Umum (SMU) Muhammadiyah 6 Surabaya, Minggu (27/10).
Penuturan polos remaja yang bersama puluhan teman seusianya hadir dalam diskusi bertajuk "Membangkitkan Semangat Kebangsaan" di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Surabaya itu diungkapkan juga sejumlah teman-temannya. Sumpah pemuda yang menyatukan dan menjadi alat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan itu tak lagi bergema. Juga di relung hati kaum muda yang menjadi pewaris semangat itu.
BANYAK sebab yang menjadi pemicu lunturnya semangat kebangsaan yang merupakan warisan para pendahulu Republik ini. Para pemuda yang ditemui mengaku sangat jenuh melihat wacana kebangsaan yang saat ini dibicarakan dalam sejumlah forum, baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan.
"Tidak pernah ada habisnya dan tidak memberi kontribusi nyata bagi bangsa. Karena itu, saya makin tidak berminat membicarakan politik termasuk soal kebangsaan itu," ujar Vina (21), mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya. Kenyataan itulah yang membuat dia dan beberapa temannya enggan membicarakan masalah kebangsaan yang berbau politik.
"Yang penting ngurusin sekolah. Habis sekolah kerja cari uang untuk hidup dan masa depan. Soal kebangsaan dan negara enggak sampai kepikiran," ungkap Bintoro (20), yang ditemui sedang asyik memilih-milih komik Jepang di sebuah toko buku di Tunjungan Plaza, Surabaya.
Penyebab lain lunturnya semangat kebangsaan atau keinginan untuk memberi kontribusi bagi kelangsungan dan kehidupan berbangsa sejumlah besar kaum muda adalah tidak adanya kepercayaan yang diberikan oleh kelompok tua kepada kaum muda.
"Saat ini hampir tidak ada posisi dalam lembaga resmi yang dipercayakan kepada kaum muda. Bahkan, untuk mengurusi kaum muda, lembaga-lembaga itu menempatkan orang-orang tua di sana," ujar Haris Nukman (21), Ketua Komisariat Istimewa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tarbiyah cabang Wonocolo, Surabaya.
Jika pada lembaga-lembaga atau partai-partai tertentu kaum muda sepertinya diutamakan, mahasiswa Jurusan Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel ini melihat, hal itu hanya trik saja untuk merebut suara. Jumlah kaum muda yang memiliki hak suara dalam pemilihan umum (pemilu) cukup signifikan. Namun, setelah suara di dapat, kaum muda segera ditinggalkan.
Untuk pembangunan kesadaran berbangsa, sejumlah kecil mahasiswa dan kaum muda melakukannya lewat diskusi yang sifatnya terbatas tanpa penyaluran melalui organisasinya dan juga organisasi pemuda lain. "Akibatnya kami sering mengalami kelesuan dan kelelahan karena tidak ada tanggapan sama sekali dari pemerintah atas sejumlah tuntutan dan aspirasi yang kami sampaikan," paparnya.
DENGAN kondisi yang umum terjadi seperti ini, Haris yakin, hanya segelintir orang muda yang masih punya perhatian dan keprihatinan perihal kebangsaan. "Di kampus dan di tempat biasanya anak muda berkumpul, tidak ada pembicaraan soal-soal kebangsaan atau kehidupan bernegara. Mahasiswa telanjur apolitis yang membuat mereka berpikiran pragmatis," ungkapnya.
Sikap apolitis dan pragmatis kaum muda ini diakui juga oleh Nita Savitri (16), siswa kelas II SMK Ketintang I Surabaya. "Jangankan soal kebangsaan, untuk masalah yang ada di sekitarnya saja banyak yang tidak peduli. Untuk berorganisasi di tingkat sekolah saja susah mengajak dan melibatkan mereka. Yang dipikirin cuma bersenang-senang dan kepentingannya sendiri," ujarnya.
Lunturnya semangat kebangsaan seperti yang muncul dalam diri para pemuda yang mengikrarkan Sumpah Pemuda 76 tahun lalu juga diakui Suprapto dan teman-temannya. Menurut dia, kaum muda terjebak dalam arus yang tidak bisa mereka kendalikan, seperti konsumerisme. "Yang muncul di benak kaum muda dan menjadi bahan pembicaraan adalah bagaimana memiliki barang ini dan itu seperti yang banyak diiklankan di media," ungkapnya.
Oleh karena itu, semua kaum muda yang ditemui dan dimintai komentar perihal memaknai Sumpah Pemuda hanya tersenyum dengan canggung. "Jangankan memaknai Sumpah Pemuda, memotivasi diri untuk sekolah saja banyak yang kesulitan. Tidak sedikit teman-teman saya yang membolos sekolah dan kemudian terlibat dalam penggunaan obat-obatan terlarang karena pergaulan," ungkap Suprapto.
Ironis memang. Tetapi, itulah yang terjadi pada sejumlah-untuk tidak mengatakan sebagian besar-kaum muda kita seperti yang tertangkap secara acak di sejumlah tempat mereka biasa berkumpul. Lalu, akan diletakkan ke pundak siapa semangat dan cita-cita kebangsaan para pemuda pendahulu mereka yang telah berikrar bersama: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia?
inu
berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami putra-putri Indonesia,
ber-Tanah Air satu, Tanah Air Indonesia
Kami putra-putri Indonesia,
berbahasa satu, bahasa Indonesia
SETIDAKNYA, setahun sekali setiap tanggal 28 Oktober, kita diingatkan akan heroisme pemuda dari seluruh negeri yang bercita-cita luhur mulia untuk menyatukan negeri lewat Soempah Pemoeda! Namun, bagaimana pemuda di Jawa Timur (Jatim), khususnya Surabaya, menghayati dan memaknai peristiwa yang terjadi 76 tahun lalu itu? Memang beragam tanggapan pemuda dalam menjawab pertanyaan dasar ini. Namun, pada umumnya mereka tidak lagi merasakan gema dan juga pesan dari ikrar pemuda yang dipekikkan pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, di Batavia (kini Jakarta) itu.
"Dari pelajaran sejarah di sekolah sejak SD (sekolah dasar-Red) memang saya tahu kalau tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Namun, hanya tahu sebatas tanggal saja. Selebihnya saya tidak tahu," tutur Suprapto (17), siswa kelas II Sekolah Menengah Umum (SMU) Muhammadiyah 6 Surabaya, Minggu (27/10).
Penuturan polos remaja yang bersama puluhan teman seusianya hadir dalam diskusi bertajuk "Membangkitkan Semangat Kebangsaan" di Gedung Nasional Indonesia (GNI) Surabaya itu diungkapkan juga sejumlah teman-temannya. Sumpah pemuda yang menyatukan dan menjadi alat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan itu tak lagi bergema. Juga di relung hati kaum muda yang menjadi pewaris semangat itu.
BANYAK sebab yang menjadi pemicu lunturnya semangat kebangsaan yang merupakan warisan para pendahulu Republik ini. Para pemuda yang ditemui mengaku sangat jenuh melihat wacana kebangsaan yang saat ini dibicarakan dalam sejumlah forum, baik di pemerintahan maupun di luar pemerintahan.
"Tidak pernah ada habisnya dan tidak memberi kontribusi nyata bagi bangsa. Karena itu, saya makin tidak berminat membicarakan politik termasuk soal kebangsaan itu," ujar Vina (21), mahasiswi sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya. Kenyataan itulah yang membuat dia dan beberapa temannya enggan membicarakan masalah kebangsaan yang berbau politik.
"Yang penting ngurusin sekolah. Habis sekolah kerja cari uang untuk hidup dan masa depan. Soal kebangsaan dan negara enggak sampai kepikiran," ungkap Bintoro (20), yang ditemui sedang asyik memilih-milih komik Jepang di sebuah toko buku di Tunjungan Plaza, Surabaya.
Penyebab lain lunturnya semangat kebangsaan atau keinginan untuk memberi kontribusi bagi kelangsungan dan kehidupan berbangsa sejumlah besar kaum muda adalah tidak adanya kepercayaan yang diberikan oleh kelompok tua kepada kaum muda.
"Saat ini hampir tidak ada posisi dalam lembaga resmi yang dipercayakan kepada kaum muda. Bahkan, untuk mengurusi kaum muda, lembaga-lembaga itu menempatkan orang-orang tua di sana," ujar Haris Nukman (21), Ketua Komisariat Istimewa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tarbiyah cabang Wonocolo, Surabaya.
Jika pada lembaga-lembaga atau partai-partai tertentu kaum muda sepertinya diutamakan, mahasiswa Jurusan Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel ini melihat, hal itu hanya trik saja untuk merebut suara. Jumlah kaum muda yang memiliki hak suara dalam pemilihan umum (pemilu) cukup signifikan. Namun, setelah suara di dapat, kaum muda segera ditinggalkan.
Untuk pembangunan kesadaran berbangsa, sejumlah kecil mahasiswa dan kaum muda melakukannya lewat diskusi yang sifatnya terbatas tanpa penyaluran melalui organisasinya dan juga organisasi pemuda lain. "Akibatnya kami sering mengalami kelesuan dan kelelahan karena tidak ada tanggapan sama sekali dari pemerintah atas sejumlah tuntutan dan aspirasi yang kami sampaikan," paparnya.
DENGAN kondisi yang umum terjadi seperti ini, Haris yakin, hanya segelintir orang muda yang masih punya perhatian dan keprihatinan perihal kebangsaan. "Di kampus dan di tempat biasanya anak muda berkumpul, tidak ada pembicaraan soal-soal kebangsaan atau kehidupan bernegara. Mahasiswa telanjur apolitis yang membuat mereka berpikiran pragmatis," ungkapnya.
Sikap apolitis dan pragmatis kaum muda ini diakui juga oleh Nita Savitri (16), siswa kelas II SMK Ketintang I Surabaya. "Jangankan soal kebangsaan, untuk masalah yang ada di sekitarnya saja banyak yang tidak peduli. Untuk berorganisasi di tingkat sekolah saja susah mengajak dan melibatkan mereka. Yang dipikirin cuma bersenang-senang dan kepentingannya sendiri," ujarnya.
Lunturnya semangat kebangsaan seperti yang muncul dalam diri para pemuda yang mengikrarkan Sumpah Pemuda 76 tahun lalu juga diakui Suprapto dan teman-temannya. Menurut dia, kaum muda terjebak dalam arus yang tidak bisa mereka kendalikan, seperti konsumerisme. "Yang muncul di benak kaum muda dan menjadi bahan pembicaraan adalah bagaimana memiliki barang ini dan itu seperti yang banyak diiklankan di media," ungkapnya.
Oleh karena itu, semua kaum muda yang ditemui dan dimintai komentar perihal memaknai Sumpah Pemuda hanya tersenyum dengan canggung. "Jangankan memaknai Sumpah Pemuda, memotivasi diri untuk sekolah saja banyak yang kesulitan. Tidak sedikit teman-teman saya yang membolos sekolah dan kemudian terlibat dalam penggunaan obat-obatan terlarang karena pergaulan," ungkap Suprapto.
Ironis memang. Tetapi, itulah yang terjadi pada sejumlah-untuk tidak mengatakan sebagian besar-kaum muda kita seperti yang tertangkap secara acak di sejumlah tempat mereka biasa berkumpul. Lalu, akan diletakkan ke pundak siapa semangat dan cita-cita kebangsaan para pemuda pendahulu mereka yang telah berikrar bersama: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa: Indonesia?
inu
warung psk
DIPASTIKAN tidak akan adalagi musik keras dengan irama mendayu-dayu mengajak mereka yang mendengarkannya bergoyang selama bulan Ramadhan 1423 Hijriah (2002) di kawasan Jarak dan Gang Dolly, Surabaya. Meskipun umumnya para pelaku usaha di "kawasan merah" Surabaya itu keberatan atas keputusan Wali Kota Surabaya mengenai penutupan tempat hiburan yang dikategorikan sebagai tempat asusila itu, mereka hanya bisa mengalah dan pasrah.
"HABIS mau gimana. Mau ngotot minta tetap diperbolehkan buka dengan batasan waktu tertentu seperti dulu sebelum tahun 2000 pasti tidak akan didengarkan. Lebih baik mengalah sejak awal daripada berjuang dengan jaminan pasti kalah," ujar Saptono (bukan nama sebenarnya, juga semua nama yang ada dalam tulisan ini), pengantar tamu di Wisma Kedaton di Jalan Jarak, Surabaya, akhir pekan lalu.
Pria asal Tulungagung berusia 26 tahun yang tampak sangat dekat dan akrab dengan "anak-anak" asuhan bos wisma yang persis berada di tepi jalan itu hanya berharap dapat memperolah bekal hari raya pada sisa waktu sekitar 15 hari sebelum bulan Ramadhan tiba. "Mudah-mudahan selama 15 hari terakhir sebelum Puasa, bisa ngumpulin uang buat Lebaran dan membelikan adik-adik saya baju baru," tuturnya penuh harap.
Harapan Saptono untuk memperoleh bekal hari raya selama 15 hari terakhir sebelum puasa ini beralasan, lantaran Surat Keputusan (SK) Wali Kota mengenai penutupan tempat hiburan malam yang dikategorikan sebagai tempat asusila sudah keluar, Jumat (18/10) lalu.
Dalam SK No 50/2002 tersebut diatur, lokalisasi seperti di Jalan Jarak dan Gang Dolly, diskotek, panti pijat, kelab malam (house music), karaoke yang menyediakan pemandu wanita (purel), dan hiburan yang mengarah pada kegiatan maksiat di tutup dan dihentikan operasinya selama bulan Ramadhan.
Selain SK itu, dikeluarkan juga SK Wali Kota Surabaya No 49/2002 yang mengatur waktu/jam operasional kegiatan usaha rekreasi dan hiburan umum selama Ramadhan. Dalam SK ini, kecuali pertunjukan bioskop yang diperkenankan beroperasi antara pukul 17.30 sampai 20.00, kegiatan hiburan malam lainnya diperkenankan beroperasi antara pukul 21.00 hingga pukul 02.00. Dengan adanya dua SK tersebut, SK Wali Kota No 74/2001 dinyatakan tidak berlaku lagi.
"SUDAH saya duga, selama Bulan Puasa tempat kami akan tutup. Karena itu, SK penutupan itu kami sambut biasa-biasa saja," ungkap Shirley (21) sambil meneguk jamu gendong yang sebelumnya telah ia pesan dari Mbok Rumi langganannya. Meskipun merasa agak keberatan atas keluarnya SK itu-seperti juga dikeluhkan semua pelaku usaha di daerah merah Surabaya itu-wanita asal Jember ini tampak tenang.
Malam menjelang dini hari itu, di tengah temaramnya lampu warna-warni dan hingar-bingar lampu di Wisma Ratu Mustika tempatnya "diasuh" bersama sembilan teman seusianya oleh bos pemilik wisma, Shirley tampak paling ceria dengan menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama musik. Saat ditanya kenapa, ia berujar, "Ini cara saya menghibur diri. Kerja hampir selesai malam ini."
Seperti dituturkannya dan juga diperkuat oleh teman-teman yang akhirnya menjalani profesi serupa menjadi pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Jarak dan Gang Dolly, seluruh wisma yang berjumlah tidak kurang dari 60 itu akan tutup sekitar pukul 01.00. Mengenai jam buka bervariasi. Ada yang sudah mulai buka pukul 11.00, ada juga yang baru buka usai magrib. "Namun, bersamaan dengan nyala lampu jalan, wisma sudah buka semua," tutur Ria (22).
Ketika ditanya apa yang akan dilakukannya selama bulan Ramadhan, wanita asal Semarang yang sudah tiga tahun menjadi PSK di Surabaya ini dengan mantap menjawab, "Saya akan pulang kampung. Karena saya Muslim, saya juga akan berpuasa dan mempersiapkan Idul Fitri bersama saudara-saudara saya di Semarang."
Saat ditanya, apakah saudara dan kaluarganya mengetahui jenis pekerjaannya di Surabaya, Ria yang bertubuh tinggi langsing menggoda ini hanya tersenyum malu dan kemudian menggelengkan kepala. Sesaat kemudian ia berujar, "Saya pamit ke Surabaya pada orangtua untuk kuliah. Semula saya memang kuliah, tetapi karena pergaulan saya terseret menjalani pekerjaan ini."
Jawaban Ria mamang klise, namun itulah yang umum diujarkan oleh sejumlah PSK saat ditanya kenapa bisa sampai menjalani profesinya yang dicap asusila itu. Selain lantaran terseret karena pergaulan bebas, masalah ekonomi menjadi penyebab berikutnya. "Karena itu, saya berharap tidak akan lama. Setelah warung di kampung cukup modalnya, saya akan meninggalkan tempat ini. Lagi pula, saya akan semakin tua dan tamu pasti tidak akan melirik lagi," ujar Wulan (23).
SELAIN sejumlah PSK yang tampak siap dengan keputusan penutupan lokalisasi selama bulan Ramadhan, banyak juga yang merasa tidak siap. Mereka tidak siap lantaran masih baru dan enggan pulang ke kampung lantaran umumnya sudah tidak diterima lagi oleh keluarganya. Kekhawatiran sejumlah bos pengasuh wisma justru muncul dari PSK yang tidak siap ini.
"Seperti yang terjadi tahun lalu. Kami tutup, namun lantaran banyak anak-anak yang tetap tinggal di wisma, kami kena razia dan dituduh tetap beroperasi. Untuk masalah seperti ini kami minta pemahaman dari petugas penertiban. Mereka tetap di wisma karena tidak berani pulang kampung," ujar seorang bos wisma di Gang Dolly yang keberatan disebut namanya.
Kekhawatiran lain yang kemungkinan akan terjadi untuk PSK yang tidak siap ini adalah mereka tetap akan beroperasi di tempat-tempat lain seperti menjajakan diri di tepi jalan, di hotel, atau tempat lain yang memungkinkan. "Mudah-mudahan pindahnya tempat operasi ini tidak terjadi," ujarnya penuh harap.
Bagi yang sudah siap dengan keputusan penutupan lokalisasi, mereka tampak lebih punya rencana dan tinggal mengoptimalkan kerja selam 15 hari sisa sebelum puasa tiba. "Modal sudah ada dan warung kecil-kecilan sudah saya buka di kampung. Libur puasa ini akan saya pakai untuk mengurus warung itu," tutur Ria yang tak lama kemudian berjalan masuk kamar bersama pria setengah baya yang sejak lama memandanginya.
inu
"HABIS mau gimana. Mau ngotot minta tetap diperbolehkan buka dengan batasan waktu tertentu seperti dulu sebelum tahun 2000 pasti tidak akan didengarkan. Lebih baik mengalah sejak awal daripada berjuang dengan jaminan pasti kalah," ujar Saptono (bukan nama sebenarnya, juga semua nama yang ada dalam tulisan ini), pengantar tamu di Wisma Kedaton di Jalan Jarak, Surabaya, akhir pekan lalu.
Pria asal Tulungagung berusia 26 tahun yang tampak sangat dekat dan akrab dengan "anak-anak" asuhan bos wisma yang persis berada di tepi jalan itu hanya berharap dapat memperolah bekal hari raya pada sisa waktu sekitar 15 hari sebelum bulan Ramadhan tiba. "Mudah-mudahan selama 15 hari terakhir sebelum Puasa, bisa ngumpulin uang buat Lebaran dan membelikan adik-adik saya baju baru," tuturnya penuh harap.
Harapan Saptono untuk memperoleh bekal hari raya selama 15 hari terakhir sebelum puasa ini beralasan, lantaran Surat Keputusan (SK) Wali Kota mengenai penutupan tempat hiburan malam yang dikategorikan sebagai tempat asusila sudah keluar, Jumat (18/10) lalu.
Dalam SK No 50/2002 tersebut diatur, lokalisasi seperti di Jalan Jarak dan Gang Dolly, diskotek, panti pijat, kelab malam (house music), karaoke yang menyediakan pemandu wanita (purel), dan hiburan yang mengarah pada kegiatan maksiat di tutup dan dihentikan operasinya selama bulan Ramadhan.
Selain SK itu, dikeluarkan juga SK Wali Kota Surabaya No 49/2002 yang mengatur waktu/jam operasional kegiatan usaha rekreasi dan hiburan umum selama Ramadhan. Dalam SK ini, kecuali pertunjukan bioskop yang diperkenankan beroperasi antara pukul 17.30 sampai 20.00, kegiatan hiburan malam lainnya diperkenankan beroperasi antara pukul 21.00 hingga pukul 02.00. Dengan adanya dua SK tersebut, SK Wali Kota No 74/2001 dinyatakan tidak berlaku lagi.
"SUDAH saya duga, selama Bulan Puasa tempat kami akan tutup. Karena itu, SK penutupan itu kami sambut biasa-biasa saja," ungkap Shirley (21) sambil meneguk jamu gendong yang sebelumnya telah ia pesan dari Mbok Rumi langganannya. Meskipun merasa agak keberatan atas keluarnya SK itu-seperti juga dikeluhkan semua pelaku usaha di daerah merah Surabaya itu-wanita asal Jember ini tampak tenang.
Malam menjelang dini hari itu, di tengah temaramnya lampu warna-warni dan hingar-bingar lampu di Wisma Ratu Mustika tempatnya "diasuh" bersama sembilan teman seusianya oleh bos pemilik wisma, Shirley tampak paling ceria dengan menggoyang-goyangkan kepala mengikuti irama musik. Saat ditanya kenapa, ia berujar, "Ini cara saya menghibur diri. Kerja hampir selesai malam ini."
Seperti dituturkannya dan juga diperkuat oleh teman-teman yang akhirnya menjalani profesi serupa menjadi pekerja seks komersial (PSK) di kawasan Jarak dan Gang Dolly, seluruh wisma yang berjumlah tidak kurang dari 60 itu akan tutup sekitar pukul 01.00. Mengenai jam buka bervariasi. Ada yang sudah mulai buka pukul 11.00, ada juga yang baru buka usai magrib. "Namun, bersamaan dengan nyala lampu jalan, wisma sudah buka semua," tutur Ria (22).
Ketika ditanya apa yang akan dilakukannya selama bulan Ramadhan, wanita asal Semarang yang sudah tiga tahun menjadi PSK di Surabaya ini dengan mantap menjawab, "Saya akan pulang kampung. Karena saya Muslim, saya juga akan berpuasa dan mempersiapkan Idul Fitri bersama saudara-saudara saya di Semarang."
Saat ditanya, apakah saudara dan kaluarganya mengetahui jenis pekerjaannya di Surabaya, Ria yang bertubuh tinggi langsing menggoda ini hanya tersenyum malu dan kemudian menggelengkan kepala. Sesaat kemudian ia berujar, "Saya pamit ke Surabaya pada orangtua untuk kuliah. Semula saya memang kuliah, tetapi karena pergaulan saya terseret menjalani pekerjaan ini."
Jawaban Ria mamang klise, namun itulah yang umum diujarkan oleh sejumlah PSK saat ditanya kenapa bisa sampai menjalani profesinya yang dicap asusila itu. Selain lantaran terseret karena pergaulan bebas, masalah ekonomi menjadi penyebab berikutnya. "Karena itu, saya berharap tidak akan lama. Setelah warung di kampung cukup modalnya, saya akan meninggalkan tempat ini. Lagi pula, saya akan semakin tua dan tamu pasti tidak akan melirik lagi," ujar Wulan (23).
SELAIN sejumlah PSK yang tampak siap dengan keputusan penutupan lokalisasi selama bulan Ramadhan, banyak juga yang merasa tidak siap. Mereka tidak siap lantaran masih baru dan enggan pulang ke kampung lantaran umumnya sudah tidak diterima lagi oleh keluarganya. Kekhawatiran sejumlah bos pengasuh wisma justru muncul dari PSK yang tidak siap ini.
"Seperti yang terjadi tahun lalu. Kami tutup, namun lantaran banyak anak-anak yang tetap tinggal di wisma, kami kena razia dan dituduh tetap beroperasi. Untuk masalah seperti ini kami minta pemahaman dari petugas penertiban. Mereka tetap di wisma karena tidak berani pulang kampung," ujar seorang bos wisma di Gang Dolly yang keberatan disebut namanya.
Kekhawatiran lain yang kemungkinan akan terjadi untuk PSK yang tidak siap ini adalah mereka tetap akan beroperasi di tempat-tempat lain seperti menjajakan diri di tepi jalan, di hotel, atau tempat lain yang memungkinkan. "Mudah-mudahan pindahnya tempat operasi ini tidak terjadi," ujarnya penuh harap.
Bagi yang sudah siap dengan keputusan penutupan lokalisasi, mereka tampak lebih punya rencana dan tinggal mengoptimalkan kerja selam 15 hari sisa sebelum puasa tiba. "Modal sudah ada dan warung kecil-kecilan sudah saya buka di kampung. Libur puasa ini akan saya pakai untuk mengurus warung itu," tutur Ria yang tak lama kemudian berjalan masuk kamar bersama pria setengah baya yang sejak lama memandanginya.
inu
Subscribe to:
Posts (Atom)
