Friday, February 22, 2008

krayon

BERBEKAL krayon warna-warni, meja sebagai alas menggambar, dan beberapa lembar koran bekas untuk duduk, sekitar 1.400 murid taman kanak-kanak (TK) dan sekolah dasar (SD) dari 16 Kecamatan di wilayah Kabupaten Gresik dengan wajah ceria dalam gandengan ibu atau guru mereka berduyun-duyun datang ke Alun-alun Kota Gresik, Selasa (25/6/2002) pagi.

Kontan saja, Alun-alun Kota Gresik yang pada hari biasa hanya dijadikan tempat berteduh beberapa pedagang minuman dan makanan atau mereka yang hendak berteduh dari panasnya Kota Gresik, pagi itu sekitar pukul 08.00 sudah padat dan riuh karena keceriaan anak-anak yang tidak bisa diam melihat tanah lapang. Bersama teman-temannya, mereka berlari ke sana kemari sebelum acara dimulai.

Begitu acara aneka lomba akan dimulai, dalam bimbingan orangtua dan beberapa guru yang menyertai, anak-anak mengambil posisi duduk berbaris rapi dengan alat gambarnya. Namun, selain menggambar dan juga mewarnai, ada beberapa lomba lain seperti senam berirama, menyanyi, melipat, menggunting, dan merekat, sandiwara boneka, boling, egrang, dan bakiak.

Aneka lomba ini terpadu dalam acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Anak Nasional yang diselenggarakan secara bersama oleh dua dinas dan dua organisasi di Kabupaten Gresik, yaitu Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI), dan Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI).

"Selama tiga tahun terakhir kami menggabungkan dua peringatan tersebut karena kedekatan waktu dan kesamaan sasarannya, yaitu anak-anak," ujar Ketua GOPTKI Sri Rubiyati Gunawan.

Untuk tahun 2002 ini, sekitar 1.400 peserta terbagi dalam dua kategori lomba utama, yaitu lomba dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni dengan peserta 1.000 anak, dan lomba dalam rangka Hari Anak Nasional 23 Juli yang diikuti sekitar 400 anak.

Selain alasan praktis seperti disebut di atas, acara anak-anak yang juga melibatkan ratusan orangtua ini bukan tanpa alasan yang lebih mendasar. Dinas Lingkungan Hidup Pertambangan dan Energi Gresik yang sudah lebih awal menyelenggarakan acara serupa memiliki dasar pemikiran yang jauh ke depan.

"Pembangunan kesadaran, juga kesadaran lingkungan membutuhkan waktu yang panjang. Kami ingin menanamkan kesadaran itu sejak dini kepada anak-anak lewat aneka lomba yang kami adakan," ujar Kepala Sub-Dinas Pengendalian Dampak Lingkungan Kabupaten Gresik Adiana Setiawati.

Oleh karena itu, pelestarian lingkungan menjadi tema lomba mewarnai yang diikuti murid-murid TK dan lomba menggambar yang diikuti murid-murid SD. "Kalau buang sampah enggak boleh sembarangan. Enggak boleh di jalan seperti ini. Kasihan petugas kebersihan," tutur Firda Arvia (5) yang terus didampingi ibunya saat mewarnai.

Dengan penuh semangat dan ketelitian, bersama 15 temannya dari TK Muslimat 08 Lumpur, Gresik, Firda memilih-milih krayon untuk mewarnai langit yang masih polos berwarna putih. Ia mengambil krayon biru muda untuk memberi warna pada langit.

Ketika ditanya kenapa memilih warna biru, dengan polos-masih dalam bimbingan ibunya-Firda menjawab, "Biar udaranya enak, enggak panas kayak di sini."

SEDERHANA tampaknya. Tetapi, kesadaran yang tampaknya sederhana itu diyakini oleh penyelenggara acara akan membekas di benak dan akan terus terbawa oleh 1.400 anak yang penuh semangat mengikuti lomba hingga acara berakhir sekitar pukul 11.00.

Penanaman kesadaran sejak dini macam ini yang hendak diupayakan dengan acara yang sudah berjalan, dan akan diteruskan di tahun-tahun mendatang. "Selain untuk tujuan itu, acara ini dipakai sebagai ajang seleksi. Beberapa pemenang aneka lomba ini akan diikutkan dalam lomba tingkat Provinsi Jawa Timur menyambut perayaan Hari Anak Nasional 23 Juli mendatang," ujar Sri Rubiyati.

Perkara lingkungan dan juga upaya penyadaran kelestariannya, disadari oleh Adiana sebagai "barang mewah". Dan hal itu terasa makin mewah jika diwacanakan dan diupayakan di Indonesia yang sampai sekarang masih terseok-seok menata perekonomiannya yang morat-marit lantaran krisis.

Namun, dengan upaya yang dilakukan sejak dini kepada anak-anak setiap tahun lewat aneka lomba bertema lingkungan ini, "barang mewah" itu diharapkan akan "terbeli". Karena pada gilirannya, merekalah yang akan memiliki barang mewah itu di kelak kemudian hari. Semoga....

inu

wonokromo

MATAHARI belum juga muncul. Namun, ribuan pasang mata telah terbelalak menjadi saksi ludes terbakarnya ribuan kios di Pasar Wonokromo yang tercatat memiliki 4.703 stan. Meskipun tidak ada korban jiwa, perasaan ribuan pemilik kios tersayat menyaksikan tumpuan hidup mereka terbakar habis bersamaan dengan asap tebal menjulang ke angkasa.

Minggu (26/5/2002) pagi itu, api yang mulai menyala di kios bubur ayam yang letaknya di tengah pasar tersebut diketahui sekitar pukul 04.30. Api menjalar begitu cepat tak terkendali. Beberapa saksi mata bersama pedagang lain kewalahan memadamkan kobaran si jago merah.

Kedatangan pasukan pemadam kebakaran (PMK) Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dengan 10 mobil pemadam juga tidak mampu menguasai api. Mereka tiba di sekitar lokasi kebakaran setelah 45 menit api membakar kios-kios pasar peraih Adipura dari Pemkot Surabaya tiga kali berturut-turut (1996, 1997, dan 1998) itu. Api baru berhasil dijinakkan pukul 08.30, saat hampir semua stan telah rata dengan tanah.

Keterlambatan PMK dikeluhkan pedagang dan juga petugas keamanan pasar legendaris yang dibangun di era Presiden Soekarno tersebut. "Pemadam kebakaran datang terlambat. Mereka datang setelah hampir semua kios di pasar ini hangus terbakar," keluh Handiri, petugas keamanan Pasar Wonokromo ketika kebakaran itu terjadi. Akibat keterlambatan PMK, dan cepatnya api menjalar ke seluruh bagian pasar, muncul kecurigaan dari para pedagang bahwa kebakaran ini disengaja. Kalaupun tidak disengaja, kebakaran pasar sepertinya dibiarkan saja terjadi tanpa upaya maksimal dari petugas untuk memadamkannya.

Mengenai kecurigaan adanya unsur kesengajaan, Kepala Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya Djupri langsung membantah ketika ditemui saat kebakaran terjadi. "Tidak mungkin kalau ada unsur kesengajaan, karena setiap hari ada petugas keamanan yang berjaga-jaga. Namun, kalau human error mungkin saja," katanya tanpa merinci "makhluk" seperti apa human error tersebut.

KINI, sebulan telah berlalu sejak peristiwa kebakaran yang dalam beberapa jam saja membuat ribuan atau bahkan belasan ribu orang kehilangan mata pencaharian alias menganggur, dengan jumlah kerugian yang beragam. Hari pertama, ribuan pedagang hanya bisa meratap sedih sambil mencari lokasi lain di sekitar pasar untuk menggelar dagangannya.

Karena tidak semua pedagang mendapat tempat di sepanjang Jalan Stasiun Wonokromo, pada hari berikutnya para pedagang berkelompok membersihkan puing-puing sisa kebakaran. Perlahan-lahan dengan modal pinjaman seadanya, puluhan pedagang kembali mendirikan kios di lokasi bekas kebakaran.

Di tengah upaya para pedagang untuk tetap dapat menghidupi keluarganya ini, beredar berbagai versi mengenai rencana pemkot yang katanya akan menggandeng investor untuk membangun Pasar Wonokromo, dan rencana relokasi semua pedagang ke lahan milik kompleks pertokoan Mangga Dua Surabaya di Jalan Jagir Wonokromo.

Yang disesalkan para pedagang, dari rencana yang menyangkut kelangsungan hidup dan nasib mereka, Pemkot Surabaya tidak sekali pun mengajak mereka berdialog atau sekadar urun rembuk. Menurut para pedagang, pemkot seakan membisu kepada para pedagang yang terkena musibah, namun menjual mulut kepada investor yang sepertinya sangat ditunggu-tunggu kehadirannya bak malaikat penyelamat.

"Kami ini dianggap apa? Layaknya sebuah bencana, kami yang telah menjadi korban seharusnya didisikno (didahulukan). Tetapi, kenyataannya sampai sekarang pemkot hanya sibuk mencari investor, yang sampai sekarang juga belum bisa memberi kepastian," keluh Baini (55) dengan nada bertanya-tanya.

Oleh karena itu, pedagang barang pecah belah yang memiliki 21 surat stan sah di Los C yang semuanya ludes terbakar tersebut akan tetap bertahan di Pasar Wonokromo yang ditempatinya sejak pertama kali pasar itu berdiri. "Kami akan bertahan di sini. Biar saja pemkot asyik dengan rencananya, toh mereka tidak membutuhkan kami," tegasnya sambil melayani pelanggannya yang kembali berdatangan.

Aparat Pemkot Surabaya lewat para petugas keamanan pasar pernah datang, tetapi tidak untuk berdialog dan urun rembuk. Mereka datang menyampaikan surat larangan mendirikan kembali kios di bekas lokasi kebakaran. Larangan tanpa kejelasan solusi itu ditandatanggani oleh Pelaksana Tugas Wali Kota Surabaya Bambang DH, bertanggal 31 Mei 2002, dan sampai ke tangan para pedagang tanggal 2 Juni 2002.

Memang, dalam surat yang ditembuskan ke beberapa instansi terkait itu disebutkan bahwa lahan kompleks pertokoan Mangga Dua Surabaya sebagai tempat relokasi. Namun, para pedagang sudah telanjur membangun kembali kios mereka dengan modal tidak sedikit. Larangan dinilai para pedagang sudah terlambat. Dan, ketika mereka melihat tempat relokasi, mereka langsung menolak karena lokasinya di trotoar dan bahu jalan. Lagi pula, jumlah serta ukurannya tidak masuk akal, yaitu hanya 915 stan dengan ukuran sekitar satu meter persegi.

BUKAN hanya para pedagang yang menilai tidak masuk akalnya jumlah dan ukuran stan, namun para petugas PD Pasar Surya juga mengatakan hal senada. "Dengan luas sekitar satu meter persegi, bisa berjualan apa para pedagang jika menempati relokasi ini. Untuk badan saja, pasti sudah sulit," papar Imam C, staf PD Pasar Surya yang ditemui sedang menjaga stan yang sudah selesai dikerjakan.

Pembangunan tempat berjualan itu sekarang tidak jelas lagi kelanjutannya, lantaran rencana mendirikan lagi sekitar 4.000 stan di lahan kompleks pertokoan Mangga Dua Surabaya sesuai rencana sepihak Pemkot Surabaya ditolak oleh pemilik lahan. Bersamaan dengan selesainya kios di trotoar dan bahu Jalan Jagir Wonokromo itu, pihak Mangga Dua mendirikan tembok beton setinggi tiga meter di lahan sepanjang jalan tersebut.

Di tengah ketidakjelasan rencana Pemkot Surabaya ini, semua pedagang sudah hampir selesai mendirikan kiosnya kembali di lahan bekas kebakaran. Saat ini, hampir separuh pedagang sudah kembali menggelar dagangannya di dalam pasar. Bahkan, puluhan pedagang yang semula menggelar dagangan di tepi Jalan Stasiun Wonokromo berangsur-angsur masuk kembali ke dalam pasar karena kios mereka sudah siap ditempati kembali.

"Kalau menunggu rencana pemerintah yang sampai sekarang juga tidak jelas, mau makan apa saya. Kebutuhan setiap hari enggak bisa dibendung. Lagipula, keempat anak saya butuh biaya yang enggak sedikit, karena sebentar lagi tahun ajaran baru," ujar Nur (38) yang kembali berjualan pakaian di kiosnya di Los F.

Selain sambungan aliran listrik yang belum terpasang, kini sarana pasar sudah kian lengkap dan semakin ramai seperti sebelum terjadi peristiwa kabakaran. Para pembeli dan pelanggan pun sudah berangsur berdatangan. Beberapa pedagang justru sudah kembali memasang pesawat telepon karena kabelnya masih ada.

SAAT Pemkot Surabaya tampak tidak siap dengan rencana relokasi yang sering didengungkannya, dan saat ribuan pedagang tetap bertahan di lokasi bekas kebakaran untuk kembali berjualan, apa yang harus dilakukan?

Mungkin kita akan tertegun lama memikirkannya. Namun, jika bertanya kepada para pedagang yang penuh semangat dan optimistis untuk memulai babak baru kehidupannya setelah menjadi korban peristiwa kebakaran, jawabannya cukup sederhana.

"Saatnya pemkot turun ke sini. Ngomong dan berdialog langsung dengan pedagang. Pemkot harus jujur mengenai rencananya, dan harus juga mendengarkan pendapat kami. Berlarut-larutnya permasalahan pasar ini karena pemkot salah langkah dengan tidak pernah mengajak para pedagang berkomunikasi," ujar Agung (31), pemilik kios di Los C.

Tampak sederhana memang, namun itulah langkah awalnya yang menurut para pedagang akan lebih dapat memecahkan permasalahan. "Pedagang di sini mudah diatur asal diwongke (diorangkan dengan diajak dialog). Kalau masih seperti sekarang, di mana pemkot membisu, kami juga akan terus bertahan dengan cara kami sendiri," tegas Salim (43), pedagang gerabah di Los C.

Sebulan sudah kebakaran Pasar Wonokromo berlalu. Akankah Pemkot Surabaya terus membisu di hadapan ribuan pedagang yang menjadi korban, namun kini penuh semangat dan optimisme menata kehidupan mereka setelah hasil jerih payahnya bertahun-tahun hangus terbakar bersama dengan kios-kios mereka? Hanya Pemkot Surabaya yang tahu jawabnya....

inu

rp 1.500

TEPAT pukul 12.00 di pabrik PT Golden Rubberindo I (New Era), Gresik. Tiga kali bunyi bel keras menyerupai bunyi sirene pertanda kebakaran, membuat ribuan buruh yang umumnya perempuan berhamburan keluar dari dalam lingkungan pabrik. Sebelum menuju gerbang yang dijaga dua petugas satuan pengamanan (satpam), para buruh meninggalkan keplek (tanda pengenal) di pos.

Beberapa saat kemudian, puluhan warung makan yang sebelumnya sepi di sepanjang Jalan Mayjen Sungkono itu riuh karena penuh dijejali buruh. "Soto dua enggak pakai sambel." "Bakso bening satu." "Nasi pindang, sambelnya yang banyak." "Nasi kuah tahu sama sayur lodeh." "Saya biasa, Bu, nasi sama kering tempe."

Teriakan pesanan makan siang itu terlontar dari para buruh bersahut-sahutan di setiap warung makan. Tidak jauh berbeda, gerobak para pedagang makanan yang khusus mangkal pada jam istirahat antara pukul 12.00-13.00 di sekitar pabrik juga dikerumuni para buruh yang memesan makanan yang mereka jajakan, seperti rujak dan kerupuk upil.

Beberapa saat kemudian, bel keras kembali berbunyi pertanda waktu istirahat tinggal 30 menit. Mereka umumnya sudah selesai makan, dan lalu berkelompok ngerumpi di trotoar atau di sekitar warung tempat mereka makan. Pukul 12.50, mesin pabrik sandal itu dihidupkan. Gemuruh bunyi mesin seakan menjadi perintah bagi satpam untuk segera membunyikan bel.

Para buruh lalu bergegas masuk ke dalam pabrik. Tepat pukul 13.00, bel dibunyikan tiga kali lagi sebagai pertanda jam istirahat sudah selesai, diikuti penutupan gerbang pabrik setinggi tiga meter oleh satpam. Jalan Mayjen Sungkono yang sebelumnya ramai, kembali sepi. Itulah rutinitas yang terjadi setiap hari.

NAMUN, Senin (3/6/2002), rutinitas itu tidak terlihat karena aksi mogok seluruh buruh yang berjumlah 3.500 orang di pabrik itu. Tidak ada kegiatan produksi, sehingga gemuruh bising mesin terhenti. Bunyi bel keras tidak terdengar lagi. Dengan spanduk, poster, dan selebaran, para buruh menuntut perbaikan upah.

"Tidak muluk-muluk, kami tahu posisi kami. Karena itu, dengan mogok ini kami hanya menuntut hak minimal kami saja agar dipenuhi pihak manajemen," ujar buruh bagian material, Syaiful (21).

Seperti tertera dalam selebaran, tuntutan para buruh adalah kenaikan uang makan menjadi Rp 2.500 dari Rp 1.500 per hari, uang kopi menjadi Rp 1.000 dari Rp 350 per hari, uang premi hadir Rp 15.000 dari Rp 8.000 per hari, dan uang pembalut sebesar dua kali gaji pokok dua hari.

Alasan tuntutan para buruh sangat mendasar, yaitu kenaikan harga kebutuhan sehari-hari yang seakan berlomba dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). "Bisa apa zaman sekarang dengan uang makan Rp 1.500 per hari?" tanya Hani yang sudah lima tahun menjadi buruh di pabrik itu.

Selain karena minimnya upah, para buruh juga mengeluhkan manajemen yang tidak tunduk pada peraturan perundangan yang ada, seperti pemberian pesangon terhadap buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) secara sepihak. Karena itu, para buruh menuntut dibuat kembali kesepakatan kerja bersama (KKB) yang sesuai dengan peraturan perundangan.

SELANG beberapa saat setelah tuntutan buruh disampaikan, manajemen menyebarkan selebaran yang berisi "ancaman" bagi para buruh. Manajemen menilai mogok kerja itu ilegal, dan akan diambil sikap tegas terhadap mereka yang tetap mogok kerja.

"Segala tuntutan tidak dapat diterima di saat kondisi ekonomi atau pasar seperti sekarang. Manajemen telah bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk melakukan perlindungan bagi karyawan yang ingin bekerja, dan penangkapan bagi buruh yang melakukan penghadangan terhadap yang ingin bekerja," bunyi selebaran yang ditempel di sepanjang tembok pabrik.

Membaca jawaban manajemen tersebut, para buruh tidak puas. Pimpinan Unit Kerja Federasi Serikat Pekerja Kimia Energi dan Pertambangan (PUK FSPKEP) PT Golden Rubberindo I Sudirman mendekati para buruh yang mogok. Sudirman dan para pengurus PUK FSPKEP lainnya, yang menurut sejumlah buruh sudah "terbeli", meminta seluruh buruh bekerja kembali. Dia berjanji akan menyampaikan tuntutan para buruh kepada manajemen.

"Sudahlah, ayo tanda tangan di sini dan bikin pernyataan tidak akan mogok lagi," rayu Sudirman yang bekerja di bagian teknik kepada beberapa buruh yang memimpin mogok. Dengan janji bahwa PUK FSPKEP akan memperjuangkan tuntutan mereka, para buruh menghentikan mogok namun tidak bersedia membubuhkan tanda tangan di kertas kosong.

Hari berikutnya, buruh kembali bekerja dalam penjagaan luar biasa dari aparat Kepolisian Resor (Polres) Gresik dan beberapa anggota TNI dari Korem 084 Surabaya. Para petugas itu bahkan datang lebih awal ketimbang buruh ke pabrik sandal tersebut. "Kami hanya memenuhi permohonan perusahaan untuk memastikan tidak akan ada lagi aksi mogok para buruh," ujar polisi yang berjaga sejak pukul 07.00.

Lalu, bagaimana dengan tuntutan para buruh yang dimandatkan kepada PUK FSPKEP untuk disampaikan ke pihak manajemen? "Belum ada kelanjutan. Belum ada meeting," ujar Sudirman dengan nada tinggi ketika dihubungi melalui telepon. Sebelumnya, dia selalu menolak menerima dengan alasan sibuk, juga ketika istirahat.

Bagaimana dengan buruh yang sehari sebelumnya mogok? Bagai tidak pernah terjadi apa-apa, para buruh kembali bekerja seperti biasa. Tiga buruh yang dituduh sebagai provokator, yaitu Kendar, Toha, dan Alfin, dipaksa manajemen perusahaan untuk menandatangani surat pengunduran diri alias terkena PHK.

Ditanya, bagaimana langkah berikutnya dalam menyampaikan tuntutan yang sebelumnya disampaikan dengan mogok kerja, beberapa buruh hanya pasrah. "Kami enggak heran. Akhirnya pasti seperti ini, manajemen enggak akan mempertimbangkan tuntutan kami. Ya, daripada mogok enggak dapat upah sama sekali, lebih baik masuk kerja meskipun upahnya selalu tidak mencukupi. Coba saja bayangkan, bisa apa dengan uang makan Rp 1.500 per hari?"

inu

organik

KEGEMBIRAAN dan optimisme terpancar dari wajah 31 petani yang tergabung dalam Kelompok Among Tani Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur (Jatim), Sabtu (25/5/2002).

Bukan karena pupuk yang akhir-akhir ini langka telah melimpah tersedia di desa mereka dengan harga terjangkau. Kegembiraan dan optimisme itu terpancar karena munculnya tekad yang kuat dari para petani di lereng Gunung Semeru ini melepaskan ketergantungannya pada pupuk kimia seperti urea yang menjadi langka dan tidak terjangkau harganya saat musim tanam tiba.

Tekad ini muncul karena hasil panen raya perdana padi seluas 25 hektar yang mereka tanam dengan pupuk organik, Desember 2001, berhasil dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan tentu menguntungkan kelestarian lahan pertanian.

Sebelumnya, jarang bisa melihat kegembiraan dan optimisme di wajah para petani, sekalipun musim panen tiba. Pasalnya, kenyataan kelangkaan pupuk dan jatuhnya harga gabah selalu menyertai setiap musim panen tiba. Hasil panen yang telah para petani tunggu dengan kucuran keringat di bawah teriknya Matahari selama sekitar empat bulan, seakan tidak ada nilainya.

"Kami merasakan itu semua. Rasanya makin sulit saja kami bisa gembira setiap kali musim panen tiba. Harga gabah jatuh. Urea langka dan harganya lalu naik. Padahal, setiap musim tanam tiba, jumlah urea yang kami gunakan selalu harus lebih banyak dari musim tanam sebelumnya. Bisa dibayangkan bagaimana kami bisa gembira dengan kondisi seperti itu," papar Poniman (50).

Karena kesadaran jeratan belenggu tersebut, dimulailah upaya Poniman dan 30 petani lainnya untuk meninggalkan ketergantungan menggunakan pupuk kimia seperti urea san SP 36. Upaya makin gigih dilakukan setelah mendapati kenyataan bahwa tanah pertanian mereka yang semula subur menjadi tandus dan miskin unsur haranya setelah pemakaian pupuk kimia.

Tidak diperlukan penelitian macam-macam untuk mengetahuinya. Poniman mengatakan, meningkatnya jumlah urea yang mereka gunakan setiap musim tanam membuktikan kemiskinan unsur hara di lahan mereka. Pada tahun 1970-an petani hanya membutuhkan 150 kg urea, namun makin lama kebutuhan urea meningkat, dan sekarang mencapai 500 kg per hektar.

Menurut penelitian yang dilakuan oleh Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura Jatim di tujuh kabupaten, indikasi lain kemiskinan tanah akibat penggunaan pupuk kimia telihat dari sisa kandungan organik di lahan pertanian tersebut yang hanya tinggal 1,7 persen. Padahal, idealnya kandungan organik di lahan pertanian adalah lima persen. Penggunaan pupuk kimia tidak mampu memperbaiki kondisi ini, tetapi justru sebaliknya, makin mempermiskin.

"Kondisi tersebut membuat beberapa dari kami menyambut baik tawaran Koperasi Tani Nusantara yang bersedia memberi modal dan membeli hasil pertanian yang kami kembangkan secara organik. Saat ini baru 25 hektar dengan 31 petani. Namun, saya yakin dengan keuntungan yang lebih banyak tidak hanya secara ekonomis, 200 hektar lahan yang ada di kecamatan kami akan berubah menjadi lahan pertanian organik," ujar Poniman yang bersama keluarganya menggarap lahan seluas enam hektar.

PETANI Desa Oro-oro Ombo termasuk beruntung, karena bisa beralih ke pertanian organik pada saat jutaan petani lain di Indonesia tidak punya pilihan lain kecuali tergantung pada pupuk kimia. Mereka beruntung karena lahan pertaniannya berada di dataran tinggi di lereng Gunung Semeru.

Di dataran tinggi, karakteristik lahan yang disyaratkan untuk bisa dikembangkan secara organik terpenuhi. Karakteristik itu adalah memiliki mata air langsung yang mengalir ke lahan tanpa melalui daerah lain, lahan sangat subur dan memiliki unsur hara yang tinggi, belum ada aktivitas penggunaan pupuk kimia dan pestisida secara intensif, lahan jauh dari permukiman padat, dan jauh dari kegiatan industri yang menghasilkan limbah.

Dari pemeriksaan lapangan pada tanggal 7-8 Mei 2002 oleh Badan Sertifikasi Organik EMBRIO dan Lembaga Pengawasan Produk Pertanian, dinyatakan, kondisi lahan pertanian di Desa Oro-oro Ombo sangat mendukung untuk pengembangan pertanian organik. EMBRIO yang mendapat lisensi dari International Federation of Organic Agriculture Movement (IFOAM) kemudian mengeluarkan sertifikat kelayakan pertanian organik di areal 25 hektar tersebut.

Sertifikasi ditujukan untuk melindungi konsumen dari penipuan atau manipulasi produk organik di pasar dan melindungi produsen (petani) produk pertanian organik dari produk lain yang disebut-sebut sebagai produk organik. Selain itu, sertifikasi ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian bahwa seluruh tahapan produksi, persiapan, penyimpanan, pengangkutan, dan pemasaran dilakukan sesuai persyaratan sistem organik yang berlaku secara internasional.

Sebagai contoh adalah persyaratan teknis yang termasuk dalam aspek teknis berupa lahan dan bibit. Lahan yang digunakan untuk produksi pertanian organik harus bebas dari bahan kimia sintetis (pupuk kimia dan pestisida). Jika lahan yang akan digunakan berasal dari lahan yang sebelumnya digunakan untuk pertanian non-organik, maka lahan itu harus dilakukan konversi selam 12 bulan. Sementara untuk benih dan bibit harus digunakan dari pertanian organik pula, dan tidak boleh berasal dari produk rekayasa genetika.

SEBAGAI ganti pupuk kimia berupa urea dan SP 36 yang selama ini digunakan, para petani beralih pada pupuk castingyang merupakan kotoran cacing yang dipelihara dengan memberinya pakan jerami dan kotoran ternak. "Rata-rata dibutuhkan satu ton castinguntuk lahan seluas satu hektar, yang ditaburkan dua kali saat setelah dibajak dan setelah 20 hari tanam," tutur Susapto (40).

Karena baru memulai, untuk sementara, Susapto dan petani lain mendatangkan castingyang sudah jadi dari Lumajang dengan harga per kuintal Rp 70.000. "Namun, sekarang kami sudah bisa membuat sendiri pupuk organik tersebut. Kami hanya perlu membeli cacing penghasil castingyang didatangkan dari Malaysia," jelasnya. Proses pembuatan pupuk organik ini memakan waktu satu minggu. Selain cacing yang dibeli dengan harga Rp 100.000 per kilogram dari PT Mega Surya Lumajang, bahan yang diperlukan adalah jerami, cairan pupuk FGSP, dan kotoran ternak yang merupakan pakannya.

Dari penelitian yang dilakukan Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Kabupaten Lumajang, hasil yang diperoleh dengan penggunaan pupuk organik adalah kesuburan lahan dan produktivitasnya meningkat, kualitas produk lebih baik dan sehat, nilai jual lebih tinggi, pendapatan petani meningkat, dan petani menjadi terampil dan mandiri.

SEPERTI sudah dikemukakan, tidak semua lahan pertanian bisa diolah secara organik. Namun, dari sekitar 1.160.426 hektar luas lahan pertanian di Jatim, sekitar 1.830 hektar lahannya layak dikembangkan untuk pertanian organik. Lahan itu tersebar di tujuh kabupaten, yaitu Lumajang (880 hektar), Magetan (418 hektar), Malang (280 hektar), Tulung Agung (140 hektar), Ngawi (55 hektar), Jombang (37 hektar), dan Madiun (20) hektar.

Dengan surplus produksi padi dua juta ton dibandingkan tingkat konsumsi masyarakat di Jatim, maka merupakan keputusan sangat tepat mengembangkan pertanian organik di 1.830 hektar lahan potensial tersebut. Dengan demikian, surplus produksi padi yang merupakan salah satu faktor penyebab turunnya harga dasar gabah, dapat dialihkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan diminati pasar dunia, yaitu produk pertanian organik.

inu

pekalen

PETUALANGAN dimulai dari base camp Songa Rafting (SR) di Desa Condong, Kecamatan Gading, Probolinggo, Jawa Timur (Jatim). Usai mengenakan perlengkapan arung jeram seperti helm, pelampung, dan dibekali dayung paddle (dayung perorangan), para penggiat arung jeram dibawa dengan mobil bak terbuka menuju lokasi pemberangkatan yang berjarak sembilan kilometer di Desa Pesawahan, Kecamatan Tiris.

Setelah melalui jalan menanjak dan berkelok-kelok menembus beberapa desa, penggiat diminta membentuk lingkaran untuk melakukan peregangan otot, dipimpin seorang kru SR. "Sungai Pekalen yang akan kita arungi berjarak sekitar 900 meter dari sini. Kita akan berjalan kaki menuju tempat pemberangkatan itu setelah peregangan otot selesai," ujarnya memotivasi.

Tiba di lokasi pemberangkatan, empat perahu karet dan beberapa kru SR lain sudah siap. Penggiat sudah tidak sabar ingin segera terjun saat melihat jernihnya Sungai Pekalen yang bersumber dari Gunung Argopuro dan Gunung Lamongan. Namun, demi keselamatan, terlebih dahulu diberi instruksi praktis dan singkat berarung jeram dan aba-aba yang dipakai. Ketegangan kian bertambah.

"Untuk keselamatan, kami tidak mau berkompromi. Karena itu, semua tahapan harus diikuti, dan instruksi mengenai teknik dan aba-aba harus dipahami penggiat arung jeram," jelas Manajer Program SR Imam Santoso (29) yang turut serta dalam rombongan. Setelah semua paham, perahu karet pertama berisi enam orang yang sekaligus tim rescue mengarungi derasnya arus Sungai Pekalen.

DARI Desa Pesawahan, empat perahu karet berisi masing-masing enam penggiat arung jeram kemudian berturut-turut menyusuri sungai yang melalui tiga kecamatan di Kabupaten Probolinggo, yaitu Tiris, Bremi, dan Condong. Menurut catatan SR, terdapat sedikitnya 33 jeram di jalur berjarak sembilan kilometer yang "berdinding" bebatuan dan rimbunnya tanaman.

Dimulai dengan jeram yang diberi nama Jeram Selamat Datang, penggiat sudah diingatkan agar berhati-hati dan mematuhi aba-aba dua kru SR yang berada di masing-masing perahu karet. "Maju kanan," seru kru bernama Nyoman (17) untuk menghindarkan perahu menabrak batu besar di sisi kiri perahu yang terbawa arus.

Meskipun pakaian basah kuyup karena empasan arus sungai yang masuk kategori grade dua sampai tiga plus setara dengan arus Sungai Citarik, Sukabumi, Jawa Barat, keceriaan penggiat segera terpancar. Dayung paddle masing-masing lalu diangkat tinggi-tinggi untuk kemudian ditamparkan ke aliran sungai sebagai tanda keberhasilan melewati sebuah jeram dan kekompakan tim dalam satu perahu.

Lolos dari Jeram Selamat Datang, Jeram Pilihan Agak Rumit atau biasa disingkat Jeram Pilar sudah menanti. Disebut agak rumit, karena jeram tersebut diapit dua batuan besar. "Sebelum meneriakkan aba-aba kepada timnya, kru harus mengambil pilihan untuk melalui sisi sebelah mana. Itu letak agak rumitnya Jeram Pilar ini," papar Imam.

Melintasi dua jeram ini, empat perahu masih selamat. Namun, begitu melintasi Jeram Topmarkotop Satu, satu perahu yang terseret derasnya arus menambrak sisi kiri perahu di depannya dan terbalik. Dua kru lalu membalikkan perahu, diikuti naiknya empat penggiat lain ke perahu tersebut untuk melanjutkan pengarungan sungai dengan wajah tetap ceria penuh tawa, meskipun beberapa teguk air sempat tertelan.

"Di alam, menghadapi situasi apa pun kuncinya harus tenang. Dan karena ada pemandu, prosedur dan aba-aba yang disampaikannya harus diikuti agar semua selamat," jelas Imam. Karena itu, selain menawarkan keceriaan dan kesegaran, wisata air yang baru digalakkan di Sungai Pekalen awal 2002 ini diharapkan juga menumbuhkan rasa percaya diri para penggiatnya.

Dari jeram satu ke jeram berikutnya yang jaraknya berdekatan dengan tingkat kesulitan bervariasi, kepercayaan diri penggiat akan teruji. "Dari semua jeram yang akan dilalui, Jeram God Bless merupakan yang paling berbahaya dengan tingkat kesulitan mencapai grade empat. Di situlah kami harus waspada penuh, karena kemungkinan perahu terbalik sangat besar," ujar Erwin yang hafal betul sejarah dan karakteristik setiap jeram yang dilalui.

Pemuda asli Probolinggo ini menambahkan, penamaan setiap jeram memiliki sejarah yang unik. Selain mencerminkan karakteristik jeram, nama itu kadang juga begitu saja diberikan berdasar pada kejadian di jeram tersebut. Sebut saja misalnya Jeram Indosat, Jeram Marlboro, Jeram Istana, dan Jeram Silvie.

"Dinamai Jeram Silvie karena di jeram yang dikategorikan tidak berbahaya tersebut penggiat asal Surabaya bernama Silvie terjatuh. Karena waktu itu belum ada namanya, Silvie lantas dipakai sekaligus untuk mengingat kejadian itu," jelas Erwin sambil tersenyum.

Jeram lain diberi nama berdasarkan karakteristiknya, seperti Jeram Kuda Liar, Kuda Binal, dan Kuda Nil yang berturut-turut harus diarungi. Melewati Jeram Kuda Binal kami seperti dihentak-hentakkan seekor kuda karena jalur menurun dan berjeram panjang.

Jeram lainnya adalah dua jeram berbentuk huruf S, Mercury, Penantian, Rengganis, Lumba-lumba, Lorong, dan Delta. Ada sensasi berbeda saat mengarungi setiap jeram dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dengan sekali istirahat menikmati segarnya kelapa muda dan makanan kecil yang disediakan warga sekitar sungai.

SEBAGAI wahana baru berwisata, arung jeram Sungai Pekalen memang jauh dari terkenal jika dibanding wisata alam Pegunungan Bromo yang sama-sama berada di Kabupaten Probolinggo. Operator SR menyadari hal ini, dan melihatnya sebagai tantangan untuk menunjukkan variatifnya pilihan berwisata di wilayah Pegunungan Bromo dan Jatim.

"Potensi wisata arung jeram di sungai terbaik di Jatim ini sangat besar. Tingkat kesulitan yang variatif dan jaminan dapat dilaluinya sungai sepanjang tahun, memungkinkan wisata petualangan ini dapat menyegarkan dan terutama menghibur," ujar Imam yang berencana membangun beberapa prasarana penunjang wisata di sekitar lokasi arung jeram.

Untuk kesiapan tersebut, SR yang berkerja sama dengan beberapa operator arung jeram lain seperti Mega Rafting Bali dan Mitra Persada Rafting Yogyakarta siap memandu satu kelompok berjumlah 60 penggiat sekali jalan. Untuk rombongan sebanyak itu, dibutuhkan 16 perahu karet beserta sekitar 30 kru. Karena setiap hari melayani dua trip, pukul 09.00 dan 14.00, maksimal 180 penggiat bisa dilayani per hari.

"Namun, kami juga tidak gegabah. Untuk musim hujan, demi keamanan, kami hanya akan melayani trip pagi. Itu pun setelah kami melihat kondisi lapangan yang grade-nya bisa meningkat menjadi empat dengan tingkat kesulitan dan risiko lebih tinggi," jelas Imam.

Sebagai sebuah potensi, Sungai Pekalen, menurut mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam (Himapala) IKIP Surabaya ini, lebih potensial jika dibanding dengan Sungai Ayun, Bali. "Unsur hiburan dan tantangan dari 33 jeram yang dilalui membuat arung jeram di Bali tidak ada apa-apanya," katanya.

Hanya saja, besarnya potensi yang ada masih harus menunggu waktu lama realisasinya. Minimnya prasarana pendukung seperti jalan dan angkutan menuju lokasi bisa menjadi hambatan. SR sebagai operator sudah membuat kesepakatan dengan Pemerintah Kabupaten Probolinggo mengenai pengadaan dan perbaikan prasarana ini.

"Dalam kesepakatan tersebut kami diminta menyetor Rp 2,6 juta per bulan ke pemerintah dengan konsekuensi mereka membantu pengadaan prasarana. Meskipun kami rasakan berat, kami menerima dengan harapan segera dibangun prasarananya. Namun, sampai sekarang dukungan pemerintah belum juga terlihat," keluhnya.

Oleh karena sulit mengandalkan pemerintah, SR berupaya juga menggandeng pihak lain untuk menggali potensi wisata petualangan ini. Saat ini sedang dalam tahap kesepakatan untuk membuat paket-paket wisata dengan Hotel Grand Bromo di Desa Sukapura yang berjarak sekitar 60 kilometer dari lokasi arung jeram.

Sementara paket itu akan dijalankan, SR juga akan membangun prasarana seperti tempat ganti pakaian, kamar mandi, dan tempat peristirahatan usai berarung jeram. "Selain menjadikannya sebagai pusat wisata, ke depan di sini bisa dijadikan pusat pendidikan outbond training untuk orang muda," jelasnya sambil bergegas menuju tempat peristirahatan untuk menikmati hidangan santap siang setelah setengah hari berarung jeram.

Berminat mencoba menaklukkan 33 jeram di Sungai Pekalen yang berjarak sekitar 100 kilometer dari lokasi wisata Pegunungan Bromo? Jika ya, jangan lupa membawa pakaian ganti, sandal atau sepatu untuk berbasah-basah, dan lotion atau sun block untuk melindungi kulit dari sengatan matahari bagi mereka yang takut kulitnya menghitam.

inu

gas

USAI shalat isya di Desa Rahayu, Kecamatan Soko, Tuban, Jawa Timur (Jatim). Rumah warga yang umumnya berdinding anyaman bambu tertutup rapat. Tidak terlihat aktivitas penduduk di luar rumah yang redup kekuning-kuningan karena nyala bola lampu berdaya rendah. Meskipun malam itu langit cerah, warga memilih mengurung diri di dalam rumah.

TIDAK ada keceriaan anak-anak menyambut terangnya bulan dan bertaburannya bintang di langit seperti digambarkan dalam lagu-lagu dolanan. "Warga memilih berada di dalam rumah karena tidak tahan dengan bisingnya suara dari dua sumur minyak itu dan bau gas H2S (hidrogen sulfat-Red), gas berbahaya yang menyengat hidung," papar warga sambil bergegas pergi dengan sepeda kumbangnya, Jumat (3/5) malam.

Alasan senada mengenai sepinya desa berpenduduk sekitar 2.000 jiwa itu diungkapkan juga oleh belasan pemuda yang malam itu berkumpul di balai bambu di sekitar lokasi dua sumur minyak. Kondisi ini menurut mereka sudah berlangsung sejak tahun 1998, saat eksploitasi minyak mentah oleh Joint Operating Body (JOB) Pertamina-Devon dimulai di desa tersebut.

Berbagai upaya telah dilakukan warga untuk menyampaikan keluhan tersebut kepada pihak JOB yang dalam beberapa kesempatan sering ingkar janji. Puncak keluhan disuarakan dalam lima tuntutan dan disampaikan dua hari berturut-turut tanggal 1-2 Mei 2002 yang berujung pada pembubaran dengan kekerasan oleh aparat Kepolisian Wilayah (Polwil) Bojonegoro dan Kepolisian Resor (Polres) Tuban, persis seusai negosiasi yang tidak menghasilkan kesepakatan apa pun.

Selain mengakibatkan puluhan warga luka-luka, pembubaran dengan berondongan peluru karet aparat, Kamis malam itu membuat lima warga luka tembak serius. Mereka adalah Karnoto Paetam (40), Suparji (23), Bayan Sauri (35), Rahmat (30), dan Kanan (39). Sampai sekarang, tidak jelas bagaimana penyelesaian kasus penembakan ini.

Lima warga yang menjadi korban ini menandai lima tuntutan mereka yang tidak dikabulkan JOB dalam negosiasi, yaitu pemberian kompensasi Rp 20.000 per warga per hari, pembangunan poliklinik, kontribusi untuk desa Rp 100 juta per bulan, sewa tanah sampai radius 500 meter, dan pemberian kesempatan bekerja sebagai tenaga kasar di perusahaan yang memproduksi sekitar 12.000 barrel minyak mentah per hari.

JEDA tiga hari setelah negosiasi tanpa hasil dan pembubaran aksi warga Rahayu dengan kekerasan oleh polisi, dilakukan negosiasi lanjutan antara wakil warga dengan JOB, Senin lalu. Karena sudah diwanti-wanti baik oleh aparat Pemerintah Kabupaten Tuban dan aparat kepolisian sejak sehari sebelumnya agar tidak menggelar aksi di sekitar lokasi negosiasi di Mudi PAD B, warga hanya berkumpul di pertigaan pasar desa dan di balai desa. Kumpulnya warga yang menunggu hasil negosiasi ini pun mendapat penjagaan polisi.

Penjagaan jauh lebih ketat di lokasi negosiasi. Puluhan aparat Polsek Soko, Polsek Rengel, Polres Tuban, dan Koramil Soko, bersiaga dengan menegur dan mendekati setiap orang yang mencurigakan di sekitar lokasi. Sementara di dalam ruangan, 13 wakil warga selama lebih dari enam jam bernegosiasi dengan pihak JOB yang diwakili Field Manajer Harun Siregar. Bertindak sebagai moderator yang memosisikan diri di pihak JOB adalah Kepala Satuan Reserse Polres Tuban Ajun Komisaris Kartono.

Meskipun berjalan alot, akhirnya Field Manajer JOB Harun Siregar sebagai pihak pertama dan Kepala Desa Rahayu M Solikhin sebagai pihak kedua bersedia menandatangani nota kesepakatan yang berisi kesediaan pihak pertama memberikan bantuan pengembangan masyarakat (community development), diadakan penelitian oleh pihak independen dengan memperhatikan saran-saran dari Dinas Lingkungan Hidup Tuban, dan apa pun hasil penelitian tersebut akan menjadi tanggung jawab pihak pertama. Rekrutmen tenaga kerja akan memperhatikan sumber daya manusia yang ada di sekitar lokasi operasi JOB, dan penyampaian aspirasi masyarakat di waktu mendatang tidak dalam bentuk demonstrasi.

Khusus untuk poin pertama nota kesepakatan tersebut, JOB pada tahun 2002 bersedia memberi kontribusi ke Desa Rahayu berupa 300 ekor kambing, program pompanisasi/irigasi seluas sekitar 40 hektar sawah petani di sekitar Flare CPA, dan klinik keliling untuk kesehatan warga yang dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Tuban. Alokasi dana untuk kontribusi ini mencapai Rp 583 juta, dan JOB yang akan ditinggal hengkang Devon-digantikan oleh Petro China sebagai operator-berjanji akan melanjutkan kontribusi serupa tahun 2003.

HASIL kesepakatan yang sebenarnya masih jauh dari harapan dan tuntutan warga ini setidaknya untuk sementara waktu mampu meredam kemarahan mereka. Meskipun belum tahu kapan realisasi kontribusi JOB tersebut, warga Rahayu kini lebih tenang. "Kami menunggu pelaksanaan program tersebut dan semua tergantung Devon," ujar Solikhin.

Lebih lanjut Kepala Desa Rahayu ini mengatakan, meskipun telah ada kesepakatan dalam negosiasi lanjutan tersebut, tuntutan warga berkaitan dengan buangan gas H2S dan kebisingan mesin yang menjadi pokok utama tuntutan tidak terbatalkan dan meminta pihak independen segera bekerja dan menyerahkan hasilnya kepada JOB yang bersedia bertanggung jawab apa pun hasilnya.

Seperti pengakuan sejumlah warga yang umumnya petani, buangan gas H2S telah menimbulkan banyak korban mulai dari pusing, mual, muntah, dan bahkan pingsan. Warga mengalami hal itu tidak hanya ketika sedang menggarap sawah, tetapi juga ketika sedang berada di dalam rumah.

"Dalam hari-hari terahir seusai demonstrasi, kami merasakan adanya pengurangan buangan gas H2S dari dua sumur tersebut. Kami enggak tahu, mungkin Devon sudah mulai sadar. Tetapi, bagaimanapun penelitian oleh pihak independen harus tetap dilakukan dan segera ditindaklanjuti hasilnya, karena gas tersebut masih tetap mengancam kami yang tinggal dekat lokasi," tegas Solikhin.

inu

siti fatimah

SEPI dan terpencil. Kesan itulah yang menyergap ketika memasuki Kompleks Makam Siti Fatimah binti Maimun di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik, Jawa Timur (Jatim). Kesan ini sama sekali berbeda jika, misalnya, kita memasuki kompleks makam penyebar Islam lainnya seperti Syeikh Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di kabupaten yang sama.

DUA kompleks makam terakhir rata-rata dikunjungi 25 rombongan bus peziarah setiap hari. Peziarah tidak hanya berasal dari Jatim atau Pulau Jawa saja, tetapi juga dari Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Sementara itu, di Kompleks Makam Siti Fatimah binti Maimun yang bergelar Putri Dewi Retno Swari, satu rombongan bus peziarah per minggu saja sangat jarang terjadi.

"Biasanya yang datang berombongan ke makam ini adalah rombongan yang kelebihan waktu saja. Kalaupun ada sangat jarang. Belum tentu seminggu sekali ada yang datang berombongan. Setiap hari, ya seperti ini suasananya. Sepi," tutur Hasim (46) yang secara turun-temurun menjadi juru kunci makam tersebut.

DITILIK dari umur, kompleks makam Islam yang menjadi penyibak kejayaan Gresik masa lalu ini merupakan yang tertua. Di makam inilah ditemukan sumber tertulis primer berupa batu nisan berhuruf Kufi (Arab), berbahasa Arab, dan terkenal dengan sebutan Batu Nisan Leran (de Grafsteen te Leran). Penamaan ini didasarkan pada tempat ditemukannya batu nisan, yaitu Desa Leran.

Menurut Mohammad Yamin, orang pertama yang menemukan dan membaca tulisan ini adalah peneliti asal Belanda JP Moquette, tahun 1911. Ia menerjemahkan tulisan di batu nisan tersebut ke dalam huruf Arab baru.

Terjemahannya dalam bahasa asing tertuang dalam Handelingen van hest Eerste Conggres voor de Tall, Land, en Volk enkunde van Java. Seperti diterjemahkan Yamin, tulisan dalam nisan tersebut berbunyi sebagai berikut: Atas nama Tuhan Allah Jang Maha-Penjajang dan Maha Pemurah. Tiap-tiap machluk jang hidup di atas bumi itu adalah bersifat fana. Tetapi wadjah Tuhan-mu jang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanja. Inilah kuburan wanita jang mendjadi kurban sjahid, bernama Fatimah binti Maimun, putera Hibatu'llah, jang berpulang pada hari Djumijad ketika tudjuh... sudah berliwat bulan Radjab dan pada tahun 495, jang mendjadi kemurahan Tuhan Allah Jang Mahatinggi, bersama pula Rasulnja Mulia. (Muhammad Yamin, Tatanegara Madjapahit, Jajasan Prapandja, Djakarta: 1962).

Mengenai tahun meninggalnya Fatimah yang diduga karena terserang wabah penyakit ini, Moquette membacanya tahun 495 H atau 1102 M, tetapi menurut Yamin, ada kemungkinan pula tahun 475 H atau 1082 M. Perbedaan ini disebabkan karena masih ada keraguan dalam membaca satu kata yang mungkin berarti 70 atau mungkin berarti 90. Berdasar tarikhnya, Yamin dalam buku tersebut menyatakan, tulisan Leran merupakan tulisan Arab tertua di Asia Tenggara.

Dari interpretasi tulisan tersebut, para peneliti sependapat bahwa Fatimah yang menurut juru kunci makam berasal dari negeri Kedah, Malaka, adalah pemeluk Islam. Sementara interpretasi tentang beradanya Islam di Leran pada masa itu terdapat berbagai asumsi yang berbeda. Yang pasti, pada masa itu Leran telah menjadi daerah permukiman dengan status desa perdikan "Sima" yang di dalamnya hidup orang-orang bebas yang umumnya identik dengan pedagang.

LUAR biasa penting peninggalan sejarah di makam tempat 13 pemeluk Islam pertama di Jawa ini dimakamkan. Namun sayang, berbeda dengan beberapa makam bersejarah lain yang tersebar di wilayah Gresik, kompleks makam ini terkesan terabaikan oleh pihak-pihak yang memiliki wewenang untuk mengelola dan melestarikan peninggalan bersejarah ini.

Petunjuk jalan atau penanda ke arah makam yang terletak di tepi Jalan Manyar miring dan hampir rubuh tidak terurus. Tulisan petunjuk sudah tidak lagi terbaca karena seluruh catnya telah mengelupas.

Memang ada gerbang bercat hijau mencolok di mulut jalan menuju makam. Namun, seperti penuturan Hasim yang sejak kecil bersama orangtuanya tinggal di kompleks makam sebagai juru kunci, gerbang itu merupakan sumbangan pribadi seorang kiai asal Jombang.

Mengenai pemasangan jaringan listrik dan pengaspalan jalan menuju makam, Hasim menuturkan, kejadiannya kebetulan dan terlihat tidak ada konsep, meskipun tetap disyukurinya. "Tahun 1996, hari Jumat, saya ke Pak Bupati (Soewarso-Red) untuk memberitahu kalau makam perlu penerangan listrik. Sabtu berikutnya tiang listrik datang, Minggu didirikan, dan Senin sudah menyala lampunya," paparnya penuh semangat.

Pengaspalan jalan pun terkesan kebetulan saja. Suatu hari, pada tahun 1996, anak bupati bersama beberapa temannya dengan mobil datang ke makam. Waktu itu jalan masih becek. Mobil yang kotor kemudian dilumuri lumpur jalan. Anak itu lalu pulang memberitahu bapaknya bahwa ada makam kuno bersejarah, tetapi jalannya becek sambil menunjukkan mobilnya yang penuh lumpur. "Tidak berapa lama kemudian jalan ke makam diaspal," tutur juru kunci yang sejak tahun 1979 diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala, Trowulan, Mojokerto.

Setelah pengaspalan jalan dan pemasangan jaringan listrik, nyaris tidak ada lagi perhatian dari mereka yang berwenang untuk mengembangkan, memelihara, dan melestarikan kompleks makam bersejarah yang terletak sembilan kilometer arah baratlaut Gresik ini. Rehabilitasi terakhir oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Jatim dilakukan tahun 1979.

"Dua tahun ini memang berdiri yayasan makam yang dibentuk oleh desa. Namun, apa yang dilakukan tidak lebih dari mengurusi kotak-kotak amal yang tersebar di beberapa sudut makam. Kontribusinya untuk makam tidak ada," jelas Hasim. Bahkan, ketika awal April lalu listrik di kompleks makam dipadamkan karena menunggak rekening selama empat bulan, yayasan yang sebelumnya telah menyanggupi membayar biaya tersebut tidak melunasinya. Hasim sendirilah yang kemudian membayar biaya listrik sekitar Rp 500.000 tersebut.

Ironis memang. Namun, jika dikelola secara sungguh-sungguh dan terkonsep dengan pengadaan sarana dan prasarana pendukung, kompleks makam seluas sekitar 2,5 hektar dengan "benteng" rimbunnya pepohonan ini cukup potensial untuk dijadikan salah satu dari rangkaian wisata ziarah. Dengan dasar urutan waktu, makam yang terbagi dalam empat gugus ini dapat dijadikan awal untuk wisata ziarah makam di seluruh wilayah Kabupaten Gresik.

Di kompleks makam ini, makam Fatimah berada dalam sebuah cungkup berbentuk empat persegi panjang dengan atap berbentuk limasan yang mengerucut. Cungkup ini merupakan bangunan utama dan terbesar. Di dalam cungkup tersebut, selain Fatimah, dimakamkan juga empat orang dayangnya yaitu Nyai Seruni, Putri Keling, Putri Kucing, dan Putri Kamboja.

Selain makam dalam bangunan utama ini, terdapat tiga gugus makam lain tempat dimakamkannya tiga paman Fatimah, tiga panglima, dan dua penjaga. Untuk makam para paman dan panglima, panjangnya makam mencapai sembilan meter dan secara umum dikenal sebagai Makam Panjang. Menurut Hasim, panjangnya makam itu merupakan kiasan mengenai panjangnya rentang waktu yang dibutuhkan untuk menyebarkan agama Islam di Jawa.

Harapan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik untuk menghidupkan wisata ziarah tampaknya membutuhkan waktu panjang melihat terabaikannya makam Islam tertua itu selama ini. Jika pemkab hanya sibuk mengurusi retribusi wisata ziarah untuk peningkatan pendapatan yang saat ini sudah dibuatkan peraturan daerahnya tanpa konsep pengembangan, pemeliharaan, dan pelestariannya, rentang waktu yang dibutuhkan untuk mewujudkan harapan itu mungkin akan lebih panjang lagi.

inu