Monday, February 25, 2008

koalisi gombal

DENGAN suara tertahan dan beberapa kali menelan ludah, Abdul Kahfi Bakri hanya bisa terduduk di kursinya berdampingan dengan Ridwan Hisjam.

Sementara di sebelah kanan tempatnya duduk, Imam Utomo yang berdampingan dengan Soenarjo menundukkan kepala dengan dua tangan menengadah ke langit mengucapkan syukur. Kahfi mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan suara lirih dan terbata-bata serta sesekali menelan ludah, berujar, "Sesuatu yang sangat tidak saya duga sebelumnya. Suara yang kami peroleh tidak signifikan. Mencapai 44 saja tidak!"

Tidak hanya Kahfi yang telah mengeluarkan modal banyak yang tampak kecewa. Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid yang mendorong Kahfi maju bertarung juga tampak kecewa. Melihat hasil koalisi dengan Partai Golongan Karya, Gus Durùpanggilan akrab KH Abdurrahman Wahid-berujar, "Gagasan koalisi itu gombal.

"Mendapati pembelotan 10 anggota koalisi PKB dan Golkar, Ketua DPW PKB Jatim Choirul Anam mengaku "dikadali" Golkar. Karena itu, rencana koalisi dua partai yang sebelumnya saling berseteru ini akan digagasulang dan dievaluasi. "Rencana koalisi dengan Golkar harus dievaluasi," ujar Anam usai mendapati kekalahan.

DENGAN sedikit lebih tenang, kekalahan pasangan Kahfi-Ridwan yang salah satu penyebabnya adalah hilangnya 10 suara koalisi lalu dicarikan penyebabnya. Hari-hari setelah kekalahan lantas diikuti dengan kesibukan masing-masing fraksi dan partai yang berkoalisi mendukung Kahfi-Ridwan untuk melakukan investigasi. Antara lain dilakukan untuk memeriksa dan meminta keterangan 44 anggota DPRD Jatim dari F-KB dan F-PG.

"Melalui mekanisme internal dalam partai, kami akan mencari siapa 10 orang pembelot itu. Meskipun kami yakin fraksi kami solid, kami tetap melakukan investigasi. Kami sedang mengumpulkan fakta-fakta di lapangan," ujar Ketua F-KB DPRD Jatim Fathorrasjid.

Sebagai upaya mencari obat kekecewaan dan menyeka keterpukulan karena kalah dalam pemilihan, F-KB telah memeriksa 20 dari 33 anggota fraksinya. Dari pemeriksaan yang rencananya tuntas Senin ini, DPW PKB Jatim telah menemukan indikasi adanya pembelotan di antara anggotanya sendiri.

Golkar yang semula diposisikan sebagai satu-satunya tertuduh dalam pembelotan itu sedikit lega. Beban berkurang, meskipun upaya untuk menemukan anggotanya yang nyata-nyata telah membelot terus dilakukan. Menurut Ketua F-PG DPRD Jatim Edy Wahyudi, upaya mencari pembelot itu dilakukan Senin ini.

Dalam pembicaraan kedua partai yang berikrar berkoalisi ini, tiga nama pembelot dari partai berlambang beringin tua sudah dicatat. Tiga pembelot itu adalah mereka yang menolak dibaiat untuk hanya memilih pasangan Kahfi-Ridwan pada malam sebelum pemilihan.

Di PKB sendiri, mereka yang ditengarai membelot dari keputusan partai adalah yang lebih dekat dengan kiai dan mengadakan sejumlah pertemuan pribadi dengan Imam Utomo atau tim suksesnya. Jumlah yang membelot dari partai yang identik dengan Gus Dur ini belum dapat diketahui dengan pasti.

"Yang jelas, saya keberatan jika pembelot dari Partai Golkar hanya tiga sementara dari kami tujuh sisanya," ujar Anam.Untuk mengungkap siapa pembelot dalam pemilihan yang dilakukan tertutup itu, baik PKB maupun Golkar mengaku memiliki mekanisme untuk membongkar.

Masing-masing anggota telah diberi bekal mengenai bagaimana memberi tanda silang. "Saat penghitungan surat suara, ada tanda-tanda tertentu yang tidak muncul dari anggota kami. Itu salah satu cara kami mencari siapa pembelotnya," ujar Edy.

MENCARI dan kemudian menemukan penyebab dari perasaan kecewa dan terpukul karena kekalahan tragis memang diyakini dapat sedikit menyeka air mata duka. Tapi yang jelas ini merupakan pelajaran yang menarik untuk kubu Kahfi dan jangan sampai penelusuran para pembelot justru melanggar asas demokrasi.

Yang jelas proses berpolitik ini tidak hanya berhenti sampai di sini saja, pandangan perlu diarahkan ke depan. Dengan tatapan mata ke depan, tepat jika saat ini konsentrasi dicurahkan untuk menagih janji pasangan Imam-Soenarjo dan mengawasi kinerja kepemimpinannya.

Dalam visi dan misi yang disampaikan ke anggota DPRD Jatim, pasangan Imam-Soenarjo berikrar untuk melanjutkan arah kebijakan dan sembilan program prioritas termasuk lima proyek strategis yang bersifat pengungkit: Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu), Jalan Lintas Selatan Jatim, Pasar Induk Agrobisnis, Jalan Tol Surabaya- Mojokerto, dan Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan.

Janji konkret yang diucapkan Imam-Soenarjo adalah mewujudkan program wajib belajar sembilan tahun melalui minimalisasi biaya pendidikan bagi masyarakat miskin dan kurang mampu. Pasangan yang saat ini dibuai kemenangan pernah berjanji akan menghapuskan sumbangan pendukung pendidikan (SPP). Untuk ini, Imam-Soenarjo membutuhkan dana Rp 1,2 triliun yang didapat dari pusat dan seluruh kabupaten/kota.

Selain itu Imam-Soenarjo juga menebar janji untuk mengentaskan kemiskinan. Jika selama kepemimpinan mereka masyarakat Jatim yang kini berjumlah sekitar 36 juta jiwa bertambah miskin, janji manis mereka patut ditagih. Mereka juga berjanji untuk membuka lapangan kerja guna menyerap penganggur di Jatim yang berjumlah lebih dari satu juta penduduk usia produktif.

Masih banyak janji manis pasangan Imam-Soenarjo yang ketika didengarkan mampu membuai. Ke depan, dengan terlebih dahulu legowo menerima keterpilihan mereka, tepat kalau mulai sekarang janji manis mereka diinventarisir ulang.

Sebagai ungkapan pertangungjawaban kepada rakyat yang telah menyerahkan hak pilihnya kepada anggota DPRD Jatim, menagih janji manis pasangan Imam-Soenarjo adalah langkah ke depan yang harus segera disampaikan. Mudah-mudahan, janji manis pasangan Imam-Soenarjo masih tercatat oleh anggota DPRD Jatim untuk kemudian dapat ditagih realisasinya.

inu

gundul

SIAPA yang bergembira ketika Imam Utomo terpilih kembali sebagai Gubernur Jawa Timur pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur periode? Tentu mereka yang ditugasi untuk menggalang kekuatan selama ini, bahkan mereka mengaku sudah dua tahun lebih bekerja keras supaya Imam kembali duduk sebagai gubernur.

Mereka itu di antaranya adalah Achmad Rubaie dari Fraksi Gabungan yang merasa sukses membawa Imam kembali mempertahankan kursinya. Ketika usai rapat pemilihan ditutup sekitar pukul 12.00, Achmad Rubaie langsung duduk di hadapan sejumlah tim sukses pasangan Imam-Soenarjo untuk menggunduli rambut kepalanya.

"Niat untuk menggunduli rambut kepala saya sudah saya ikrarkan sejak satu minggu sebelum pemilihan. Penggundulan kepala ini adalah ungkapan kegembiraan dan syukur saya telah mampu mengantar pemimpin Jatim lima tahun mendatang," ujar Rubaie yang berasal dari PAN.

Begitu duduk secara bergiliran, anggota tim sukses Imam Utomo seperti Haruna Soemitro, Farid Alfauzi, Buchori (F-PDIP), Masjkur Hasjim (PPP) menggunting rambut hitam Rubaie.

Sementara di belakang mereka telah berdiri menunggu M Ayin (69), tukang cukur puluhan tahun di Jalan Sulawesi, Surabaya yang siap menjalankan tugas memangkas rambut Rubaie. Pengagum Amien Rais ini menanggalkan mahkota Rubaie dengan gunting dan pisau cukur hingga licin.

Setelah kepala Rubaie mengkilap, dengan senyum puas, pembelot keputusan DPW-PAN ini mengungkapkan, apa yang dilakukannya sudah diperhitungkan matang. "Istri dan anak saya tidak keberatan. Ini merupakan simbolisasi saya melepaskan keletihan dan kelelahan," ujarnya memberi makna.

Terkait dengan perbedaan sikapnya dengan keputusan PAN yang mendukung Kahfi-Ridwan, pengagum Amien Rais ini mengaku telah siap dan telah matang memperhitungkan seluruh resiko, termasuk dipecat. "Sikap politik saya jangan dibaca hitam-putih dan linier. Politik harus dibaca secara lain," paparnya mantap sambil menyeka keringat di batok kepalanya. \

MENYUSUL Rubaie yang telah kinclong kepalanya, Haruna lantas duduk di kursi cukur untuk menyerahkan mahkotanya yang berjambul putih untuk ditanggalkan. Tanpa ritual macam-macam, Ayin kemudian memangkas habis rambut kepala Haruna.

Tidak lebih dari 15 menit, rambut kepala Manajer Tim Persebaya ini tanggal. Senyum puas lalu menghiasi wajahnya yang dalam beberapa hari sebelum pemilihan terlihat berbeban berat.

Karena mereka berdua tidak menemukan Farid yang merupakan "trio kwek-kwek" di DPRD Jatim lantaran komentar-komentar mereka, Rubaie dan Haruna lantas menyeret Herly Sulistyo untuk digunduli. Anggota F-PDIP dari Ngawi ini lantas menurut saja karena tampaknya sedang kebingungan mencari ungkapan kegembiraan atas kemenangan besar partainya ini.

Penggundulan rambut kepala ini biasanya memang merupakan ungkapan penistaan karena sikap dan perilaku yang rendah. Karena itu, ketika misalnya seorang tersangka digerebek aparat keamanan, langkah pertama yang dilakukan adalah menggunduli rambut kepala tersangka.

Namun ketika dipadankan dengan pemaknaan umum, Rubaie tidak marah dan bahkan merasa bangga dengan kinclong-nya kepalanya sambil menjelaskan, "Bukan itu makna atau simbol yang terkandung dari penggundulan rambut kepala kami."

"Kami hanya ingin menandai momen bersejarah dalam hidup kami karena telah mengantar pasangan Imam-Soenarjo menjadi Pemimpin Jatim. Kami hanya ingin melepaskan kelelahan dan keletihan setelah sekitar dua tahun bekerja untuk kemenangan ini," papar Rubaie.

Apa pun makna dari penanggalan tiga mahkota wakil rakyat yang mengaku telah bekerja keras untuk Imam-Soenarjo, Herly yang dua bulan terakhir tidak bisa bertemu keluarganya di Ngawi karena dikarantina kebingungan. Masih dalam cengkeraman alat cukur, Herly berujar, "Seumur-umur, baru sekali saya gundul seperti ini. Saya khawatir, ketika pulang ke rumah, istri dan anak saya pangling."

UNGKAPAN perasaan gembira itu sebenarnya sudah tampak meluap pada saat awal ketika pasangan Imam Utomo dan Soenarjo memimpin perolehan suara. Tepuk tangan riuh dan teriakan tanda kepuasan mengiringi pencatatan perolehan suara bagi pasangan yang tidak berasal dari partai politik ini.

Sementara melaju dengan belasan suara dibanding pasangan lawan mereka yaitu Abdul Kahfi Bakri dan Ridwan Hisjam yang diajukan koalisi strategis F-KB dan F-PG yang baru mengumpulkan dua suara.

Tepuk tangan makin keras disertai teriakan mengiringi perolehan suara berikutnya. Kegembiraan dan luapan emosi yang campur aduk memuncak saat pasangan Imam-Soenarjo meraih 51 suara dari 100 suara anggota DPRD Jatim.

Jika semula hanya pendukung yang bersorak kegirangan, ketika mendapati 51 suara, Imam yang sebelumnya sempat ke toilet lantas mengambil sikap untuk berdoa dan bersyukur. Bersamaan dengan doa dan syukurnya itu, para pendukung dan anggota koalisi F-PDIP dan F-Gab lantas melonjak kegirangan.

Untuk beberapa anggota tim sukses Imam-Soenarjo yang merasa telah bekerja keras mengumpulkan dukungan sampai 63 suara, lonjakan kegirangan dirasa tidak cukup. Masih dalam suasana rapat yang dihadiri 100 anggota DPRD Jatim itu, Ali Mudji (F-PDIP) Haruna Soemitro (F-Gab) berangkulan. Tak kuasa menahan kegirangan, mereka menangis haru.

Sebaliknya kubu Kahfi-Ridwan yang hanya mampu mengumpulkan 34 suara terduduk diam. Pahit memang, tetapi mereka sportif, Kahfi dan Ridwan yang duduk bersebelahan dengan Imam dan Soenarjo berdiri menghampiri sang pemenang itu. Mereka bersalaman dan kemudian berangkulan. "Itulah kenyataannya. Sesuatu yang sangat tidak saya duga sebelumnya," ujar Kahfi dengan suara tertahan usai mendapati kekalahannya.

Banyak pelajaran yang diterima dari kubu Kahfi-Ridwan mereka hanya bisa bertanya-tanya, mengapa koalisi strategis yang direstui Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid dan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung itu bisa jebol dengan membelotnya 10 anggota F-KB dan F-PG? Mereka merasa sudah digunduli Imam Utomo dan untuk menjawab semua pertanyaan itu maka tiam F-KB dan F-PG sedang melakukan investigasi.

inu

hitung suara

WAKTU penentuan hanya tinggal menunggu saat saja, namun justru dalam waktu yang sempit ini segala kemungkinan bisa terjadi. Bahkan tidak jarang terjadi keputusan-keputusan yang kontroversial, sehingga perolehan suara dari kedua kubu yang sudah dihitung secara matematis bisa terjungkir balik.

Layaknya sebuah puncak akumulasi usaha keras dan tidak kenal lelah, hari Kamis ini merupakan usaha final kedua pasangan calon gubernur-wakil, bagi 100 anggota DPRD Jatim, dan bagi sejumlah tim sukses baik formal dan informal untuk menghitung hasil perburuan suara. Drama menang dan kalah akan segera mewarnai rapat paripurna di Gedung DPRD Jatim, Surabaya.

Secara intensif perburuan suara di antara 100 anggota DPRD Jatim sudah dimulai sejak 28 Juni 2003 lalu. Pada saat itu secara definitif telah ditetapkan kedua bakal calon menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim 2003-2008.

Sejak itu banyak cara ditempuh untuk memburu suara oleh masing-masing kubu pasangan calon. Upaya itu menjadi sangat melelahkan lantaran hampir berimbangnya kekuatan pendukung masing-masing pasangan calon secara formal.

Secara matematis pasangan calon Imam-Soenarjo dibela oleh 46 anggota DPRD Jatim hasil koalisi taktis antara Fraksi Partai Indonesia Perjuangan (F-PDIP) dan Fraksi Gabungan (F-Gab). Sementara pasangan calon Kahfi-Ridwan dibela oleh 44 anggota DPRD Jatim hasil koalisi strategis antara Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) dan Fraksi Partai Golongan Karya (F-PG).

Dengan bantuan tim suksesnya masing-masing, mereka saling klaim perolehan dukungan yang lebih besar. Hasilnya digembar-gemborkan yang secara psikologis untuk memukul dan mengukur kekuatan lawan.

Dengan jaminan solidnya koalisi F-PDIP dan F-Gab, kubu Imam-Soenarjo mengklaim yakin memenangkan pemilihan gubernur. Apa yang ditempuh hari ini adalah memformalkan saja hasil pemilihan itu. Wakil Ketua F-Gab Farid Alfauzi kerap mengemukakan klaim-klaim yang menurutnya didasarkan kalkulasi matang dan terukur.

Di pihak lain yang tampak sejak awal hingga saat ini sangat percaya diri adalah Ketua F-PG Edy Wahyudi yang juga mengklaim bakal meraih kemenangan. öBoleh saja kami dianggap underdog, tetapi soliditas kami lebih teruji dibandingkan F-Gab yang merupakan gabungan delapan partai," tegasnya.

Menjelang hari H pemilihan, saling klaim melimpahnya dukungan untuk pasangan calon masing-masing kubu juga dikemukakan. Namun, di balik klaim-klaim melimpahnya dukungan itu masing-masing koalisi pendukung pasangan calon khawatir dan juga takut, hal ini diwujudkan dengan mengkarantina anggota fraksi.

"KAMI ingin tetap menjaga soliditas dan komitmen masing-masing anggota untuk mendukung pasangan kami. Apabila tidak dikarantina, godaan untuk membelot sangat besar. Tim sukses masing-masing tidak cukup hanya mengejar anggota DPRD Jatim. Mereka juga mengejar istri dan keluarga anggota DPRD Jatim," ujar anggota F-PDIP Ismail Saleh Mukadar.

Menjaga agar tidak diburu dan dikejar-kejar tim sukses, 46 anggota DPRD Jatim dari F-PDIP dan F-Gab dikarantina di Hotel JW Marriott, Surabaya. Keberadaan basis pendukung Imam-Soenarjo ini sangat dirahasiakan. Bahkan resepsionis hotel berbintang lima ini tidak tahu menahu keberadaan para anggota DPRD.

Termasuk puluhan satuan tugas partai berlambang banteng gemuk dalam lingkaran yang berjaga di hotel itu juga mengaku tidak tahu.

Meskipun begitu rahasia, menurut sejumlah anggota satgas dari DPC PDI-P Surabaya, staf pemerintah provinsi, dan staf DPRD Jatim yang mondar-mandir di lobi hotel itu, karantina terhadap 46 anggota F-PDIP dan F-Gab dilakukan di sejumlah kamar di lantai 12. "Ada ruangan besar untuk melakukan koordinasi,ö ujar salah satu dari mereka. Meskipun mengaku sudah ada janji akan bertemu, untuk menemui 46 anggota DPRD Jatim, staf pemerintah provinsi dan staf DPRD Jatim kesulitan untuk menemui mereka. Karena kesal, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan Hotel JW Marriott.

"Saya diminta mengantarkan undangan untuk acara pemilihan. Kalau tidak jelas begini, lebih baik saya pergi. Mereka yang butuh akan menghubungi saya," ujar salah satu dari mereka yang mengaku membawa undangan untuk tiga anggota DPRD Jatim yaitu Achmad Rubaie, Farid Alfauzi, dan Haruna Soemitro.

Kondisi yang kurang lebih serupa ditempuh koalisi F-KB dan F-KB yang memiliki 44 suara. Koalisi strategis yang disokong masing-KH Abdurrahman Wahid dan Akbar Tandjung ini melakukan karantina di Hotel Sommerset, Surabaya. Meskipun demikian, di hotel berbintang empat ini, penjagaan dan pengamanan tidak seketat yang dilakukan di Hotel JW Marriott.

"Bukan karantina, yang kami lakukan di Sommerset hanya untuk memudahkan koordinasi keberangaktan menuju Gedung DPRD Jatim,ö ujar Edy Wahyudi. Bentuk kendornya penjagaan dan pengamanan koalisi pendukung Kahfi-Ridwan ini adalah masih diperkenankannya anggota mengaktifkan telepon selularnya. Sementara untuk pendukung koalisi Imam-Soenarjo, telepon selular haram diaktifkan.

Sebuah upaya melindungi suara memang cukup merepotkan, politik uang nampaknya merupakan hal yang paling ditakutkan bakal bisa mempengaruhi anggota DPRD untuk membuat keputusan berbeda. Sepertinya memang tidak ada loyalitas dan kejujuran yang 100 persen untuk fraksinya, apalagi dalam situasi ekonomi sulit, kebutuhan ekonomi semakin tinggi, membuat orang menjadi semakin kreatif untuk mencari peluang.

Bisa jadi kurungan emas yang berhari-hari dilakukan tetap saja tidak ada artinya, jika materi masih menjadi kiblat utama para anggota DPRD.

inu

karantina

DALAM pemilihan gubernur Jatim dan wakilnya belakangan ini sering disebut-sebut singkatan tiga K, karantina, kontemplasi, dan koordinasi. Tiga K ini sering disebut-sebut terkait dengan upaya masing-masing kubu pendukung pasangan calon meraih kemenangan dalam pemilihan 17 Juli 2003.

DENGAN tiga K, baik dari PDI-P maupun PKB hampir tidak memberi kesempatan bagi anggota kubu yang berseberangan itu untuk bertemu. Karena itu ketika pelaksanaan gladi bersih pemilihan di Gedung DPRD Jatim, Selasa pagi, kemarin memberikan peluang pertemuan dua kubu sebagai ajang kangen-kangenan.

Kubu yang saling berseberangan itu adalah pendukung pasangan Imam Utomo-Soenarjo yang dibela habis-habisan oleh koalisi F-PDIP dan F-Gab dengan pasangan Abdul Kahfi-Ridwan Hisjam yang diunggulkan koalisi F-KB dan F-PG.
Dua kubu yang saling mengisolasi diri ini seperti bertemu teman lama saat bersama-sama datang ke Gedung DPRD Jatim untuk menghadiri gladi bersih. Ketua F-KB Fathorrasjid dengan senyum lebar menghampiri dan menyalami anggota F-PDIP yang seperti lama sekali tidak dijumpainya. Kelakar di antara mereka lantas mengiringi langkah mereka masuk ruang rapat paripurna yang akan menjadi saksi pemilihan hari Kamis.

Dalam kesempatan melepas kerinduan itu juga terlontar saling sindir mengomentari kebijakan fraksi masing-masing, termasuk upaya tim sukses memenangkan pasangan calonnya. Ketegangan pikiran menjelang hari H pemilihan lantaran ditunggangi beban berat dari pasangan calon nampak sejenak sirna.

Memang hanya sejenak, karena setelah itu masing-masing kubu pendukung pasangan calon kembali dengan ritual mereka masing-masing untuk mempertahankan suara mereka. Anggota F-PDIP DPRD Jatim misalnya, harus segera naik bus untuk kembali ke Hotel JW Marriot, di Jalan Embong Malang, Surabaya.

"BUKAN karantina, tapi itu upaya kami berkumpul di suatu tempat. Kami berkumpul di suatu tempat yang juga berpindah-pindah untuk koordinasi menghadapi gawe besar pemilihan gubernur," ujar Sekretaris F-PDIP DPRD Jatim Ali Mudji mencoba meluruskan pandangan tentang apa yang dilakukan fraksinya.

"Tidak ada kekhawatiran dan ketakutan dari koalisi kami untuk menghadapi pemilihan. Pertimbangan kami yang paling utama adalah untuk memudahkan koordinasi dan memastikan kehadiran dalam rapat paripurna pemilihan. Kami berjaga-jaga jangan sampai ada anggota kami yang diganggu atau distop di jalan saat ke Gedung DPRD Jatim," ujar Ali Mudji, salah satu motor penggerak F-PDIP.

Menjaga koordinasi dan menghindarkan anggota koalisi F-PDIP dan F-Gab jatuh ke dalam rayuan kubu lawan ini dibenarkan anggota F-PDIP Ismail Saleh Mukadar, salah satu benteng pertahanan pasangan Imam-Soenarjo. "Kami semua akan terus bersama-sama sampai hari H pemilihan untuk menjaga soliditas," ujarnya.

Karantina yang kemudian disebut koordinasi ini dilakukan sejak 31 anggota F-PDIP bertemu dan bersalaman dengan Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri di Hotel Shangri-La, Surabaya, Senin lalu. Kemantapan hasil pertemuan dan salaman dengan Megawati ini dijaga dan dipelihara terus hingga hari pemilihan.

Menjaga kemantapan ini, saat datang ke Gedung DPRD Jatim untuk gladi bersih, 31 anggota F-PDIP diantar bus pariwisata. Seperti saat berangkat, ketika pulang pun, anggota fraksi ini berombongan pulang dengan bus. Untuk yang tertinggal karena mengurusi masalah lain, mereka tetap bersama-sama pulang dengan mobil salah satu anggota atau dengan taksi. Ini pemadangan dan menakjubkan yang tidak pernah terjadi sebelumnya di antara anggota DPRD Jatim.

"Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat Jatim dan konstituen kami bahwa kami rukun dan mampu bersatu," papar Ali Mudji yang pulang terakhir karena harus merancang jawaban gugatan judicial review Paguyuban Peduli Rakyat (paper) Pasuruan ke Mahkamah Agung.

F-KB yang berkoalisi dengan F-PG juga lebih memilih kata kontemplasi untuk menghindari kata karantina menjelang pemilihan. Kontemplasi berarti merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.

"Selain untuk soliditas dukungan suara kepada pasangan yang kami dukung, kontemplasi kami lakukan sekaligus untuk merenung apa saja yang telah kami buat untuk rakyat selama kami menjadi wakil mereka," ungkap Fathorrasjid.

Kontemplasi fraksi yang mengklaim menjadi representasi Nahdlatul Ulama ini dilakukan di apartemen. Mereka tinggal di Apartemen Paragon di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya dan di apartemen ini digagas juga strategi pasangan Kahfi-Ridwan meraup dukungan suara.

Tidak seperti F-PDIP dan F-KB yang upaya koordinasi atau kontemplasinya mudah diketahui, untuk fraksi pendamping kekuatan F-PDIP maupun F-KB, upaya mereka menyolidkan dukungan suara anggotanya kepada pasangan calon sulit ditebak.

F-Gab menurut Ali Mudji melakukan koordinasi terpisah dengan F-PDIP yang saat ini berkonsentrasi di Hotel JW Marriot. Namun demikian, untuk koordinasi, pertemuan dua fraksi yang unggul secara matematis ini kerap juga dilakukan.

F-PG yang berjumlah 11 anggota dan merupakan pemain lama di era Orde Baru terang-terangan mengaku tidak melakukan karantina, kontemplasi, atau koordinasi. "Kami hanya menetapkan akan berkumpul pada hari H untuk berangkat bersama-sama ke Gedung DPRD Jatim," ujar Ketua F-PG DPRD Jatim Edy Wahyudi.

Dengan demikian sekalipun mereka sudah berikrar untuk berkoalisi, masih ada terbuka peluang lain yang sulit ditebak. Tidak hanya F-PG yang tidak mengisolasikan anggota fraksinya, demikian pula dengan F-Gab masih menyimpan banyak misteri, karena di dalamnya ada anggota fraksi yang berasal dari Partai Amanat Nasional. Selain belum menghitung kekuatan Fraksi TNI/Polri yang belum jelas ke mana arah komando terhadap mereka?

inu

pkb-golkar

SIAPA menyangka kalau kecaman terhadap Orde Baru sepertinya hanya angin lalu saja. Ketika kesamaan pandang bertemu, maka persoalan permusuhan bisa berubah 180 derajat, kesan adanya musuh bebuyutan beberapa tahun lalu itu sepertinya juga tidak pernah ada.

SEPERTI yang terjadi pada Partai Kebangkitan Bangsa yang lahir pada masa reformasi sekarang berangkulan mesra dengan Partai Golongan Karya. Apakah koalisi ini hanya demi memuluskan cita-cita pasangan gubernur dan wakil gubernur dalam pemilihan 17 Juli mendatang, tidak pernah ada yang bisa membaca.

Bagaimanapun masih belum hilang dari ingatan, bagaimana Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid ketika masih menjabat Presiden RI ke-4 dilengserkan DPR-RI pimpinan Akbar Tandjung yang juga Ketua Umum Partai Golkar tahun 2000. Kekecewaan ini "berbuntut" pada pembakaran Kantor DPD Partai Golkar di Jalan A Yani, Surabaya, yang katanya dilakukan oleh massa PKB.

"Politik itu pertama-tama mengedepankan kepentingan. Karena itu kita juga selalu berubah sesuai dengan kepentingan yang akan kita capai," ujar Ketua F-PG DPRD Jatim Edy Wahyudi saat diminta komentarnya melalui telepon perihal bersatunya PKB dan Golkar pekan lalu.

Edy yang menjadi salah satu motor berpasangannya Abdul Kahfi dari PKB dengan Ridwan Hisjam dari Golkar menyangkal kalau apa yang dilakukan dua partai berbasis nasionalis dan religius itu adalah kepentingan sesaat. Pendapat senada dikemukakan juga Ketua F-KB DPRD Jatim yang juga Wakil Ketua DPW PKB Jatim Fathorrasjid. "Ini koalisi kelembagaan bersifat strategis karena kesamaan visi dan platform untuk membangun Jatim dan membangun bangsa lewat kesempatan terakhir yang dimiliki yaitu melalui Pemilu 2004," paparnya.

Pertanyaan serupa juga muncul di benak sejumlah warga Jatim ketika mendapati koalisi antara F-PDIP dengan F-Gab yang berasal dari delapan partai. Sulit memahami bagaimana PDI-P yang berbasis nasionalis berkoalisi dengan delapan partai yan memiliki basis beragam seperti agama dan pluralisme.

Tetapi itulah yang terjadi di Jatim. Kepentingan entah yang disebut sebagai kepentingan strategis, taktis, atau apa pun namanya, yang jelas kepentinganlah yang mengemuka. Kepentingan yang arahnya pada kekuasaan yang erat terkait dengan perolehan kertas suara pada Pemilu 2004.

YANG menarik dari perkembangan berikutnya adalah adanya rencana bergabungnya Partai Amanat Nasional dalam koalisi ini. Dalam tataran elite partai tingkat pusat, koalisi tiga partai yang ketika era reformasi saling menghujat ini sudah digagas lewat sejumlah pertemuan.

Di tingkat provinsi koalisi kelembagaan tiga partai ini juga sudah digagas dalam rangkaian upaya memenangkan pasangan Kahfi-Ridwan. Nampaknya baik Amien Rais, Abdurrahman Wahid maupun Akbar Tandjung sudah saling berkomunikasi, sekalipun tanpa harus melakukan pertemuan fisik bersama.

"Pertemuan tiga petinggi partai ini semula memang direncanakan dihadiri seluruh anggota F-PG dan F-KB DPRD Jatim yang jumlahnya 44 orang. Sudah ada konfirmasi kehadiran ketiga petinggi partai masing-masing," ujar Edy sebelum rencana pertemuan Senin malam dilaksanakan.

Klaim Edy diperkuat Fathorrasjid yang mengatakan sudah muncul pembicaraan di tingkat petinggi partai masing-masing. "Di antara para petinggi partai telah ada kesepakatan soal Jatim ke depan yang membutuhkan perubahan. Perubahan signifikan dapat terjadi jika ada perubahan kepemimpinan. Kesamaan visi dan platform di Jatim inilah yang menyatukan kami," ujarnya.

Fathorrasjid tidak menampik masih ada luka reformasi yang didera oleh masing-masing dari ketiga partai ini. Di tingkat massa PKB misalnya, luka lama kepada sosok Amien Rais yang menjadi motor pelengseran Gus Dur sulit dilupakan. Di tingkat massa Golkar juga masih menganga ingatan akan hujatan PKB dan PAN saat Pemilu 1999. Tetapi, semua luka yang menganga itu dilihat hanya sebagai seonggok masa lalu.

"Upaya yang kami bangun ini adalah sebuah langkah untuk melakukan rekonsiliasi. Kepentingan kita tidak hanya Jatim yang sesat, tetapi juga nasional yang lebih luas," ujar Fathorrasjid.

YANG menarik dari semua rencana penggalangan kekuatan itu sebenarnya adalah sosok Kahfi sendiri yang memiliki sisi-sisi yang aneh dan nampaknya ini yang diharapkan untuk bisa mengganjal perjalanan Imam Utomo. Gus Dur nampaknya sudah sangat kecewa dengan calon yang juga Gubernur Jatim itu menyusul beberapa kejadian sebelumnya, sehingga ia membutuhkan Kahfi untuk menghambatnya.

Bahkan menghadapi Imam sepertinya Gus Dur tidak mau main-main dan bahkan tidak ada kader PKB yang bisa ia percaya untuk menghadapi Imam. Sebagai calon gubernur Kahfi memang memiliki latar belakang yang cukup lengkap. Selain berlatar belakang militer, sama seperti Imam, ia juga mantan Wakil Gubernur DKI dan Wali Kota Jakarta Pusat yang diharapkan memiliki pengaruh di pemerintahan pusat.

Selain itu Kahfi juga putra asli Banyuwangi yang masih fasih bertutur Osing dan selama ini juga banyak mempromosikan kebudayaan Banyuwangi. Yang aneh lagi, Kahfi juga diisyukan memiliki "warna" Muhammadiyah dan hal terakhir ini bisa menguntungkan untuk mendekati kelompok PAN.

Sepertinya Kahfi bisa menjadi sarana pemersatu bagi tiga kelompok besar di Jatim dan bahkan ini bisa menjadi embrio bagi koalisi secara nasional. Tentu hal ini cukup menggentarkan upaya PDI-P yang berada di belakang Imam Utomo, selain juga bisa menjadi ancaman secara nasional.

Penggalangan kekuatan ini tidak urung membuat Wakil Ketua F-Gab DPRD Jatim Tamat Ansory Ismail mengeluh. Semua energi anggota DPRD Jatim seolah-olah dicurahkan hanya untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jatim saja. "Tidak ada komitmen anggota dewan kepada kepentingan rakyat banyak yang harus didengar aspirasinya," ujarnya. Sepertinya Pilgub Jatim menjadi sarana pemanasan bagi Pemilu 2004 mendatang.

inu

kiai

CANDA dan tawa khas kiai Nahdlatul Ulama mewarnai pertemuan Silaturrahim Pengurus Cabang NU se-Jawa Timur di Asrama Haji Sukolilo di Surabaya, Rabu lalu.

Kesan kecewa karena dibujuki (dibohongiùRed) oleh beberapa elite Partai Kebangkitan Bangsa seolah sirna. Akan tetapi, melalui canda tawa itu kritikan, sindiran, dan ungkapan kekecewaan para kiai disampaikan kepada elite PKB yang secara historis dan ideologis sejalan dengan NU, setidaknya ketika Pemilu 1999. Bagi mereka yang peka dan tajam perasaannya, canda dan tawa puluhan kiai itu lebih tajam dari kritik pedas yang disampaikan secara blak-blakan sekalipun.

Sejumlah kiai yang hadir dan diberi kesempatan bicara tidak pernah lupa menyampaikan lelucon yang pesan pokoknya adalah ungkapan rasa kecewa mereka kepada PKB yang dirasakan telah ömengkhianatiö aspirasi mereka.
Hadir dalam pertemuan itu antara lain Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, anggota Dewan Syuro DPP PKB KH Cholil Bisri, Ketua Dewan Syuro DPW PKB Jatim KH Anwar Iskandar, Ketua Rois Syuriah PWNU Jatim KH Masduqi Mahfudz, dan Ketua PWNU Jatim Ali Maschan Moesa.

Yang menjadi sumber bara kekecewaan para kiai yang hadir dalam pertemuan tertutup itu adalah sejumlah proses dan mekanisme partai yang dirasakan telah mengabaikan aspirasi warga nahdliyin. Dalam konteks Jatim, kekecewaan para kiai itu menggumpal terkait dengan munculnya rekomendasi DPP PKB soal calon Gubernur Jatim.

Mekanisme awal yang melibatkan para kiai atas ajakan PKB dalam Tim Sepuluh untuk menjaring calon dan telah menyebut nama untuk direkomendasikan ke DPP PKB ternyata sia-sia. öYang saya ketahui, tidak pernah ada rapat untuk mengambil keputusan rekomendasi DPP PKB yang dipakai bekal fraksi mengajukan Abdul Kahfi. Kami para kiai merasa tidak dipakai. Oleh karena itu, kami tidak bertangung jawab atas keputusan DPP PKB itu,ö ujar Ketua Dewan Syuro DPW PKB KH Anwar Iskandar.

Dalam mekanisme penjaringan dari bawah yang melibatkan para kiai, muncul dua nama utama yang diunggulkan yaitu Imam Utomo dan Saifullah Yusuf. Namun, dalam rekomendasi DPP PKB, dua nama itu ditolak mentah-mentah.

Tanpa melalui mekanisme yang ada, DPP PKB yang dikomandani Ketua Umum Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur memutuskan untuk merekomendasikan Abdul Kahfi. Para kiai NU merasa telah ditelikung oleh sejumlah politisi PKB terkait keluarnya rekomendasi ini.

MERASA kerap dikecewakan dan tidak diluluskan aspirasinya oleh PKB, dalam pertemuan yang dirancang tertutup tersebut mengemuka wacana dari Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi untuk mengevaluasi hubungan NU dengan PKB. öEvaluasi hubungan ini kami maksudkan untuk menyelamatkan umat. Soal pemimpinnya, mereka sudah mencari posisi masing-masing untuk menyelamatkan diri,ö ujar Hasyim.

Wacana yang sebetulnya sudah cukup lama mengemuka ini disambut antusias oleh Ali Maschan Moesa yang juga kecewa dengan PKB. Kami berniat merumuskan kembali hubungan NU dengan PKB. Secara umum, NU akan mengambil jarak kepada seluruh partai politik, termasuk PKB. Sikap kami adalah risiko yang harus ditanggung PKB karena telah meninggalkan aspirasi publiknya sendiri,ö ungkapnya.

Evalusi hubungan NU dan PKB yang secara historis dan ideologis sulit dipisahkan ini akan dilakukan, 7 Juli 2003 mendatang di Jawa Tengah. Hasilnya akan segera kami sampaikan kepada Anda,ö ujar Hasyim yang tidak dapat memendam kekecewaannya.

Menanggapi rencana evaluasi ini, Saifullah Yusuf dengan sangat terbuka mengatakan, öKami bersyukur mendengar rencana evaluasi itu, meskipun terasa pahit bagi PKB. Dengan ini, PKB harusnya sadar bahwa dia bukan apa-apa tanpa kiai,ö ujarnya usai pertemuan itu.

Imbas dari kedekatan Saifullah dengan para kiai yang sering dilihat beberapa kalangan berseberangan dengan Gus Dur ini, Rabu malam lalu, Saifullah dipecat Gus Dur dari jabatannya sebagai Sekretaris Jenderal DPP PKB. öPemecatan terkait dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) dan pelanggaran partai,ö ujar Ketua F-KB DPRD Jatim Fahorrasjid, Kamis.

Terkait dengan kekecewaan para kiai atas rekomendasi DPP PKB yang mengemuka dalam pertemuan itu dan terus berkembang sampai saat ini, Fathorrasjid yang disebut-sebut Anwar Iskandar telah membujuki para kiai menganggap wacana itu tidak perlu dikembangkan. Soal keputusan DPP PKB sudah selesai dalam pertemuan di Lirboyo, 2 Juni 2003 lalu di mana para kiai akan mendukung siapa pun calon yang akan ditetapkan DPP PKB, termasuk Kahfi,ö ujarnya.

Apa pun pembelaan dari partai berlambang jagat terikat ini para kiai yang sebetulnya tidak mau terjebak dalam politik praktis sudah terlanjur kecewa. Berada pada posisi sebagai orang yang kecewa dengan keputusan DPP PKB, Saifullah dengan raut muka serius meminta, öSejumlah elit DPP PKB agar sadar, introspeski, dan tahu diri. PKB bukan apa-apa tanpa kiai.

inu

pkb

BERUBAH. Semua rencana berubah. Itulah yang membuat kesal beberapa pentolan fraksi di DPRD Jawa Timur ketika memasuki ruang rapat paripurna di Gedung DPRD Jatim yang sejuk itu, kemarin siang. Kekesalan itu disebabkan karena skenario happy ending dalam rapat paripurna untuk menerima atau menolak laporan pertanggungjawaban akhir masa jabatan Gubernur Imam Utomo berubah.

SEMULA, seperti direncanakandalam rapat pimpinan sebelumnya, Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) yang diprediksi akan menolak LPJ Imam Utomo ditempatkan pada urutan pertama yang tampil membacakan pemandangan akhirnya. Berturut-turut kemudian adalah fraksi yang agak lunak (Fraksi Partai Golongan Karya/F-PG), lunak (Fraksi Gabungan/F-Gab), sangat lunak (F-TNI/Polri), dan paling lunak (Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan/F-PDIP).

Satu jam sebelum sidang, skenario happy ending berubah. Ketua DPRD Jatim yang kemungkinan mendapat desakan dari fraksinya, F-KB, mengambil keputusan untuk mengocok ulang urut-urutan pembacaan pemandangan akhir kelima fraksi. Permohonan Sekretaris F-PDIP Ali Mudji agar fraksinya menjadi penutup dalam pemandangan akhir itu ditolak.

Di tengah upaya skenario happy ending ini, Achmad Rubaie dari F-Gab yang satu perjuangan dengan F-PDIP untuk kembali mencalonkan Imam Utomo mendesak Bisjrie agar fraksinya diberi kesempatan paling akhir. Dengan meminta bantuan Wakil Ketua DPRD Jatim Kolonel (CHB) Masduki, Rubaie menyampaikan permohonan itu dengan alasan fraksinya belum selesai menyusun pemandangan akhir yang ternyata hanya berisi lima halaman dua spasi.

Dalam permohonan yang dititipkan kepada Masduki itu, Rubaie mengatakan, fraksinya akan melakukan boikot jika permohonan F-Gab tidak diluluskan. Bisjrie dalam dilema. Diduga dalam tekanan F-KB, Bisjrie mengambil keputusan sendiri. Diputuskan berturut-turut fraksi yang membacakan pemandangan akhir adalah F-TNI/Polri, F-PG, F-PDIP, F-Gab, dan F-KB. Skenario happy ending berubah menjadi skenario sad ending: penerimaan LPJ Imam Utomo dari empat fraksi ditutup dengan sikap abstain F-KB.

Dan, skenario yang berada di luar perkiraan F-PDIP dan F-Gab ini dipertegas dengan keputusan dua anggota F-KB yaitu Luthfillah Masduqi dan Achmad Alya Sahal untuk memilih walk out dari ruang rapat paripurna yang sejuk itu.

"Dengan mengindahkan demokrasiyang ada diruangan ini. Saya memilih walk out sebagai ungkapan penolkan saya secara pribadi atas LPJ akhir masa jabatan Imam Utomo. Lima tahun memimpin Jatim, Imam Utomo telah menyisakan kesengsaraan,' ujar Luthfillah saat menyampaikan interupsi.

Interupsi itu diselakan sesaat sebelum Bisjire menyimpulkan pemandangan akhir kelima fraksi. Dalam pemandangan akhir itu, empat fraksi pertama menerima, sementara F-KB menilai LPJ akhir masa jabatan Imam Utomo tidak laik diterima dan memilih abstain. Setelah mempersilakan Luthfillah dan Alya Sahal walk out, Bisjrie lalu mempersilahkan Sekretaris DPRD Jatim Akmal Boedianto membacakan keputusan DPRD tentang penetapan LPJ Imam Utomo.

Di luar ruang rapat paripurna, Luthfillah yang terkenal vokal mengkritik kebijakan eksekutif yang tidak memihak rakyat mengatakan bahwa sikapnya untuk walk out merupakan pertanggungjawaban moral kepada mereka yang menjadi korban kebijakan. "Penggusuran warga di bantaran sungai misalnya, tidak ada kebijakan bersifat komprehensif untuk warga yang menjadi korban. Semua sporadis dan baru digarap ketika ada yang berkoar-koar mengkritik," ujarnya.

Sikap Luthfillah sejalan dengan Alya Sahal yang bersama-sama secara khusus mendalami LPJ akhir masa jabatan Imam Utomo dan menyiapkan penilaiannya untuk dibacakan F-KB. "Kalau teman-teman DPRD Jatim terlibat langsung dan sering turun ke lapangan, sikap mereka pasti tidak jauh dari sikap kami. Selama ini, anggota DPRD Jatim hanya menunggu laporan di atas meja tanpa pernah terjun ke bawah tempat rakyat yang diwakilinya berada," gugat Luthfillah.

Keputusan walk out dua anggota F-KB ini terasa janggal jika melihat bahwa fraksi ini merupakan fraksi terbesar dengan 33 anggota yang terang-terangan secara kelembagaan memposisikan Imam Utomo sebagai lawan dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim mendatang.

Namun, kesan janggal ini lantas buru-buru diluruskan Ketua F-KB Fathorrasjid. "Abstain adalah kesantunan politik kami untuk menyatakan penolakan atas Imam Utomo. Kami melihat secara terpisah antara LPJ dan pemilihan gubernur. Dan abstain adalah sikap politik fraksi kami," ujarnya tertawa puas.

inu