LUPAKAN sejenak perbedaan interpretasi fikih di antara kalangan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Lupakan juga perseteruan yang muncul medio 2001, saat Presiden KH Abdurrahman Wahid berada dalam ancaman hendak dilengserkan melalui Sidang Istimewa Majelis Permusyawaratan Rakyat (SI-MPR) yang dipimpin Amien Rais.
Menghadapi korupsi yang membuat kerusakan bangsa Indonesia hampir sempurna dan tinggal menunggu waktu masuk jurang, NU dan Muhammadiyah satu kata: Perangi!
DIFASILITASI Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Partnership (Kemitraan) melalui pendanaan, keahlian, dan referensi, NU dan Muhammadiyah menandatangani nota kesepahaman (MOU) untuk bersama-sama memerangi korupsi. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah HA Syafii Maarif, dan Direktur Eksekutif Kemitraan HS Dillon menandatangani nota kesepahaman tersebut di Jakarta, 15 Oktober 2002.
Banyak harapan pemberantasan korupsi diletakkan kepada dua organisasi massa yang memiliki basis pendukung sekitar 80 juta jiwa ini. Terlibatnya dua organisasi massa keagamaan untuk memerangi korupsi dilihat pakar etika dan filsafat politik Prof Dr Franz Magnis Suseno sebagai harapan terakhir di tengah larutnya hampir semua elite politik dalam praktik-praktik korupsi.
"Dengan gerakan moral ini, masyarakat yang selama ini terlihat putus asa dan menyerah karena melihat luasnya praktik korupsi mudah-mudahan dapat dibangungkan kemarahannya. Kemarahan itu dapat menjadi tekanan kepada pemerintah untuk melakukan perubahan dan penindakkan terhadap mereka yang melakukan korupsi," ujar Magnis.
Mencuatnya harapan di tengah kebuntuan dan gelapnya setiap langkah pemberantasan korupsi mengemuka juga sehari sebelumnya saat kelompok muda NU dan Muhammadiyah mempresentasikan kesepahaman mereka untuk memerangi korupsi di Kantor Kemitraan di Jakarta. Hadir mewakili NU, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Syaiful Bahri Ashari sementara dari Muhammadiyah hadir Sekretaris Bidang Luar Negeri PP Muhammadiyah Rizal Sukma.
Di samping optimisme dengan mencuatnya secercah harapan dari berbagai kalangan, MOU antara NU dan Muhammadiyah untuk memerangi korupsi memunculkan juga nada pesimisme. Seperti diakui Rizal Sukma, seusai muncul pemberitaan mengenai upaya NU dan Muhammadiyah memerangi korupsi, layanan pesan singkat (short message service/SMS) pertama yang diterimanya adalah: Selamat atas kerja sama NU dan Muhammadiyah untuk memerangi korupsi. Mohon gerakan dimulai di Departemen Agama di mana orang NU dan Muhammadiyah bercokol. Departemen itu merupakan departemen yang paling korup di Indonesia.
"Banyak muncul pesimisme dan juga sinisme seusai penandatanganan MOU. Tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam NU dan Muhammadiyah sendiri. Berbagai kecurigaan juga muncul. Tetapi kami menilai apa yang sedang kami upayakan untuk memerangi korupsi ini lebih baik dibandingkan hanya bekerja pada tataran retorika saja," ujar Rizal yang juga menjadi Direktur Studi Center for Information and Development Studies (CSIS).
Rizal mengakui, harapan khalayak ramai terhadap NU dan Muhammadiyah untuk mampu melakukan perang terhadap korupsi sangat tinggi. Tanpa ingin mengesampingkan tingginya harapan tersebut, Rizal mengungkapkan bahwa NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi massa tidak dapat berbuat banyak selain di luar massa pendukungnya.
"NU dan Muhammadiyah adalah organisasi di luar state (negara) yang hanya punya kemampuan besar membangun dan menggunakan jaringannya. Tekanan politik untuk memaksa agar pemerintah mengambil tindakan hukum kepada para koruptor tidak dapat kami lakukan. Mandat kami sebagai organisasi massa memang tidak masuk ke wilayah politik. Perlu dukungan elemen lain yang memiliki keprihatinan sama untuk memenuhi harapan dari gerakan ini," ujarnya.
Keterbatasan gerakan ini disadari juga Syaiful Bahri Ashari. Di tengah keterbatasan ini, perang terhadap korupsi akan dimulai dari masing-masing organisasi yang tidak bersih juga dari praktik-praktik korupsi. "Kami tidak menutup mata bahwa di NU rawan akan praktik korupsi, khususnya di lembaga yang memungkinkan dana keluar dan masuk. Gerakan ini kami mulai dari NU dan Muhammadiyah untuk menjadi gerakan besar secara nasional untuk memerangi korupsi," paparnya.
Untuk memunculkan dan menjaga kesadaran publik akan bahaya korupsi dan memunculkan keinginan untuk melakukan perubahan, selama dua tahun ke depan direncanakan kegiatan bersama antara NU dan Muhammadiyah yang sifatnya lebih simbolik. Secara bergantian, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan Ketua Umum PP Muhammadiyah HA Syafii Maarif akan saling berkunjung ke Yogyakarta dan Malang selama Ramadhan.
Kegiatan saling kunjung dengan public gathering ini diharapkan diikuti pemimpin NU dan Muhammadiyah di bawahnya.
"Akan ada ceramah dalam kesempatan pertemuan pimpinan NU dan Muhammadiyah tersebut dengan tujuan to keep the issue alive. Kami ingin agar masalah korupsi dengan akibatnya tetap hidup dan diingat orang," jelas Rizal. Ketua PBNU HM Rozy Munir juga mengungkapkan rencana road show simbolik dua pemimpin ini.
KORUPSI dan pemberantasannya di Indonesia memang ruwet. Lilitannya tidak hanya merentang di pemerintah pusat, tetapi juga menjalar ke daerah-daerah. Lima tahun reformasi dengan salah satu agenda memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) tidak membuahkan banyak hasil.
Menggambarkan meluasnya praktik korupsi ini, terkait penilaian Transparency International Indonesia melalui berbagai survei independen yang menempatkan Indonesia sebagai negara keenam paling korup di antara 133 negara muncul lelucon sinis. Dalam survei tersebut, Indonesia sebenarnya berada pada urutan kedua paling korup.
Namun, karena mampu menyuap lembaga yang melakukan survei, Indonesia mampu berada di urutan keenam negara paling korup. Mengenaskan!
Karena korupsi yang telah menjalar dan hampir merata di semua lapisan ini bangsa Indonesia telah rusak. Dalam beberapa kesempatan, Syafii Maarif mengatakan, kerusakan bangsa Indonesia akibat korupsi sudah hampir sempurna. Karena korupsi yang sama dengan tidak terlihatnya komitmen serius pemberantasannya, Franz Magnis Suseno mengungkapkan, Indonesia tinggal menunggu waktu tergelincir dan masuk jurang.
Di tengah keruwetan dan tidak adanya komitmen pemerintah yang keras, tegas, dan sungguh-sungguh untuk memberantas korupsi, masyarakat putus asa dan menyerah pada keadaan. Cermin keputusasaan dan menyerahnya masyarakat tampak dalam sejumlah survei. Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) mempublikasikan, hanya sekitar empat persen dari responden yang melihat korupsi sebagai masalah yang membutuhkan penanganan serius.
"Korupsi memang ruwet dan sangat berbahaya. Lebih berbahaya lagi karena kesadaran publik akan bahaya korupsi itu tidak ada," ujar Rizal. Minimnya kesadaran masyarakat merupakan cermin keputusasaan tersebut. Menurut Rizal, bagi masyarakat, negara dinilai sudah pasti korup. "Tetapi sekarang, bagaimana caranya elu korup, tetapi gua juga makan," ujar Rizal memotret kecenderungan masyarakat saat ini melihat korupsi.
Selain sudah putus asa, minimnya kesadaran akan bahaya korupsi disebabkan karena masyarakat tidak bisa melihat keterkaitan antara korupsi dengan kesengsaraan hidup yang dialami sehari-hari. "Membuat keterkaitan korupsi dan kesengsaraan hidup inilah yang menjadi tugas NU dan Muhammadiyah dalam kerja sama ini. Kami berharap mampu menumbuhkan kegeraman dan kemarahan masyarakat secara nasional karena korupsi," ujar Rizal.
KEGAGALAN menumbuhkan kegeraman dan kemarahan masyarakat secara nasional diakui menjadi salah satu titik lemah ratusan upaya pemberantasan korupsi di Indonesia selama ini. Karena tidak ada kegeraman masyarakat tersebut, tekanan masyarakat kepada pemerintah yang memegang peran kunci untuk pemberantasan korupsi tidak muncul. Akibatnya, pemerintah lembek menyikapi korupsi.
"Harus diakui, dalam upaya yang selama ini dilakukan untuk memerangi korupsi, kita kurang pandai memformulasikan dampak korupsi sehingga kegeraman dan kemarahan masyarakat terhadap korupsi tidak muncul ke permukaan dan tidak mampu memberi tekanan kepada pemerintah," ujar Bambang Widjojanto, salah satu penasihat Kemitraan.
Kegeraman kepada korupsi yang hendak ditumbuhkan NU dan Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi semacam obor di lorong panjang dan gelap bangsa Indonesia, karena korupsi seperti tidak tersentuh.
"Dalam lorong panjang dan gelap karena korupsi, biasanya kita menunggu dan berharap munculnya the light at the end of the tunnel. Gerakan ini tidak dalam upaya menunggu cahaya itu, tetapi berupaya membuat obor sendiri di dalam lorong tersebut. Dengan obor itu, kita berharap bisa berjalan, tanpa terkungkung oleh kekhawatiran tidak adanya cahaya di ujung lorong," papar Rizal menganalogikan upaya gerakan ini.
Agar obor menyala, tugas NU dan Muhammadiyah yang memiliki jaringan hingga masyarakat akar rumput adalah mencari kaitan antara korupsi dan kesengsaraan masyarakat. Karena itu, akan dibuat sejumlah tafsir tematik atas teks dan ajaran Islam yang kontekstual dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
"Kami akan angkat kasus-kasus konkret keseharian masyarakat yang makin sulit karena korupsi. Seorang murid tidak perlu bunuh diri hanya karena tidak mampu membayar uang ekstrakurikuler. Jika si pejabat A tidak melakukan korupsi, anak-anak dapat gratis sekolah. Jika keterkaitan ini dapat dibuat, kegeraman masyarakat akan muncul," jelas Rizal.
Kegeraman yang diharapkan muncul melalui upaya penyadaran yang dilakukan kelompok muda NU dan Muhammadiyah akan dipakai juga sebagai penghukuman langsung oleh rakyat kepada pejabat publik yang melakukan korupsi. Pemilihan Umum 2004 untuk memilih anggota legislatif dan presiden menjadi tujuan antara gerakan ini.
Sebuah political tracking akan segera dibuat oleh NU dan Muhammadiyah bekerja sama dengan sejumlah LSM yang telah lebih berpengalaman dalam upaya pemberantasan korupsi seperti Indonesia Corruption Watch (ICW). "Kepada para pemilih, kami akan membekali mereka agar berani memilih calon pejabat yang bersih dan bebas dari korupsi," ujar Rozy Munir.
Melalui pemilihan langsunglah, secara ideal kegeraman dan kemarahan masyarakat karena korupsi harus disalurkan. Untuk memunculkan calon pejabat yang dikehendaki masyarakat, sistem pemilihan umum harus diubah menuju sistem distrik secara langsung.
Kegeraman dan kemarahan yang tersalurkan inilah yang diharapkan menjadi obor. Selain dapat menerangi lorong gelap dan panjang, obor tersebut diharapkan dapat membakar semangat aparat pemerintah sungguh-sungguh dan keras melakukan perang terhadap korupsi. Semoga panas obor itu "membakar" koruptor.
inu
Wednesday, February 27, 2008
amrozi ii
"TENG Sabin nandur kacang (ke sawah menanam kacang)," ujar Tarmiyem (70) berusaha tegar menghadapi apa yang menimpa Amrozi, anak kandung keenamnya. Pernyataan itu diungkapkan Tarmiyem setelah sepanjang hari ia dicari puluhan wartawan untuk dimintai komentarnya berkaitan dengan vonis mati yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, terhadap Amrozi, Kamis (7/8) kemarin.
Meskipun berusaha tegar menerima vonis mati majelis hakim, duka tidak bisa beranjak dari wajahnya yang mulai keriput karena usianya yang senja. Saat ditanya bagaimana perasaannya, sambil sesekali mengusap tangan Nurhasyim, suaminya, yang terbaring tidak berdaya karena sakit, Tarmiyem berujar, "Perasaan kulo mboten karuan (perasaan saya tidak karuan)."
Atas apa yang telah menimpa Amrozi dan akan menimpa dua anak kandungnya yang lain, yaitu Ali Gufron dan Ali Imron, terkait peledakan bom di Bali, Tarmiyem mengaku tidak dapat menerima kenyataan. "Ngantos sak niki, kulo mboten nerimo (sampai sekarang, saya tidak dapat menerima)," ujarnya dengan suara tertahan menahan duka dan isak tangis.
Tarmiyem mengaku ingin sekali dapat kembali berkumpul dengan delapan anak kandungnya, termasuk tiga anak laki-lakinya yang saat ini ditahan dan diadili di Bali. Keinginannya untuk berkumpul kembali itu muncul di tengah kesepiannya di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur.
Sehari-hari Tarmiyem hanya menyibukkan diri dengan pergi ke sawah merawat kacang atau jagung yang ditanamnya, untuk kemudian kembali merawat suaminya yang tergolek sakit tidak berdaya di lantai semen rumahnya yang sangat sederhana. Karena sudah terbiasa dengan pola hidup seperti itu, saat vonis mati dijatuhkan majelis hakim kepada Amrozi, Tarmiyem mengaku tidak menyempatkan diri duduk di depan pesawat televisi.
Selain tidak memiliki pesawat televisi di rumah kayunya yang mulai pudar catnya, Tarmiyem mengaku perasaannya bertambah tidak karuan jika menyaksikan anak kandung yang sangat dirindukannya duduk diadili di kursi persidangan. Mengobati rasa penasarannya, saat sejenak istirahat dari aktivitasnya di sawah, Tarmiyem pergi ke rumah anak keduanya, Afiah, untuk menonton sidang Amrozi.
"Cuma sebentar, setelah itu saya ke sawah dan kembali ke rumah merawat suami. Itulah pekerjaan saya sehari-hari," demikian komentar Tarmiyem menjawab pers, yang dituturkannya dalam bahasa Jawa halus.
KEGUNDAHAN hati atas apa yang terjadi pada Amrozi memang tepat terpotret dari apa yang dilakukan Tarmiyem sepanjang Kamis kemarin di Desa Tenggulun yang gersang karena kemarau yang mulai datang. Wajahnya terus memancarkan kedukaan.
Perasaan pasrah menerima kenyataan apa pun muncul dari saudara kandung Amrozi yang berada di desa itu. Saudara Amrozi itu adalah Alimah, Afiah, Khozin, dan JaÆfar Sodiq. Satu saudara kandung Amrozi, yaitu Amin Jabir, telah meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Karena kepasrahan itu, sepanjang Kamis kemarin tidak satu pun anggota keluarga Amrozi yang tampak antusias menyaksikan secara langsung sidang yang digelar di Denpasar tersebut dan ditayangkan di televisi.
"Kami biasa-biasa saja. Sejak awal kami sudah menyerahkan sepenuhnya kepada aparat yang menangani kasus ini. Kami pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada TPM (Tim Pengacara Muslim)," ujar Khozin yang menjadi juru bicara keluarga di rumahnya.
Khozin yang adalah guru agama di Sekolah Dasar (SD) Negeri Tenggulun menyempatkan diri pulang ke rumah karena kebetulan ada jam pelajaran yang kosong. Kalau ada acara lain di luar, saya tetap akan pergi dan meninggalkan siaran sidang ini," ujar Khozin sambil sesekali memalingkan pandang ke televisi di rumahnya.
Sikap pasrah atas apa pun yang akan menimpa Amrozi dikemukakan juga oleh JaÆfar Sodiq, pendiri Pondok Pesantren Al Islam yang cukup dekat dengan Amrozi. Sepanjang siang kemarin, JaÆfar sibuk membaca Al Quran di teras rumahnya yang berhadapan dengan rumah Khozin.
Di Pondok Pesantren Al Islam, tempat favorit Amrozi cangkruk (bermain), kegiatan belajar-mengajar berjalan seperti biasanya. Di Desa Tenggulun yang berpendukuk sekitar 2.600 orang pun tidak ada aktivitas berarti terkait dengan pembacaan vonis Amrozi. Warga desa yang sebagian besar pemudanya pergi merantau ke Malaysia ini sibuk dengan aktivitas harian mereka.
Kepada para santri Pondok Pesantren Al Islam yang kagum dengan Amrozi, yang dikenal cerdas dan ramah, pemimpin Al Islam Ustadz Zakaria memberi tahu bahwa kemarin dibacakan vonis atas Amrozi. "Kepada mereka, saya hanya meminta agar berdoa bagi Amrozi dan perjuangannya," papar Zakaria yang lulusan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, Jawa Tengah.
Namun, di balik misteri yang masih menyelimuti vonis mati atas Amrozi, keluarga dan kerabatnya mengaku tetap akan pasrah karena keterbatasan mereka. "Kami memang tidak dapat menerima vonis mati atas Amrozi. Tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kami akan aktif melakukan tindakan. Semoga semua yang telah terjadi membawa hikmah bagi keluarga kami, bagi bangsa Indonesia, dan bagi dunia internasional. Soal mati, itu urusan Allah SWT," ujar Khozin tegar.
inu
Meskipun berusaha tegar menerima vonis mati majelis hakim, duka tidak bisa beranjak dari wajahnya yang mulai keriput karena usianya yang senja. Saat ditanya bagaimana perasaannya, sambil sesekali mengusap tangan Nurhasyim, suaminya, yang terbaring tidak berdaya karena sakit, Tarmiyem berujar, "Perasaan kulo mboten karuan (perasaan saya tidak karuan)."
Atas apa yang telah menimpa Amrozi dan akan menimpa dua anak kandungnya yang lain, yaitu Ali Gufron dan Ali Imron, terkait peledakan bom di Bali, Tarmiyem mengaku tidak dapat menerima kenyataan. "Ngantos sak niki, kulo mboten nerimo (sampai sekarang, saya tidak dapat menerima)," ujarnya dengan suara tertahan menahan duka dan isak tangis.
Tarmiyem mengaku ingin sekali dapat kembali berkumpul dengan delapan anak kandungnya, termasuk tiga anak laki-lakinya yang saat ini ditahan dan diadili di Bali. Keinginannya untuk berkumpul kembali itu muncul di tengah kesepiannya di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur.
Sehari-hari Tarmiyem hanya menyibukkan diri dengan pergi ke sawah merawat kacang atau jagung yang ditanamnya, untuk kemudian kembali merawat suaminya yang tergolek sakit tidak berdaya di lantai semen rumahnya yang sangat sederhana. Karena sudah terbiasa dengan pola hidup seperti itu, saat vonis mati dijatuhkan majelis hakim kepada Amrozi, Tarmiyem mengaku tidak menyempatkan diri duduk di depan pesawat televisi.
Selain tidak memiliki pesawat televisi di rumah kayunya yang mulai pudar catnya, Tarmiyem mengaku perasaannya bertambah tidak karuan jika menyaksikan anak kandung yang sangat dirindukannya duduk diadili di kursi persidangan. Mengobati rasa penasarannya, saat sejenak istirahat dari aktivitasnya di sawah, Tarmiyem pergi ke rumah anak keduanya, Afiah, untuk menonton sidang Amrozi.
"Cuma sebentar, setelah itu saya ke sawah dan kembali ke rumah merawat suami. Itulah pekerjaan saya sehari-hari," demikian komentar Tarmiyem menjawab pers, yang dituturkannya dalam bahasa Jawa halus.
KEGUNDAHAN hati atas apa yang terjadi pada Amrozi memang tepat terpotret dari apa yang dilakukan Tarmiyem sepanjang Kamis kemarin di Desa Tenggulun yang gersang karena kemarau yang mulai datang. Wajahnya terus memancarkan kedukaan.
Perasaan pasrah menerima kenyataan apa pun muncul dari saudara kandung Amrozi yang berada di desa itu. Saudara Amrozi itu adalah Alimah, Afiah, Khozin, dan JaÆfar Sodiq. Satu saudara kandung Amrozi, yaitu Amin Jabir, telah meninggal dunia beberapa tahun lalu.
Karena kepasrahan itu, sepanjang Kamis kemarin tidak satu pun anggota keluarga Amrozi yang tampak antusias menyaksikan secara langsung sidang yang digelar di Denpasar tersebut dan ditayangkan di televisi.
"Kami biasa-biasa saja. Sejak awal kami sudah menyerahkan sepenuhnya kepada aparat yang menangani kasus ini. Kami pasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada TPM (Tim Pengacara Muslim)," ujar Khozin yang menjadi juru bicara keluarga di rumahnya.
Khozin yang adalah guru agama di Sekolah Dasar (SD) Negeri Tenggulun menyempatkan diri pulang ke rumah karena kebetulan ada jam pelajaran yang kosong. Kalau ada acara lain di luar, saya tetap akan pergi dan meninggalkan siaran sidang ini," ujar Khozin sambil sesekali memalingkan pandang ke televisi di rumahnya.
Sikap pasrah atas apa pun yang akan menimpa Amrozi dikemukakan juga oleh JaÆfar Sodiq, pendiri Pondok Pesantren Al Islam yang cukup dekat dengan Amrozi. Sepanjang siang kemarin, JaÆfar sibuk membaca Al Quran di teras rumahnya yang berhadapan dengan rumah Khozin.
Di Pondok Pesantren Al Islam, tempat favorit Amrozi cangkruk (bermain), kegiatan belajar-mengajar berjalan seperti biasanya. Di Desa Tenggulun yang berpendukuk sekitar 2.600 orang pun tidak ada aktivitas berarti terkait dengan pembacaan vonis Amrozi. Warga desa yang sebagian besar pemudanya pergi merantau ke Malaysia ini sibuk dengan aktivitas harian mereka.
Kepada para santri Pondok Pesantren Al Islam yang kagum dengan Amrozi, yang dikenal cerdas dan ramah, pemimpin Al Islam Ustadz Zakaria memberi tahu bahwa kemarin dibacakan vonis atas Amrozi. "Kepada mereka, saya hanya meminta agar berdoa bagi Amrozi dan perjuangannya," papar Zakaria yang lulusan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, Jawa Tengah.
Namun, di balik misteri yang masih menyelimuti vonis mati atas Amrozi, keluarga dan kerabatnya mengaku tetap akan pasrah karena keterbatasan mereka. "Kami memang tidak dapat menerima vonis mati atas Amrozi. Tetapi, hal itu tidak berarti bahwa kami akan aktif melakukan tindakan. Semoga semua yang telah terjadi membawa hikmah bagi keluarga kami, bagi bangsa Indonesia, dan bagi dunia internasional. Soal mati, itu urusan Allah SWT," ujar Khozin tegar.
inu
Monday, February 25, 2008
koalisi gombal
DENGAN suara tertahan dan beberapa kali menelan ludah, Abdul Kahfi Bakri hanya bisa terduduk di kursinya berdampingan dengan Ridwan Hisjam.
Sementara di sebelah kanan tempatnya duduk, Imam Utomo yang berdampingan dengan Soenarjo menundukkan kepala dengan dua tangan menengadah ke langit mengucapkan syukur. Kahfi mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan suara lirih dan terbata-bata serta sesekali menelan ludah, berujar, "Sesuatu yang sangat tidak saya duga sebelumnya. Suara yang kami peroleh tidak signifikan. Mencapai 44 saja tidak!"
Tidak hanya Kahfi yang telah mengeluarkan modal banyak yang tampak kecewa. Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid yang mendorong Kahfi maju bertarung juga tampak kecewa. Melihat hasil koalisi dengan Partai Golongan Karya, Gus Durùpanggilan akrab KH Abdurrahman Wahid-berujar, "Gagasan koalisi itu gombal.
"Mendapati pembelotan 10 anggota koalisi PKB dan Golkar, Ketua DPW PKB Jatim Choirul Anam mengaku "dikadali" Golkar. Karena itu, rencana koalisi dua partai yang sebelumnya saling berseteru ini akan digagasulang dan dievaluasi. "Rencana koalisi dengan Golkar harus dievaluasi," ujar Anam usai mendapati kekalahan.
DENGAN sedikit lebih tenang, kekalahan pasangan Kahfi-Ridwan yang salah satu penyebabnya adalah hilangnya 10 suara koalisi lalu dicarikan penyebabnya. Hari-hari setelah kekalahan lantas diikuti dengan kesibukan masing-masing fraksi dan partai yang berkoalisi mendukung Kahfi-Ridwan untuk melakukan investigasi. Antara lain dilakukan untuk memeriksa dan meminta keterangan 44 anggota DPRD Jatim dari F-KB dan F-PG.
"Melalui mekanisme internal dalam partai, kami akan mencari siapa 10 orang pembelot itu. Meskipun kami yakin fraksi kami solid, kami tetap melakukan investigasi. Kami sedang mengumpulkan fakta-fakta di lapangan," ujar Ketua F-KB DPRD Jatim Fathorrasjid.
Sebagai upaya mencari obat kekecewaan dan menyeka keterpukulan karena kalah dalam pemilihan, F-KB telah memeriksa 20 dari 33 anggota fraksinya. Dari pemeriksaan yang rencananya tuntas Senin ini, DPW PKB Jatim telah menemukan indikasi adanya pembelotan di antara anggotanya sendiri.
Golkar yang semula diposisikan sebagai satu-satunya tertuduh dalam pembelotan itu sedikit lega. Beban berkurang, meskipun upaya untuk menemukan anggotanya yang nyata-nyata telah membelot terus dilakukan. Menurut Ketua F-PG DPRD Jatim Edy Wahyudi, upaya mencari pembelot itu dilakukan Senin ini.
Dalam pembicaraan kedua partai yang berikrar berkoalisi ini, tiga nama pembelot dari partai berlambang beringin tua sudah dicatat. Tiga pembelot itu adalah mereka yang menolak dibaiat untuk hanya memilih pasangan Kahfi-Ridwan pada malam sebelum pemilihan.
Di PKB sendiri, mereka yang ditengarai membelot dari keputusan partai adalah yang lebih dekat dengan kiai dan mengadakan sejumlah pertemuan pribadi dengan Imam Utomo atau tim suksesnya. Jumlah yang membelot dari partai yang identik dengan Gus Dur ini belum dapat diketahui dengan pasti.
"Yang jelas, saya keberatan jika pembelot dari Partai Golkar hanya tiga sementara dari kami tujuh sisanya," ujar Anam.Untuk mengungkap siapa pembelot dalam pemilihan yang dilakukan tertutup itu, baik PKB maupun Golkar mengaku memiliki mekanisme untuk membongkar.
Masing-masing anggota telah diberi bekal mengenai bagaimana memberi tanda silang. "Saat penghitungan surat suara, ada tanda-tanda tertentu yang tidak muncul dari anggota kami. Itu salah satu cara kami mencari siapa pembelotnya," ujar Edy.
MENCARI dan kemudian menemukan penyebab dari perasaan kecewa dan terpukul karena kekalahan tragis memang diyakini dapat sedikit menyeka air mata duka. Tapi yang jelas ini merupakan pelajaran yang menarik untuk kubu Kahfi dan jangan sampai penelusuran para pembelot justru melanggar asas demokrasi.
Yang jelas proses berpolitik ini tidak hanya berhenti sampai di sini saja, pandangan perlu diarahkan ke depan. Dengan tatapan mata ke depan, tepat jika saat ini konsentrasi dicurahkan untuk menagih janji pasangan Imam-Soenarjo dan mengawasi kinerja kepemimpinannya.
Dalam visi dan misi yang disampaikan ke anggota DPRD Jatim, pasangan Imam-Soenarjo berikrar untuk melanjutkan arah kebijakan dan sembilan program prioritas termasuk lima proyek strategis yang bersifat pengungkit: Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu), Jalan Lintas Selatan Jatim, Pasar Induk Agrobisnis, Jalan Tol Surabaya- Mojokerto, dan Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan.
Janji konkret yang diucapkan Imam-Soenarjo adalah mewujudkan program wajib belajar sembilan tahun melalui minimalisasi biaya pendidikan bagi masyarakat miskin dan kurang mampu. Pasangan yang saat ini dibuai kemenangan pernah berjanji akan menghapuskan sumbangan pendukung pendidikan (SPP). Untuk ini, Imam-Soenarjo membutuhkan dana Rp 1,2 triliun yang didapat dari pusat dan seluruh kabupaten/kota.
Selain itu Imam-Soenarjo juga menebar janji untuk mengentaskan kemiskinan. Jika selama kepemimpinan mereka masyarakat Jatim yang kini berjumlah sekitar 36 juta jiwa bertambah miskin, janji manis mereka patut ditagih. Mereka juga berjanji untuk membuka lapangan kerja guna menyerap penganggur di Jatim yang berjumlah lebih dari satu juta penduduk usia produktif.
Masih banyak janji manis pasangan Imam-Soenarjo yang ketika didengarkan mampu membuai. Ke depan, dengan terlebih dahulu legowo menerima keterpilihan mereka, tepat kalau mulai sekarang janji manis mereka diinventarisir ulang.
Sebagai ungkapan pertangungjawaban kepada rakyat yang telah menyerahkan hak pilihnya kepada anggota DPRD Jatim, menagih janji manis pasangan Imam-Soenarjo adalah langkah ke depan yang harus segera disampaikan. Mudah-mudahan, janji manis pasangan Imam-Soenarjo masih tercatat oleh anggota DPRD Jatim untuk kemudian dapat ditagih realisasinya.
inu
Sementara di sebelah kanan tempatnya duduk, Imam Utomo yang berdampingan dengan Soenarjo menundukkan kepala dengan dua tangan menengadah ke langit mengucapkan syukur. Kahfi mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta dengan suara lirih dan terbata-bata serta sesekali menelan ludah, berujar, "Sesuatu yang sangat tidak saya duga sebelumnya. Suara yang kami peroleh tidak signifikan. Mencapai 44 saja tidak!"
Tidak hanya Kahfi yang telah mengeluarkan modal banyak yang tampak kecewa. Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid yang mendorong Kahfi maju bertarung juga tampak kecewa. Melihat hasil koalisi dengan Partai Golongan Karya, Gus Durùpanggilan akrab KH Abdurrahman Wahid-berujar, "Gagasan koalisi itu gombal.
"Mendapati pembelotan 10 anggota koalisi PKB dan Golkar, Ketua DPW PKB Jatim Choirul Anam mengaku "dikadali" Golkar. Karena itu, rencana koalisi dua partai yang sebelumnya saling berseteru ini akan digagasulang dan dievaluasi. "Rencana koalisi dengan Golkar harus dievaluasi," ujar Anam usai mendapati kekalahan.
DENGAN sedikit lebih tenang, kekalahan pasangan Kahfi-Ridwan yang salah satu penyebabnya adalah hilangnya 10 suara koalisi lalu dicarikan penyebabnya. Hari-hari setelah kekalahan lantas diikuti dengan kesibukan masing-masing fraksi dan partai yang berkoalisi mendukung Kahfi-Ridwan untuk melakukan investigasi. Antara lain dilakukan untuk memeriksa dan meminta keterangan 44 anggota DPRD Jatim dari F-KB dan F-PG.
"Melalui mekanisme internal dalam partai, kami akan mencari siapa 10 orang pembelot itu. Meskipun kami yakin fraksi kami solid, kami tetap melakukan investigasi. Kami sedang mengumpulkan fakta-fakta di lapangan," ujar Ketua F-KB DPRD Jatim Fathorrasjid.
Sebagai upaya mencari obat kekecewaan dan menyeka keterpukulan karena kalah dalam pemilihan, F-KB telah memeriksa 20 dari 33 anggota fraksinya. Dari pemeriksaan yang rencananya tuntas Senin ini, DPW PKB Jatim telah menemukan indikasi adanya pembelotan di antara anggotanya sendiri.
Golkar yang semula diposisikan sebagai satu-satunya tertuduh dalam pembelotan itu sedikit lega. Beban berkurang, meskipun upaya untuk menemukan anggotanya yang nyata-nyata telah membelot terus dilakukan. Menurut Ketua F-PG DPRD Jatim Edy Wahyudi, upaya mencari pembelot itu dilakukan Senin ini.
Dalam pembicaraan kedua partai yang berikrar berkoalisi ini, tiga nama pembelot dari partai berlambang beringin tua sudah dicatat. Tiga pembelot itu adalah mereka yang menolak dibaiat untuk hanya memilih pasangan Kahfi-Ridwan pada malam sebelum pemilihan.
Di PKB sendiri, mereka yang ditengarai membelot dari keputusan partai adalah yang lebih dekat dengan kiai dan mengadakan sejumlah pertemuan pribadi dengan Imam Utomo atau tim suksesnya. Jumlah yang membelot dari partai yang identik dengan Gus Dur ini belum dapat diketahui dengan pasti.
"Yang jelas, saya keberatan jika pembelot dari Partai Golkar hanya tiga sementara dari kami tujuh sisanya," ujar Anam.Untuk mengungkap siapa pembelot dalam pemilihan yang dilakukan tertutup itu, baik PKB maupun Golkar mengaku memiliki mekanisme untuk membongkar.
Masing-masing anggota telah diberi bekal mengenai bagaimana memberi tanda silang. "Saat penghitungan surat suara, ada tanda-tanda tertentu yang tidak muncul dari anggota kami. Itu salah satu cara kami mencari siapa pembelotnya," ujar Edy.
MENCARI dan kemudian menemukan penyebab dari perasaan kecewa dan terpukul karena kekalahan tragis memang diyakini dapat sedikit menyeka air mata duka. Tapi yang jelas ini merupakan pelajaran yang menarik untuk kubu Kahfi dan jangan sampai penelusuran para pembelot justru melanggar asas demokrasi.
Yang jelas proses berpolitik ini tidak hanya berhenti sampai di sini saja, pandangan perlu diarahkan ke depan. Dengan tatapan mata ke depan, tepat jika saat ini konsentrasi dicurahkan untuk menagih janji pasangan Imam-Soenarjo dan mengawasi kinerja kepemimpinannya.
Dalam visi dan misi yang disampaikan ke anggota DPRD Jatim, pasangan Imam-Soenarjo berikrar untuk melanjutkan arah kebijakan dan sembilan program prioritas termasuk lima proyek strategis yang bersifat pengungkit: Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu), Jalan Lintas Selatan Jatim, Pasar Induk Agrobisnis, Jalan Tol Surabaya- Mojokerto, dan Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan.
Janji konkret yang diucapkan Imam-Soenarjo adalah mewujudkan program wajib belajar sembilan tahun melalui minimalisasi biaya pendidikan bagi masyarakat miskin dan kurang mampu. Pasangan yang saat ini dibuai kemenangan pernah berjanji akan menghapuskan sumbangan pendukung pendidikan (SPP). Untuk ini, Imam-Soenarjo membutuhkan dana Rp 1,2 triliun yang didapat dari pusat dan seluruh kabupaten/kota.
Selain itu Imam-Soenarjo juga menebar janji untuk mengentaskan kemiskinan. Jika selama kepemimpinan mereka masyarakat Jatim yang kini berjumlah sekitar 36 juta jiwa bertambah miskin, janji manis mereka patut ditagih. Mereka juga berjanji untuk membuka lapangan kerja guna menyerap penganggur di Jatim yang berjumlah lebih dari satu juta penduduk usia produktif.
Masih banyak janji manis pasangan Imam-Soenarjo yang ketika didengarkan mampu membuai. Ke depan, dengan terlebih dahulu legowo menerima keterpilihan mereka, tepat kalau mulai sekarang janji manis mereka diinventarisir ulang.
Sebagai ungkapan pertangungjawaban kepada rakyat yang telah menyerahkan hak pilihnya kepada anggota DPRD Jatim, menagih janji manis pasangan Imam-Soenarjo adalah langkah ke depan yang harus segera disampaikan. Mudah-mudahan, janji manis pasangan Imam-Soenarjo masih tercatat oleh anggota DPRD Jatim untuk kemudian dapat ditagih realisasinya.
inu
gundul
SIAPA yang bergembira ketika Imam Utomo terpilih kembali sebagai Gubernur Jawa Timur pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur periode? Tentu mereka yang ditugasi untuk menggalang kekuatan selama ini, bahkan mereka mengaku sudah dua tahun lebih bekerja keras supaya Imam kembali duduk sebagai gubernur.
Mereka itu di antaranya adalah Achmad Rubaie dari Fraksi Gabungan yang merasa sukses membawa Imam kembali mempertahankan kursinya. Ketika usai rapat pemilihan ditutup sekitar pukul 12.00, Achmad Rubaie langsung duduk di hadapan sejumlah tim sukses pasangan Imam-Soenarjo untuk menggunduli rambut kepalanya.
"Niat untuk menggunduli rambut kepala saya sudah saya ikrarkan sejak satu minggu sebelum pemilihan. Penggundulan kepala ini adalah ungkapan kegembiraan dan syukur saya telah mampu mengantar pemimpin Jatim lima tahun mendatang," ujar Rubaie yang berasal dari PAN.
Begitu duduk secara bergiliran, anggota tim sukses Imam Utomo seperti Haruna Soemitro, Farid Alfauzi, Buchori (F-PDIP), Masjkur Hasjim (PPP) menggunting rambut hitam Rubaie.
Sementara di belakang mereka telah berdiri menunggu M Ayin (69), tukang cukur puluhan tahun di Jalan Sulawesi, Surabaya yang siap menjalankan tugas memangkas rambut Rubaie. Pengagum Amien Rais ini menanggalkan mahkota Rubaie dengan gunting dan pisau cukur hingga licin.
Setelah kepala Rubaie mengkilap, dengan senyum puas, pembelot keputusan DPW-PAN ini mengungkapkan, apa yang dilakukannya sudah diperhitungkan matang. "Istri dan anak saya tidak keberatan. Ini merupakan simbolisasi saya melepaskan keletihan dan kelelahan," ujarnya memberi makna.
Terkait dengan perbedaan sikapnya dengan keputusan PAN yang mendukung Kahfi-Ridwan, pengagum Amien Rais ini mengaku telah siap dan telah matang memperhitungkan seluruh resiko, termasuk dipecat. "Sikap politik saya jangan dibaca hitam-putih dan linier. Politik harus dibaca secara lain," paparnya mantap sambil menyeka keringat di batok kepalanya. \
MENYUSUL Rubaie yang telah kinclong kepalanya, Haruna lantas duduk di kursi cukur untuk menyerahkan mahkotanya yang berjambul putih untuk ditanggalkan. Tanpa ritual macam-macam, Ayin kemudian memangkas habis rambut kepala Haruna.
Tidak lebih dari 15 menit, rambut kepala Manajer Tim Persebaya ini tanggal. Senyum puas lalu menghiasi wajahnya yang dalam beberapa hari sebelum pemilihan terlihat berbeban berat.
Karena mereka berdua tidak menemukan Farid yang merupakan "trio kwek-kwek" di DPRD Jatim lantaran komentar-komentar mereka, Rubaie dan Haruna lantas menyeret Herly Sulistyo untuk digunduli. Anggota F-PDIP dari Ngawi ini lantas menurut saja karena tampaknya sedang kebingungan mencari ungkapan kegembiraan atas kemenangan besar partainya ini.
Penggundulan rambut kepala ini biasanya memang merupakan ungkapan penistaan karena sikap dan perilaku yang rendah. Karena itu, ketika misalnya seorang tersangka digerebek aparat keamanan, langkah pertama yang dilakukan adalah menggunduli rambut kepala tersangka.
Namun ketika dipadankan dengan pemaknaan umum, Rubaie tidak marah dan bahkan merasa bangga dengan kinclong-nya kepalanya sambil menjelaskan, "Bukan itu makna atau simbol yang terkandung dari penggundulan rambut kepala kami."
"Kami hanya ingin menandai momen bersejarah dalam hidup kami karena telah mengantar pasangan Imam-Soenarjo menjadi Pemimpin Jatim. Kami hanya ingin melepaskan kelelahan dan keletihan setelah sekitar dua tahun bekerja untuk kemenangan ini," papar Rubaie.
Apa pun makna dari penanggalan tiga mahkota wakil rakyat yang mengaku telah bekerja keras untuk Imam-Soenarjo, Herly yang dua bulan terakhir tidak bisa bertemu keluarganya di Ngawi karena dikarantina kebingungan. Masih dalam cengkeraman alat cukur, Herly berujar, "Seumur-umur, baru sekali saya gundul seperti ini. Saya khawatir, ketika pulang ke rumah, istri dan anak saya pangling."
UNGKAPAN perasaan gembira itu sebenarnya sudah tampak meluap pada saat awal ketika pasangan Imam Utomo dan Soenarjo memimpin perolehan suara. Tepuk tangan riuh dan teriakan tanda kepuasan mengiringi pencatatan perolehan suara bagi pasangan yang tidak berasal dari partai politik ini.
Sementara melaju dengan belasan suara dibanding pasangan lawan mereka yaitu Abdul Kahfi Bakri dan Ridwan Hisjam yang diajukan koalisi strategis F-KB dan F-PG yang baru mengumpulkan dua suara.
Tepuk tangan makin keras disertai teriakan mengiringi perolehan suara berikutnya. Kegembiraan dan luapan emosi yang campur aduk memuncak saat pasangan Imam-Soenarjo meraih 51 suara dari 100 suara anggota DPRD Jatim.
Jika semula hanya pendukung yang bersorak kegirangan, ketika mendapati 51 suara, Imam yang sebelumnya sempat ke toilet lantas mengambil sikap untuk berdoa dan bersyukur. Bersamaan dengan doa dan syukurnya itu, para pendukung dan anggota koalisi F-PDIP dan F-Gab lantas melonjak kegirangan.
Untuk beberapa anggota tim sukses Imam-Soenarjo yang merasa telah bekerja keras mengumpulkan dukungan sampai 63 suara, lonjakan kegirangan dirasa tidak cukup. Masih dalam suasana rapat yang dihadiri 100 anggota DPRD Jatim itu, Ali Mudji (F-PDIP) Haruna Soemitro (F-Gab) berangkulan. Tak kuasa menahan kegirangan, mereka menangis haru.
Sebaliknya kubu Kahfi-Ridwan yang hanya mampu mengumpulkan 34 suara terduduk diam. Pahit memang, tetapi mereka sportif, Kahfi dan Ridwan yang duduk bersebelahan dengan Imam dan Soenarjo berdiri menghampiri sang pemenang itu. Mereka bersalaman dan kemudian berangkulan. "Itulah kenyataannya. Sesuatu yang sangat tidak saya duga sebelumnya," ujar Kahfi dengan suara tertahan usai mendapati kekalahannya.
Banyak pelajaran yang diterima dari kubu Kahfi-Ridwan mereka hanya bisa bertanya-tanya, mengapa koalisi strategis yang direstui Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid dan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung itu bisa jebol dengan membelotnya 10 anggota F-KB dan F-PG? Mereka merasa sudah digunduli Imam Utomo dan untuk menjawab semua pertanyaan itu maka tiam F-KB dan F-PG sedang melakukan investigasi.
inu
Mereka itu di antaranya adalah Achmad Rubaie dari Fraksi Gabungan yang merasa sukses membawa Imam kembali mempertahankan kursinya. Ketika usai rapat pemilihan ditutup sekitar pukul 12.00, Achmad Rubaie langsung duduk di hadapan sejumlah tim sukses pasangan Imam-Soenarjo untuk menggunduli rambut kepalanya.
"Niat untuk menggunduli rambut kepala saya sudah saya ikrarkan sejak satu minggu sebelum pemilihan. Penggundulan kepala ini adalah ungkapan kegembiraan dan syukur saya telah mampu mengantar pemimpin Jatim lima tahun mendatang," ujar Rubaie yang berasal dari PAN.
Begitu duduk secara bergiliran, anggota tim sukses Imam Utomo seperti Haruna Soemitro, Farid Alfauzi, Buchori (F-PDIP), Masjkur Hasjim (PPP) menggunting rambut hitam Rubaie.
Sementara di belakang mereka telah berdiri menunggu M Ayin (69), tukang cukur puluhan tahun di Jalan Sulawesi, Surabaya yang siap menjalankan tugas memangkas rambut Rubaie. Pengagum Amien Rais ini menanggalkan mahkota Rubaie dengan gunting dan pisau cukur hingga licin.
Setelah kepala Rubaie mengkilap, dengan senyum puas, pembelot keputusan DPW-PAN ini mengungkapkan, apa yang dilakukannya sudah diperhitungkan matang. "Istri dan anak saya tidak keberatan. Ini merupakan simbolisasi saya melepaskan keletihan dan kelelahan," ujarnya memberi makna.
Terkait dengan perbedaan sikapnya dengan keputusan PAN yang mendukung Kahfi-Ridwan, pengagum Amien Rais ini mengaku telah siap dan telah matang memperhitungkan seluruh resiko, termasuk dipecat. "Sikap politik saya jangan dibaca hitam-putih dan linier. Politik harus dibaca secara lain," paparnya mantap sambil menyeka keringat di batok kepalanya. \
MENYUSUL Rubaie yang telah kinclong kepalanya, Haruna lantas duduk di kursi cukur untuk menyerahkan mahkotanya yang berjambul putih untuk ditanggalkan. Tanpa ritual macam-macam, Ayin kemudian memangkas habis rambut kepala Haruna.
Tidak lebih dari 15 menit, rambut kepala Manajer Tim Persebaya ini tanggal. Senyum puas lalu menghiasi wajahnya yang dalam beberapa hari sebelum pemilihan terlihat berbeban berat.
Karena mereka berdua tidak menemukan Farid yang merupakan "trio kwek-kwek" di DPRD Jatim lantaran komentar-komentar mereka, Rubaie dan Haruna lantas menyeret Herly Sulistyo untuk digunduli. Anggota F-PDIP dari Ngawi ini lantas menurut saja karena tampaknya sedang kebingungan mencari ungkapan kegembiraan atas kemenangan besar partainya ini.
Penggundulan rambut kepala ini biasanya memang merupakan ungkapan penistaan karena sikap dan perilaku yang rendah. Karena itu, ketika misalnya seorang tersangka digerebek aparat keamanan, langkah pertama yang dilakukan adalah menggunduli rambut kepala tersangka.
Namun ketika dipadankan dengan pemaknaan umum, Rubaie tidak marah dan bahkan merasa bangga dengan kinclong-nya kepalanya sambil menjelaskan, "Bukan itu makna atau simbol yang terkandung dari penggundulan rambut kepala kami."
"Kami hanya ingin menandai momen bersejarah dalam hidup kami karena telah mengantar pasangan Imam-Soenarjo menjadi Pemimpin Jatim. Kami hanya ingin melepaskan kelelahan dan keletihan setelah sekitar dua tahun bekerja untuk kemenangan ini," papar Rubaie.
Apa pun makna dari penanggalan tiga mahkota wakil rakyat yang mengaku telah bekerja keras untuk Imam-Soenarjo, Herly yang dua bulan terakhir tidak bisa bertemu keluarganya di Ngawi karena dikarantina kebingungan. Masih dalam cengkeraman alat cukur, Herly berujar, "Seumur-umur, baru sekali saya gundul seperti ini. Saya khawatir, ketika pulang ke rumah, istri dan anak saya pangling."
UNGKAPAN perasaan gembira itu sebenarnya sudah tampak meluap pada saat awal ketika pasangan Imam Utomo dan Soenarjo memimpin perolehan suara. Tepuk tangan riuh dan teriakan tanda kepuasan mengiringi pencatatan perolehan suara bagi pasangan yang tidak berasal dari partai politik ini.
Sementara melaju dengan belasan suara dibanding pasangan lawan mereka yaitu Abdul Kahfi Bakri dan Ridwan Hisjam yang diajukan koalisi strategis F-KB dan F-PG yang baru mengumpulkan dua suara.
Tepuk tangan makin keras disertai teriakan mengiringi perolehan suara berikutnya. Kegembiraan dan luapan emosi yang campur aduk memuncak saat pasangan Imam-Soenarjo meraih 51 suara dari 100 suara anggota DPRD Jatim.
Jika semula hanya pendukung yang bersorak kegirangan, ketika mendapati 51 suara, Imam yang sebelumnya sempat ke toilet lantas mengambil sikap untuk berdoa dan bersyukur. Bersamaan dengan doa dan syukurnya itu, para pendukung dan anggota koalisi F-PDIP dan F-Gab lantas melonjak kegirangan.
Untuk beberapa anggota tim sukses Imam-Soenarjo yang merasa telah bekerja keras mengumpulkan dukungan sampai 63 suara, lonjakan kegirangan dirasa tidak cukup. Masih dalam suasana rapat yang dihadiri 100 anggota DPRD Jatim itu, Ali Mudji (F-PDIP) Haruna Soemitro (F-Gab) berangkulan. Tak kuasa menahan kegirangan, mereka menangis haru.
Sebaliknya kubu Kahfi-Ridwan yang hanya mampu mengumpulkan 34 suara terduduk diam. Pahit memang, tetapi mereka sportif, Kahfi dan Ridwan yang duduk bersebelahan dengan Imam dan Soenarjo berdiri menghampiri sang pemenang itu. Mereka bersalaman dan kemudian berangkulan. "Itulah kenyataannya. Sesuatu yang sangat tidak saya duga sebelumnya," ujar Kahfi dengan suara tertahan usai mendapati kekalahannya.
Banyak pelajaran yang diterima dari kubu Kahfi-Ridwan mereka hanya bisa bertanya-tanya, mengapa koalisi strategis yang direstui Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid dan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung itu bisa jebol dengan membelotnya 10 anggota F-KB dan F-PG? Mereka merasa sudah digunduli Imam Utomo dan untuk menjawab semua pertanyaan itu maka tiam F-KB dan F-PG sedang melakukan investigasi.
inu
hitung suara
WAKTU penentuan hanya tinggal menunggu saat saja, namun justru dalam waktu yang sempit ini segala kemungkinan bisa terjadi. Bahkan tidak jarang terjadi keputusan-keputusan yang kontroversial, sehingga perolehan suara dari kedua kubu yang sudah dihitung secara matematis bisa terjungkir balik.
Layaknya sebuah puncak akumulasi usaha keras dan tidak kenal lelah, hari Kamis ini merupakan usaha final kedua pasangan calon gubernur-wakil, bagi 100 anggota DPRD Jatim, dan bagi sejumlah tim sukses baik formal dan informal untuk menghitung hasil perburuan suara. Drama menang dan kalah akan segera mewarnai rapat paripurna di Gedung DPRD Jatim, Surabaya.
Secara intensif perburuan suara di antara 100 anggota DPRD Jatim sudah dimulai sejak 28 Juni 2003 lalu. Pada saat itu secara definitif telah ditetapkan kedua bakal calon menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim 2003-2008.
Sejak itu banyak cara ditempuh untuk memburu suara oleh masing-masing kubu pasangan calon. Upaya itu menjadi sangat melelahkan lantaran hampir berimbangnya kekuatan pendukung masing-masing pasangan calon secara formal.
Secara matematis pasangan calon Imam-Soenarjo dibela oleh 46 anggota DPRD Jatim hasil koalisi taktis antara Fraksi Partai Indonesia Perjuangan (F-PDIP) dan Fraksi Gabungan (F-Gab). Sementara pasangan calon Kahfi-Ridwan dibela oleh 44 anggota DPRD Jatim hasil koalisi strategis antara Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) dan Fraksi Partai Golongan Karya (F-PG).
Dengan bantuan tim suksesnya masing-masing, mereka saling klaim perolehan dukungan yang lebih besar. Hasilnya digembar-gemborkan yang secara psikologis untuk memukul dan mengukur kekuatan lawan.
Dengan jaminan solidnya koalisi F-PDIP dan F-Gab, kubu Imam-Soenarjo mengklaim yakin memenangkan pemilihan gubernur. Apa yang ditempuh hari ini adalah memformalkan saja hasil pemilihan itu. Wakil Ketua F-Gab Farid Alfauzi kerap mengemukakan klaim-klaim yang menurutnya didasarkan kalkulasi matang dan terukur.
Di pihak lain yang tampak sejak awal hingga saat ini sangat percaya diri adalah Ketua F-PG Edy Wahyudi yang juga mengklaim bakal meraih kemenangan. öBoleh saja kami dianggap underdog, tetapi soliditas kami lebih teruji dibandingkan F-Gab yang merupakan gabungan delapan partai," tegasnya.
Menjelang hari H pemilihan, saling klaim melimpahnya dukungan untuk pasangan calon masing-masing kubu juga dikemukakan. Namun, di balik klaim-klaim melimpahnya dukungan itu masing-masing koalisi pendukung pasangan calon khawatir dan juga takut, hal ini diwujudkan dengan mengkarantina anggota fraksi.
"KAMI ingin tetap menjaga soliditas dan komitmen masing-masing anggota untuk mendukung pasangan kami. Apabila tidak dikarantina, godaan untuk membelot sangat besar. Tim sukses masing-masing tidak cukup hanya mengejar anggota DPRD Jatim. Mereka juga mengejar istri dan keluarga anggota DPRD Jatim," ujar anggota F-PDIP Ismail Saleh Mukadar.
Menjaga agar tidak diburu dan dikejar-kejar tim sukses, 46 anggota DPRD Jatim dari F-PDIP dan F-Gab dikarantina di Hotel JW Marriott, Surabaya. Keberadaan basis pendukung Imam-Soenarjo ini sangat dirahasiakan. Bahkan resepsionis hotel berbintang lima ini tidak tahu menahu keberadaan para anggota DPRD.
Termasuk puluhan satuan tugas partai berlambang banteng gemuk dalam lingkaran yang berjaga di hotel itu juga mengaku tidak tahu.
Meskipun begitu rahasia, menurut sejumlah anggota satgas dari DPC PDI-P Surabaya, staf pemerintah provinsi, dan staf DPRD Jatim yang mondar-mandir di lobi hotel itu, karantina terhadap 46 anggota F-PDIP dan F-Gab dilakukan di sejumlah kamar di lantai 12. "Ada ruangan besar untuk melakukan koordinasi,ö ujar salah satu dari mereka. Meskipun mengaku sudah ada janji akan bertemu, untuk menemui 46 anggota DPRD Jatim, staf pemerintah provinsi dan staf DPRD Jatim kesulitan untuk menemui mereka. Karena kesal, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan Hotel JW Marriott.
"Saya diminta mengantarkan undangan untuk acara pemilihan. Kalau tidak jelas begini, lebih baik saya pergi. Mereka yang butuh akan menghubungi saya," ujar salah satu dari mereka yang mengaku membawa undangan untuk tiga anggota DPRD Jatim yaitu Achmad Rubaie, Farid Alfauzi, dan Haruna Soemitro.
Kondisi yang kurang lebih serupa ditempuh koalisi F-KB dan F-KB yang memiliki 44 suara. Koalisi strategis yang disokong masing-KH Abdurrahman Wahid dan Akbar Tandjung ini melakukan karantina di Hotel Sommerset, Surabaya. Meskipun demikian, di hotel berbintang empat ini, penjagaan dan pengamanan tidak seketat yang dilakukan di Hotel JW Marriott.
"Bukan karantina, yang kami lakukan di Sommerset hanya untuk memudahkan koordinasi keberangaktan menuju Gedung DPRD Jatim,ö ujar Edy Wahyudi. Bentuk kendornya penjagaan dan pengamanan koalisi pendukung Kahfi-Ridwan ini adalah masih diperkenankannya anggota mengaktifkan telepon selularnya. Sementara untuk pendukung koalisi Imam-Soenarjo, telepon selular haram diaktifkan.
Sebuah upaya melindungi suara memang cukup merepotkan, politik uang nampaknya merupakan hal yang paling ditakutkan bakal bisa mempengaruhi anggota DPRD untuk membuat keputusan berbeda. Sepertinya memang tidak ada loyalitas dan kejujuran yang 100 persen untuk fraksinya, apalagi dalam situasi ekonomi sulit, kebutuhan ekonomi semakin tinggi, membuat orang menjadi semakin kreatif untuk mencari peluang.
Bisa jadi kurungan emas yang berhari-hari dilakukan tetap saja tidak ada artinya, jika materi masih menjadi kiblat utama para anggota DPRD.
inu
Layaknya sebuah puncak akumulasi usaha keras dan tidak kenal lelah, hari Kamis ini merupakan usaha final kedua pasangan calon gubernur-wakil, bagi 100 anggota DPRD Jatim, dan bagi sejumlah tim sukses baik formal dan informal untuk menghitung hasil perburuan suara. Drama menang dan kalah akan segera mewarnai rapat paripurna di Gedung DPRD Jatim, Surabaya.
Secara intensif perburuan suara di antara 100 anggota DPRD Jatim sudah dimulai sejak 28 Juni 2003 lalu. Pada saat itu secara definitif telah ditetapkan kedua bakal calon menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jatim 2003-2008.
Sejak itu banyak cara ditempuh untuk memburu suara oleh masing-masing kubu pasangan calon. Upaya itu menjadi sangat melelahkan lantaran hampir berimbangnya kekuatan pendukung masing-masing pasangan calon secara formal.
Secara matematis pasangan calon Imam-Soenarjo dibela oleh 46 anggota DPRD Jatim hasil koalisi taktis antara Fraksi Partai Indonesia Perjuangan (F-PDIP) dan Fraksi Gabungan (F-Gab). Sementara pasangan calon Kahfi-Ridwan dibela oleh 44 anggota DPRD Jatim hasil koalisi strategis antara Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) dan Fraksi Partai Golongan Karya (F-PG).
Dengan bantuan tim suksesnya masing-masing, mereka saling klaim perolehan dukungan yang lebih besar. Hasilnya digembar-gemborkan yang secara psikologis untuk memukul dan mengukur kekuatan lawan.
Dengan jaminan solidnya koalisi F-PDIP dan F-Gab, kubu Imam-Soenarjo mengklaim yakin memenangkan pemilihan gubernur. Apa yang ditempuh hari ini adalah memformalkan saja hasil pemilihan itu. Wakil Ketua F-Gab Farid Alfauzi kerap mengemukakan klaim-klaim yang menurutnya didasarkan kalkulasi matang dan terukur.
Di pihak lain yang tampak sejak awal hingga saat ini sangat percaya diri adalah Ketua F-PG Edy Wahyudi yang juga mengklaim bakal meraih kemenangan. öBoleh saja kami dianggap underdog, tetapi soliditas kami lebih teruji dibandingkan F-Gab yang merupakan gabungan delapan partai," tegasnya.
Menjelang hari H pemilihan, saling klaim melimpahnya dukungan untuk pasangan calon masing-masing kubu juga dikemukakan. Namun, di balik klaim-klaim melimpahnya dukungan itu masing-masing koalisi pendukung pasangan calon khawatir dan juga takut, hal ini diwujudkan dengan mengkarantina anggota fraksi.
"KAMI ingin tetap menjaga soliditas dan komitmen masing-masing anggota untuk mendukung pasangan kami. Apabila tidak dikarantina, godaan untuk membelot sangat besar. Tim sukses masing-masing tidak cukup hanya mengejar anggota DPRD Jatim. Mereka juga mengejar istri dan keluarga anggota DPRD Jatim," ujar anggota F-PDIP Ismail Saleh Mukadar.
Menjaga agar tidak diburu dan dikejar-kejar tim sukses, 46 anggota DPRD Jatim dari F-PDIP dan F-Gab dikarantina di Hotel JW Marriott, Surabaya. Keberadaan basis pendukung Imam-Soenarjo ini sangat dirahasiakan. Bahkan resepsionis hotel berbintang lima ini tidak tahu menahu keberadaan para anggota DPRD.
Termasuk puluhan satuan tugas partai berlambang banteng gemuk dalam lingkaran yang berjaga di hotel itu juga mengaku tidak tahu.
Meskipun begitu rahasia, menurut sejumlah anggota satgas dari DPC PDI-P Surabaya, staf pemerintah provinsi, dan staf DPRD Jatim yang mondar-mandir di lobi hotel itu, karantina terhadap 46 anggota F-PDIP dan F-Gab dilakukan di sejumlah kamar di lantai 12. "Ada ruangan besar untuk melakukan koordinasi,ö ujar salah satu dari mereka. Meskipun mengaku sudah ada janji akan bertemu, untuk menemui 46 anggota DPRD Jatim, staf pemerintah provinsi dan staf DPRD Jatim kesulitan untuk menemui mereka. Karena kesal, mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan Hotel JW Marriott.
"Saya diminta mengantarkan undangan untuk acara pemilihan. Kalau tidak jelas begini, lebih baik saya pergi. Mereka yang butuh akan menghubungi saya," ujar salah satu dari mereka yang mengaku membawa undangan untuk tiga anggota DPRD Jatim yaitu Achmad Rubaie, Farid Alfauzi, dan Haruna Soemitro.
Kondisi yang kurang lebih serupa ditempuh koalisi F-KB dan F-KB yang memiliki 44 suara. Koalisi strategis yang disokong masing-KH Abdurrahman Wahid dan Akbar Tandjung ini melakukan karantina di Hotel Sommerset, Surabaya. Meskipun demikian, di hotel berbintang empat ini, penjagaan dan pengamanan tidak seketat yang dilakukan di Hotel JW Marriott.
"Bukan karantina, yang kami lakukan di Sommerset hanya untuk memudahkan koordinasi keberangaktan menuju Gedung DPRD Jatim,ö ujar Edy Wahyudi. Bentuk kendornya penjagaan dan pengamanan koalisi pendukung Kahfi-Ridwan ini adalah masih diperkenankannya anggota mengaktifkan telepon selularnya. Sementara untuk pendukung koalisi Imam-Soenarjo, telepon selular haram diaktifkan.
Sebuah upaya melindungi suara memang cukup merepotkan, politik uang nampaknya merupakan hal yang paling ditakutkan bakal bisa mempengaruhi anggota DPRD untuk membuat keputusan berbeda. Sepertinya memang tidak ada loyalitas dan kejujuran yang 100 persen untuk fraksinya, apalagi dalam situasi ekonomi sulit, kebutuhan ekonomi semakin tinggi, membuat orang menjadi semakin kreatif untuk mencari peluang.
Bisa jadi kurungan emas yang berhari-hari dilakukan tetap saja tidak ada artinya, jika materi masih menjadi kiblat utama para anggota DPRD.
inu
karantina
DALAM pemilihan gubernur Jatim dan wakilnya belakangan ini sering disebut-sebut singkatan tiga K, karantina, kontemplasi, dan koordinasi. Tiga K ini sering disebut-sebut terkait dengan upaya masing-masing kubu pendukung pasangan calon meraih kemenangan dalam pemilihan 17 Juli 2003.
DENGAN tiga K, baik dari PDI-P maupun PKB hampir tidak memberi kesempatan bagi anggota kubu yang berseberangan itu untuk bertemu. Karena itu ketika pelaksanaan gladi bersih pemilihan di Gedung DPRD Jatim, Selasa pagi, kemarin memberikan peluang pertemuan dua kubu sebagai ajang kangen-kangenan.
Kubu yang saling berseberangan itu adalah pendukung pasangan Imam Utomo-Soenarjo yang dibela habis-habisan oleh koalisi F-PDIP dan F-Gab dengan pasangan Abdul Kahfi-Ridwan Hisjam yang diunggulkan koalisi F-KB dan F-PG.
Dua kubu yang saling mengisolasi diri ini seperti bertemu teman lama saat bersama-sama datang ke Gedung DPRD Jatim untuk menghadiri gladi bersih. Ketua F-KB Fathorrasjid dengan senyum lebar menghampiri dan menyalami anggota F-PDIP yang seperti lama sekali tidak dijumpainya. Kelakar di antara mereka lantas mengiringi langkah mereka masuk ruang rapat paripurna yang akan menjadi saksi pemilihan hari Kamis.
Dalam kesempatan melepas kerinduan itu juga terlontar saling sindir mengomentari kebijakan fraksi masing-masing, termasuk upaya tim sukses memenangkan pasangan calonnya. Ketegangan pikiran menjelang hari H pemilihan lantaran ditunggangi beban berat dari pasangan calon nampak sejenak sirna.
Memang hanya sejenak, karena setelah itu masing-masing kubu pendukung pasangan calon kembali dengan ritual mereka masing-masing untuk mempertahankan suara mereka. Anggota F-PDIP DPRD Jatim misalnya, harus segera naik bus untuk kembali ke Hotel JW Marriot, di Jalan Embong Malang, Surabaya.
"BUKAN karantina, tapi itu upaya kami berkumpul di suatu tempat. Kami berkumpul di suatu tempat yang juga berpindah-pindah untuk koordinasi menghadapi gawe besar pemilihan gubernur," ujar Sekretaris F-PDIP DPRD Jatim Ali Mudji mencoba meluruskan pandangan tentang apa yang dilakukan fraksinya.
"Tidak ada kekhawatiran dan ketakutan dari koalisi kami untuk menghadapi pemilihan. Pertimbangan kami yang paling utama adalah untuk memudahkan koordinasi dan memastikan kehadiran dalam rapat paripurna pemilihan. Kami berjaga-jaga jangan sampai ada anggota kami yang diganggu atau distop di jalan saat ke Gedung DPRD Jatim," ujar Ali Mudji, salah satu motor penggerak F-PDIP.
Menjaga koordinasi dan menghindarkan anggota koalisi F-PDIP dan F-Gab jatuh ke dalam rayuan kubu lawan ini dibenarkan anggota F-PDIP Ismail Saleh Mukadar, salah satu benteng pertahanan pasangan Imam-Soenarjo. "Kami semua akan terus bersama-sama sampai hari H pemilihan untuk menjaga soliditas," ujarnya.
Karantina yang kemudian disebut koordinasi ini dilakukan sejak 31 anggota F-PDIP bertemu dan bersalaman dengan Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri di Hotel Shangri-La, Surabaya, Senin lalu. Kemantapan hasil pertemuan dan salaman dengan Megawati ini dijaga dan dipelihara terus hingga hari pemilihan.
Menjaga kemantapan ini, saat datang ke Gedung DPRD Jatim untuk gladi bersih, 31 anggota F-PDIP diantar bus pariwisata. Seperti saat berangkat, ketika pulang pun, anggota fraksi ini berombongan pulang dengan bus. Untuk yang tertinggal karena mengurusi masalah lain, mereka tetap bersama-sama pulang dengan mobil salah satu anggota atau dengan taksi. Ini pemadangan dan menakjubkan yang tidak pernah terjadi sebelumnya di antara anggota DPRD Jatim.
"Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat Jatim dan konstituen kami bahwa kami rukun dan mampu bersatu," papar Ali Mudji yang pulang terakhir karena harus merancang jawaban gugatan judicial review Paguyuban Peduli Rakyat (paper) Pasuruan ke Mahkamah Agung.
F-KB yang berkoalisi dengan F-PG juga lebih memilih kata kontemplasi untuk menghindari kata karantina menjelang pemilihan. Kontemplasi berarti merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.
"Selain untuk soliditas dukungan suara kepada pasangan yang kami dukung, kontemplasi kami lakukan sekaligus untuk merenung apa saja yang telah kami buat untuk rakyat selama kami menjadi wakil mereka," ungkap Fathorrasjid.
Kontemplasi fraksi yang mengklaim menjadi representasi Nahdlatul Ulama ini dilakukan di apartemen. Mereka tinggal di Apartemen Paragon di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya dan di apartemen ini digagas juga strategi pasangan Kahfi-Ridwan meraup dukungan suara.
Tidak seperti F-PDIP dan F-KB yang upaya koordinasi atau kontemplasinya mudah diketahui, untuk fraksi pendamping kekuatan F-PDIP maupun F-KB, upaya mereka menyolidkan dukungan suara anggotanya kepada pasangan calon sulit ditebak.
F-Gab menurut Ali Mudji melakukan koordinasi terpisah dengan F-PDIP yang saat ini berkonsentrasi di Hotel JW Marriot. Namun demikian, untuk koordinasi, pertemuan dua fraksi yang unggul secara matematis ini kerap juga dilakukan.
F-PG yang berjumlah 11 anggota dan merupakan pemain lama di era Orde Baru terang-terangan mengaku tidak melakukan karantina, kontemplasi, atau koordinasi. "Kami hanya menetapkan akan berkumpul pada hari H untuk berangkat bersama-sama ke Gedung DPRD Jatim," ujar Ketua F-PG DPRD Jatim Edy Wahyudi.
Dengan demikian sekalipun mereka sudah berikrar untuk berkoalisi, masih ada terbuka peluang lain yang sulit ditebak. Tidak hanya F-PG yang tidak mengisolasikan anggota fraksinya, demikian pula dengan F-Gab masih menyimpan banyak misteri, karena di dalamnya ada anggota fraksi yang berasal dari Partai Amanat Nasional. Selain belum menghitung kekuatan Fraksi TNI/Polri yang belum jelas ke mana arah komando terhadap mereka?
inu
DENGAN tiga K, baik dari PDI-P maupun PKB hampir tidak memberi kesempatan bagi anggota kubu yang berseberangan itu untuk bertemu. Karena itu ketika pelaksanaan gladi bersih pemilihan di Gedung DPRD Jatim, Selasa pagi, kemarin memberikan peluang pertemuan dua kubu sebagai ajang kangen-kangenan.
Kubu yang saling berseberangan itu adalah pendukung pasangan Imam Utomo-Soenarjo yang dibela habis-habisan oleh koalisi F-PDIP dan F-Gab dengan pasangan Abdul Kahfi-Ridwan Hisjam yang diunggulkan koalisi F-KB dan F-PG.
Dua kubu yang saling mengisolasi diri ini seperti bertemu teman lama saat bersama-sama datang ke Gedung DPRD Jatim untuk menghadiri gladi bersih. Ketua F-KB Fathorrasjid dengan senyum lebar menghampiri dan menyalami anggota F-PDIP yang seperti lama sekali tidak dijumpainya. Kelakar di antara mereka lantas mengiringi langkah mereka masuk ruang rapat paripurna yang akan menjadi saksi pemilihan hari Kamis.
Dalam kesempatan melepas kerinduan itu juga terlontar saling sindir mengomentari kebijakan fraksi masing-masing, termasuk upaya tim sukses memenangkan pasangan calonnya. Ketegangan pikiran menjelang hari H pemilihan lantaran ditunggangi beban berat dari pasangan calon nampak sejenak sirna.
Memang hanya sejenak, karena setelah itu masing-masing kubu pendukung pasangan calon kembali dengan ritual mereka masing-masing untuk mempertahankan suara mereka. Anggota F-PDIP DPRD Jatim misalnya, harus segera naik bus untuk kembali ke Hotel JW Marriot, di Jalan Embong Malang, Surabaya.
"BUKAN karantina, tapi itu upaya kami berkumpul di suatu tempat. Kami berkumpul di suatu tempat yang juga berpindah-pindah untuk koordinasi menghadapi gawe besar pemilihan gubernur," ujar Sekretaris F-PDIP DPRD Jatim Ali Mudji mencoba meluruskan pandangan tentang apa yang dilakukan fraksinya.
"Tidak ada kekhawatiran dan ketakutan dari koalisi kami untuk menghadapi pemilihan. Pertimbangan kami yang paling utama adalah untuk memudahkan koordinasi dan memastikan kehadiran dalam rapat paripurna pemilihan. Kami berjaga-jaga jangan sampai ada anggota kami yang diganggu atau distop di jalan saat ke Gedung DPRD Jatim," ujar Ali Mudji, salah satu motor penggerak F-PDIP.
Menjaga koordinasi dan menghindarkan anggota koalisi F-PDIP dan F-Gab jatuh ke dalam rayuan kubu lawan ini dibenarkan anggota F-PDIP Ismail Saleh Mukadar, salah satu benteng pertahanan pasangan Imam-Soenarjo. "Kami semua akan terus bersama-sama sampai hari H pemilihan untuk menjaga soliditas," ujarnya.
Karantina yang kemudian disebut koordinasi ini dilakukan sejak 31 anggota F-PDIP bertemu dan bersalaman dengan Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri di Hotel Shangri-La, Surabaya, Senin lalu. Kemantapan hasil pertemuan dan salaman dengan Megawati ini dijaga dan dipelihara terus hingga hari pemilihan.
Menjaga kemantapan ini, saat datang ke Gedung DPRD Jatim untuk gladi bersih, 31 anggota F-PDIP diantar bus pariwisata. Seperti saat berangkat, ketika pulang pun, anggota fraksi ini berombongan pulang dengan bus. Untuk yang tertinggal karena mengurusi masalah lain, mereka tetap bersama-sama pulang dengan mobil salah satu anggota atau dengan taksi. Ini pemadangan dan menakjubkan yang tidak pernah terjadi sebelumnya di antara anggota DPRD Jatim.
"Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat Jatim dan konstituen kami bahwa kami rukun dan mampu bersatu," papar Ali Mudji yang pulang terakhir karena harus merancang jawaban gugatan judicial review Paguyuban Peduli Rakyat (paper) Pasuruan ke Mahkamah Agung.
F-KB yang berkoalisi dengan F-PG juga lebih memilih kata kontemplasi untuk menghindari kata karantina menjelang pemilihan. Kontemplasi berarti merenung dan berpikir dengan sepenuh perhatian.
"Selain untuk soliditas dukungan suara kepada pasangan yang kami dukung, kontemplasi kami lakukan sekaligus untuk merenung apa saja yang telah kami buat untuk rakyat selama kami menjadi wakil mereka," ungkap Fathorrasjid.
Kontemplasi fraksi yang mengklaim menjadi representasi Nahdlatul Ulama ini dilakukan di apartemen. Mereka tinggal di Apartemen Paragon di Jalan Mayjen Sungkono, Surabaya dan di apartemen ini digagas juga strategi pasangan Kahfi-Ridwan meraup dukungan suara.
Tidak seperti F-PDIP dan F-KB yang upaya koordinasi atau kontemplasinya mudah diketahui, untuk fraksi pendamping kekuatan F-PDIP maupun F-KB, upaya mereka menyolidkan dukungan suara anggotanya kepada pasangan calon sulit ditebak.
F-Gab menurut Ali Mudji melakukan koordinasi terpisah dengan F-PDIP yang saat ini berkonsentrasi di Hotel JW Marriot. Namun demikian, untuk koordinasi, pertemuan dua fraksi yang unggul secara matematis ini kerap juga dilakukan.
F-PG yang berjumlah 11 anggota dan merupakan pemain lama di era Orde Baru terang-terangan mengaku tidak melakukan karantina, kontemplasi, atau koordinasi. "Kami hanya menetapkan akan berkumpul pada hari H untuk berangkat bersama-sama ke Gedung DPRD Jatim," ujar Ketua F-PG DPRD Jatim Edy Wahyudi.
Dengan demikian sekalipun mereka sudah berikrar untuk berkoalisi, masih ada terbuka peluang lain yang sulit ditebak. Tidak hanya F-PG yang tidak mengisolasikan anggota fraksinya, demikian pula dengan F-Gab masih menyimpan banyak misteri, karena di dalamnya ada anggota fraksi yang berasal dari Partai Amanat Nasional. Selain belum menghitung kekuatan Fraksi TNI/Polri yang belum jelas ke mana arah komando terhadap mereka?
inu
pkb-golkar
SIAPA menyangka kalau kecaman terhadap Orde Baru sepertinya hanya angin lalu saja. Ketika kesamaan pandang bertemu, maka persoalan permusuhan bisa berubah 180 derajat, kesan adanya musuh bebuyutan beberapa tahun lalu itu sepertinya juga tidak pernah ada.
SEPERTI yang terjadi pada Partai Kebangkitan Bangsa yang lahir pada masa reformasi sekarang berangkulan mesra dengan Partai Golongan Karya. Apakah koalisi ini hanya demi memuluskan cita-cita pasangan gubernur dan wakil gubernur dalam pemilihan 17 Juli mendatang, tidak pernah ada yang bisa membaca.
Bagaimanapun masih belum hilang dari ingatan, bagaimana Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid ketika masih menjabat Presiden RI ke-4 dilengserkan DPR-RI pimpinan Akbar Tandjung yang juga Ketua Umum Partai Golkar tahun 2000. Kekecewaan ini "berbuntut" pada pembakaran Kantor DPD Partai Golkar di Jalan A Yani, Surabaya, yang katanya dilakukan oleh massa PKB.
"Politik itu pertama-tama mengedepankan kepentingan. Karena itu kita juga selalu berubah sesuai dengan kepentingan yang akan kita capai," ujar Ketua F-PG DPRD Jatim Edy Wahyudi saat diminta komentarnya melalui telepon perihal bersatunya PKB dan Golkar pekan lalu.
Edy yang menjadi salah satu motor berpasangannya Abdul Kahfi dari PKB dengan Ridwan Hisjam dari Golkar menyangkal kalau apa yang dilakukan dua partai berbasis nasionalis dan religius itu adalah kepentingan sesaat. Pendapat senada dikemukakan juga Ketua F-KB DPRD Jatim yang juga Wakil Ketua DPW PKB Jatim Fathorrasjid. "Ini koalisi kelembagaan bersifat strategis karena kesamaan visi dan platform untuk membangun Jatim dan membangun bangsa lewat kesempatan terakhir yang dimiliki yaitu melalui Pemilu 2004," paparnya.
Pertanyaan serupa juga muncul di benak sejumlah warga Jatim ketika mendapati koalisi antara F-PDIP dengan F-Gab yang berasal dari delapan partai. Sulit memahami bagaimana PDI-P yang berbasis nasionalis berkoalisi dengan delapan partai yan memiliki basis beragam seperti agama dan pluralisme.
Tetapi itulah yang terjadi di Jatim. Kepentingan entah yang disebut sebagai kepentingan strategis, taktis, atau apa pun namanya, yang jelas kepentinganlah yang mengemuka. Kepentingan yang arahnya pada kekuasaan yang erat terkait dengan perolehan kertas suara pada Pemilu 2004.
YANG menarik dari perkembangan berikutnya adalah adanya rencana bergabungnya Partai Amanat Nasional dalam koalisi ini. Dalam tataran elite partai tingkat pusat, koalisi tiga partai yang ketika era reformasi saling menghujat ini sudah digagas lewat sejumlah pertemuan.
Di tingkat provinsi koalisi kelembagaan tiga partai ini juga sudah digagas dalam rangkaian upaya memenangkan pasangan Kahfi-Ridwan. Nampaknya baik Amien Rais, Abdurrahman Wahid maupun Akbar Tandjung sudah saling berkomunikasi, sekalipun tanpa harus melakukan pertemuan fisik bersama.
"Pertemuan tiga petinggi partai ini semula memang direncanakan dihadiri seluruh anggota F-PG dan F-KB DPRD Jatim yang jumlahnya 44 orang. Sudah ada konfirmasi kehadiran ketiga petinggi partai masing-masing," ujar Edy sebelum rencana pertemuan Senin malam dilaksanakan.
Klaim Edy diperkuat Fathorrasjid yang mengatakan sudah muncul pembicaraan di tingkat petinggi partai masing-masing. "Di antara para petinggi partai telah ada kesepakatan soal Jatim ke depan yang membutuhkan perubahan. Perubahan signifikan dapat terjadi jika ada perubahan kepemimpinan. Kesamaan visi dan platform di Jatim inilah yang menyatukan kami," ujarnya.
Fathorrasjid tidak menampik masih ada luka reformasi yang didera oleh masing-masing dari ketiga partai ini. Di tingkat massa PKB misalnya, luka lama kepada sosok Amien Rais yang menjadi motor pelengseran Gus Dur sulit dilupakan. Di tingkat massa Golkar juga masih menganga ingatan akan hujatan PKB dan PAN saat Pemilu 1999. Tetapi, semua luka yang menganga itu dilihat hanya sebagai seonggok masa lalu.
"Upaya yang kami bangun ini adalah sebuah langkah untuk melakukan rekonsiliasi. Kepentingan kita tidak hanya Jatim yang sesat, tetapi juga nasional yang lebih luas," ujar Fathorrasjid.
YANG menarik dari semua rencana penggalangan kekuatan itu sebenarnya adalah sosok Kahfi sendiri yang memiliki sisi-sisi yang aneh dan nampaknya ini yang diharapkan untuk bisa mengganjal perjalanan Imam Utomo. Gus Dur nampaknya sudah sangat kecewa dengan calon yang juga Gubernur Jatim itu menyusul beberapa kejadian sebelumnya, sehingga ia membutuhkan Kahfi untuk menghambatnya.
Bahkan menghadapi Imam sepertinya Gus Dur tidak mau main-main dan bahkan tidak ada kader PKB yang bisa ia percaya untuk menghadapi Imam. Sebagai calon gubernur Kahfi memang memiliki latar belakang yang cukup lengkap. Selain berlatar belakang militer, sama seperti Imam, ia juga mantan Wakil Gubernur DKI dan Wali Kota Jakarta Pusat yang diharapkan memiliki pengaruh di pemerintahan pusat.
Selain itu Kahfi juga putra asli Banyuwangi yang masih fasih bertutur Osing dan selama ini juga banyak mempromosikan kebudayaan Banyuwangi. Yang aneh lagi, Kahfi juga diisyukan memiliki "warna" Muhammadiyah dan hal terakhir ini bisa menguntungkan untuk mendekati kelompok PAN.
Sepertinya Kahfi bisa menjadi sarana pemersatu bagi tiga kelompok besar di Jatim dan bahkan ini bisa menjadi embrio bagi koalisi secara nasional. Tentu hal ini cukup menggentarkan upaya PDI-P yang berada di belakang Imam Utomo, selain juga bisa menjadi ancaman secara nasional.
Penggalangan kekuatan ini tidak urung membuat Wakil Ketua F-Gab DPRD Jatim Tamat Ansory Ismail mengeluh. Semua energi anggota DPRD Jatim seolah-olah dicurahkan hanya untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jatim saja. "Tidak ada komitmen anggota dewan kepada kepentingan rakyat banyak yang harus didengar aspirasinya," ujarnya. Sepertinya Pilgub Jatim menjadi sarana pemanasan bagi Pemilu 2004 mendatang.
inu
SEPERTI yang terjadi pada Partai Kebangkitan Bangsa yang lahir pada masa reformasi sekarang berangkulan mesra dengan Partai Golongan Karya. Apakah koalisi ini hanya demi memuluskan cita-cita pasangan gubernur dan wakil gubernur dalam pemilihan 17 Juli mendatang, tidak pernah ada yang bisa membaca.
Bagaimanapun masih belum hilang dari ingatan, bagaimana Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid ketika masih menjabat Presiden RI ke-4 dilengserkan DPR-RI pimpinan Akbar Tandjung yang juga Ketua Umum Partai Golkar tahun 2000. Kekecewaan ini "berbuntut" pada pembakaran Kantor DPD Partai Golkar di Jalan A Yani, Surabaya, yang katanya dilakukan oleh massa PKB.
"Politik itu pertama-tama mengedepankan kepentingan. Karena itu kita juga selalu berubah sesuai dengan kepentingan yang akan kita capai," ujar Ketua F-PG DPRD Jatim Edy Wahyudi saat diminta komentarnya melalui telepon perihal bersatunya PKB dan Golkar pekan lalu.
Edy yang menjadi salah satu motor berpasangannya Abdul Kahfi dari PKB dengan Ridwan Hisjam dari Golkar menyangkal kalau apa yang dilakukan dua partai berbasis nasionalis dan religius itu adalah kepentingan sesaat. Pendapat senada dikemukakan juga Ketua F-KB DPRD Jatim yang juga Wakil Ketua DPW PKB Jatim Fathorrasjid. "Ini koalisi kelembagaan bersifat strategis karena kesamaan visi dan platform untuk membangun Jatim dan membangun bangsa lewat kesempatan terakhir yang dimiliki yaitu melalui Pemilu 2004," paparnya.
Pertanyaan serupa juga muncul di benak sejumlah warga Jatim ketika mendapati koalisi antara F-PDIP dengan F-Gab yang berasal dari delapan partai. Sulit memahami bagaimana PDI-P yang berbasis nasionalis berkoalisi dengan delapan partai yan memiliki basis beragam seperti agama dan pluralisme.
Tetapi itulah yang terjadi di Jatim. Kepentingan entah yang disebut sebagai kepentingan strategis, taktis, atau apa pun namanya, yang jelas kepentinganlah yang mengemuka. Kepentingan yang arahnya pada kekuasaan yang erat terkait dengan perolehan kertas suara pada Pemilu 2004.
YANG menarik dari perkembangan berikutnya adalah adanya rencana bergabungnya Partai Amanat Nasional dalam koalisi ini. Dalam tataran elite partai tingkat pusat, koalisi tiga partai yang ketika era reformasi saling menghujat ini sudah digagas lewat sejumlah pertemuan.
Di tingkat provinsi koalisi kelembagaan tiga partai ini juga sudah digagas dalam rangkaian upaya memenangkan pasangan Kahfi-Ridwan. Nampaknya baik Amien Rais, Abdurrahman Wahid maupun Akbar Tandjung sudah saling berkomunikasi, sekalipun tanpa harus melakukan pertemuan fisik bersama.
"Pertemuan tiga petinggi partai ini semula memang direncanakan dihadiri seluruh anggota F-PG dan F-KB DPRD Jatim yang jumlahnya 44 orang. Sudah ada konfirmasi kehadiran ketiga petinggi partai masing-masing," ujar Edy sebelum rencana pertemuan Senin malam dilaksanakan.
Klaim Edy diperkuat Fathorrasjid yang mengatakan sudah muncul pembicaraan di tingkat petinggi partai masing-masing. "Di antara para petinggi partai telah ada kesepakatan soal Jatim ke depan yang membutuhkan perubahan. Perubahan signifikan dapat terjadi jika ada perubahan kepemimpinan. Kesamaan visi dan platform di Jatim inilah yang menyatukan kami," ujarnya.
Fathorrasjid tidak menampik masih ada luka reformasi yang didera oleh masing-masing dari ketiga partai ini. Di tingkat massa PKB misalnya, luka lama kepada sosok Amien Rais yang menjadi motor pelengseran Gus Dur sulit dilupakan. Di tingkat massa Golkar juga masih menganga ingatan akan hujatan PKB dan PAN saat Pemilu 1999. Tetapi, semua luka yang menganga itu dilihat hanya sebagai seonggok masa lalu.
"Upaya yang kami bangun ini adalah sebuah langkah untuk melakukan rekonsiliasi. Kepentingan kita tidak hanya Jatim yang sesat, tetapi juga nasional yang lebih luas," ujar Fathorrasjid.
YANG menarik dari semua rencana penggalangan kekuatan itu sebenarnya adalah sosok Kahfi sendiri yang memiliki sisi-sisi yang aneh dan nampaknya ini yang diharapkan untuk bisa mengganjal perjalanan Imam Utomo. Gus Dur nampaknya sudah sangat kecewa dengan calon yang juga Gubernur Jatim itu menyusul beberapa kejadian sebelumnya, sehingga ia membutuhkan Kahfi untuk menghambatnya.
Bahkan menghadapi Imam sepertinya Gus Dur tidak mau main-main dan bahkan tidak ada kader PKB yang bisa ia percaya untuk menghadapi Imam. Sebagai calon gubernur Kahfi memang memiliki latar belakang yang cukup lengkap. Selain berlatar belakang militer, sama seperti Imam, ia juga mantan Wakil Gubernur DKI dan Wali Kota Jakarta Pusat yang diharapkan memiliki pengaruh di pemerintahan pusat.
Selain itu Kahfi juga putra asli Banyuwangi yang masih fasih bertutur Osing dan selama ini juga banyak mempromosikan kebudayaan Banyuwangi. Yang aneh lagi, Kahfi juga diisyukan memiliki "warna" Muhammadiyah dan hal terakhir ini bisa menguntungkan untuk mendekati kelompok PAN.
Sepertinya Kahfi bisa menjadi sarana pemersatu bagi tiga kelompok besar di Jatim dan bahkan ini bisa menjadi embrio bagi koalisi secara nasional. Tentu hal ini cukup menggentarkan upaya PDI-P yang berada di belakang Imam Utomo, selain juga bisa menjadi ancaman secara nasional.
Penggalangan kekuatan ini tidak urung membuat Wakil Ketua F-Gab DPRD Jatim Tamat Ansory Ismail mengeluh. Semua energi anggota DPRD Jatim seolah-olah dicurahkan hanya untuk pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jatim saja. "Tidak ada komitmen anggota dewan kepada kepentingan rakyat banyak yang harus didengar aspirasinya," ujarnya. Sepertinya Pilgub Jatim menjadi sarana pemanasan bagi Pemilu 2004 mendatang.
inu
Subscribe to:
Posts (Atom)
